Jerat Hasrat Sang Calon Duda

Jerat Hasrat Sang Calon Duda
Bab.135


__ADS_3

Setelah selesai sarapan Viona dan Abian bersiap-siap untuk berangkat ke kantor. jika di hari biasanya Viona biasa membawa mobil sendiri namun kali ini entah mengapa ia ingin diantar oleh suaminya.


"Yakin tidak mau pakai mobil sendiri?" tanya Abian untuk memperjelas.


"Iya yakin, gara-gara makan strawbery tadi perut ku jadi sakit. Aku tidak bisa konsentrasi menyetir," jawab Viona lalu melangkah masuk kedalam mobil sang suami.


Tak ingin terus larut dalam pikirannya sendiri Abian pun segera menyusul masuk ke dalam mobil karena sebenarnya ia sudah terlambat untuk datang ke kantor. Untung saja rapat pagi ini ditunda karena tidak adanya Alvino.


Sepanjang perjalanan Viona lebih banyak diam, tidak seceria biasanya. jika menelisik dari kejadian tadi pagi sepertinya Viona kembali memikirkan ucapan Sabrina beberapa hari yang lalu kepadanya.


Jika kemarin ia masih menganggap Sabrina adalah sesuatu yang tidak perlu untuk ditanggapi tetapi kali ini Ia berpikir berbeda. kalau terus begini rumah tanggaku bisa saja kacau, tapi apa yang harus aku lakukan pocong nungging itu benar-benar meresahkan, batin Viona.


"Yona, kamu kenapa diam saja, tidak enak badan?"


Viona menoleh menatap sang suami yang sedang fokus menyetir di samping. "Bi, bagaimana kalau kita pindah saja. Mau ke luar negeri ataupun ke planet lain asalkan jauh dari wanita itu."


sontak Abian langsung terkekeh sendiri ketika mendengar penuturan Viona kepadanya. "Planet lain, maksud kamu bulan?" perlahan tangannya bergerak menggenggam tangan sang istri dengan erat. "Aku mengerti kegelisahan kamu tentang Sabrina tapi, bukan kali ini saja kita menghadapinya bersama kan. Dulu waktu SMA kamu selalu melindungiku dari kejarannya, jangan terlalu khawatir, aku berjanji sebisa mungkin akan menghindarinya meskipun kami sedang terlibat kerjasama."


Viona sejak tadi serius menyimak ucapan sang suami kini mendadak lemas ia menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi seraya menatap nanar ke arah jendela. "andai aku punya kekuatan magic Aku ingin mengirim dia ke kutub Utara. Biar beku jadi es lilin sekalian."


"Haha, sadis sekali istri ku ini, kamu kenapa sudah mulai bucin sama aku ya?"


Menoleh ke arah sang suami dengan tatapan tajam. "Tidak, aku hanya bertindak sebagai seorang istri yang memperjuangkan haknya. Jangan lupa nanti jam makan siang datang ke kantorku, dan setelah nanti kamu sampai di perusahaan jangan lupa kabari aku melalui video call."


Tuhkan mulai posesif tapi tidak mau ngaku, batin Abian seraya tersenyum-senyum sendiri.


......................


sudah dua hari Alvino dan Aliya berada di Swiss. mereka benar-benar memanfaatkan momen liburan sebaik mungkin ditambah kehadiran Naya yang menjadi pelengkap kebahagiaan mereka.


"Mama Aliya, kalau babynya sudah lahir, masih sayang tidak sama Naya?" Pertanyaan itu terlontar begitu saja ketika mereka sedang makan siang di salah satu restoran ternama di kota tersebut.

__ADS_1


Sejenak Aliya terdiam seraya menatap ke arah Alvino yang juga menetap ke arahnya. Ia tidak mengerti apa yang dipikirkan oleh Naya sampai mempertanyakan hal seperti itu. Karena pada dasarnya Anak seumuran itu masihlah amat polos namun nyatanya Naya sangat peka dengan hal-hal yang begitu sensitif.


Aliya kembali menoleh ke arah Naya, Serayu tersenyum dan menepuk-nepuk pelan kepala gadis kecil itu. "Sayang, apapun keadaannya kasih sayang mama dan Daddy tidak akan pernah berubah. Jangan memikirkan hal itu lagi ya meskipun kita berjauhan tapi mama dan Daddy akan berusaha semaksimal mungkin berkomunikasi dengan Naya."


"Naya kenapa bertanya seperti itu?" tanya Alvino tiba-tiba.


Naya mulai tertunduk ketika mendengar pertanyaan dari Alvino. "Tidak kenapa-napa Naya hanya takut kehilangan kalian saja. Naya senang sekali bertemu Daddy dan mama Aliya lagi, sampai rasanya tidak ingin berpisah. Waktu itu Naya ikut ke sini karena khawatir dengan kondisi Mommy yang tinggal sendiri tapi sekarang Mommy sudah punya Om Jodi, apa boleh sebentar saja Naya ikut pulang?"


Mata gadis kecil itu mulai berkaca-kaca seolah benar-benar menginginkan satu kata untuk diwujudkan oleh Alvino yaitu, pulang. "Naya rindu Oma, Opa, Onty Vina sama Onty Yona."


Seolah mendapatkan satu pukulan yang teramat keras Alvino merasa baru saja merebut dunia gadis kecil itu. Naya yang sejak dulu memang mengenal keluarga Alvino adalah keluarganya juga, lalu dipaksa untuk tinggal jauh tentu saja sangat sulit.


"Mas ...." Aliya menyentuh punggung tangan sang suami seraya memberikan tatapan penuh harap, agar Alvino mengusahakan sesuatu untuk mengabulkan permintaan Naya.


"Baiklah, Daddy akan bicarakan dulu sama Mommy ya. Tapi Daddy tidak janji, bagaimanapun Mommy mempunyai hak penuh atas Naya jadi semua tergantung kepada keputusannya.


"Oke Daddy," lirih Naya.


......................


"Apa lagi sih istriku sayang, tadi kita sudah makan siang bersama dan sekarang kamu datang lagi padahal ini kan jam kerja apakah kamu tidak ada pekerjaan di kantor?"


Viona yang masih berdiri, beranjak dari posisinya lalu melangkah duduk di depan meja kerja sang suami. "Tidak apa-apa, aku hanya bosan saja dengan pekerjaan. Kapan ya Vino pulang, tidak sabar ingin pergi."


Braak!


Tiba-tiba saja Viona menghentak meja dengan telapak tangannya dan membuat Abian terperanjat kaget.


"Kenapa sih Viona, bagaimana jika aku kena serangan jantung kamu mau jadi janda?"


"ih amit-amit. Bi, empat hari lagi kita kan berangkat bulan madu tapi kita belum menyiapkan apapun bahkan kita belum menentukan negara mana yang akan kita tuju. Kamu niat tidak sih membawa aku bulan madu?"

__ADS_1


"Niat Yona, aku sudah memilih beberapa negara dengan tempat wisata terbaik. Dan masalah perlengkapan liburan aku sudah menyiapkan semua kebutuhan kamu dan aku di butik langganan kita. Di toko itu kan sudah mengetahui size pakaian kita dan apa saja yang harus kita pakai ketika berada di musim dingin. Jadi kamu tidak usah khawatir lagi karena aku sudah mengatur semuanya."


"Oh begitu, bilang dong. Kan aku jadi salah paham," celetuk Viona.


"Ya kali, tadinya aku ingin memberi surprise ke kamu tapi kamu terus bertanya-tanya sampai aku tidak bisa merahasiakannya," tutur Abian.


Tiba-tiba saja Viona mengingat satu hal yang beberapa hari ini tidak ia lihat selama ia memantau suaminya bekerja. "Bi, sikutu kupret, kudis, kurap, panu tidak pernah datang?"


Perlahan Abian menggelengkan kepalanya. "Tidak, katanya sih dia ada urusan pribadi dan dia tidak pernah menghubungi sama sekali."


"Hem mencurigakan, kira-kira apa yang dia rencanakan," ucap Viona seraya memicingkan matanya.


"Hus jangan berpikir negatif terus, ini kamu akan terus di sini?"


"Kamu mengusir ku?"


Abian kembali menggelengkan kepalanya namun kali ini ritmenya lebih cepat. "Tidak, Aku hanya penasaran apakah kamu tidak ada pekerjaan di kantor bukannya busana terbaru sebentar lagi."


Viona mengeluarkan tangannya menyentuh bagian dagu sang suami yang ditumbuhi sedikit bulu halus. "Kan ada Sekertaris ku dan tim lain sayang. Sekarang aku disini mau berdua dengan kamu."


Tiba-tiba Abian menyunggingkan senyumnya seraya meraih pergelangan tangan sang istri dari wajahnya. "Apa kamu ingin mencobanya di sini? Ruangan Alvino sedang kosong."


Wajah Viona mendadak merah merona ia segera menarik tangannya lalu memalingkan wajah ke sembarang arah. "Apasih, jangan bercanda Ini tempat kerja bukan tempat celup menyelup."


"Pfftttt, haha."


"Ih apa sih kok malah ketawa."


"Tidak apa-apa, terkadang aku hanya bingung dengan semua bahasa-bahasa nyeleneh yang keluar dari mulut kamu, tapi lucu sih. Aku jadi makin mau itu."


"Bi, jangan bercanda ini Kantor."

__ADS_1


Abian yang tidak perduli langsung mengangkat tubuh sang istri menuju ruang kerja Alvino. "Show time baby."


Bersambung 💖🥰


__ADS_2