
Aliya baru saja sampai di apartemen. Ia merebahkan tubuhnya di atas ranjang seraya melihat langit-langit kamar. Pikirannya kembali terbang ke saat Alvino mengajaknya menikah hingga dua kali.
"Sebenarnya apa tujuan dia ingin menikah dengan ku ... bukankah dia tidak ingin terikat. Atau dia takut dosa? Ah kenapa tidak sejak awal saja, kenapa baru sekarang. Bukan hanya menginginkan ku sebagai pawanganya dia juga menginginkan ku menjadi istri keduanya. Apa yang harus aku lakukan sekarang, menikah dengannya akan membuat ku semakin terikat."
Aliya mencoba memejamkan matanya. Tiba-tiba kenangan akan kebersamaannya dengan sang ibu kembali terlintas. Ia mulai berandai-andai, jika saja Ibunya tidak menikah lagi dengan ayah tiri yang begitu kejam hingga menjualnya, mungkinkah ia tidak akan berada di posisi ini sekarang.
Bukan bermaksud munafik, semua orang memang membutuhkan uang lebih dari apapun. Banyak wanita di luar sana yang menginginkan posisi Aliya sekarang, menjadi simpanan Hot Daddy yang berdompet tebal dan juga sangat tampan.
Namun untuk seorang gadis yang tetap bertahan di tengah kejamnya dunia, sungguhlah begitu berat. Julukan wanita murahan kini ia rasa pantas di sematkan kepadanya, tetapi begitulah takdir yang harus dia jalani demi satu harapan kelak ia akan kembali ke hidupnya yang normal.
Aliya baru saja menuju alam mimpi, hingga akhirnya suara bel pintu membuat ia kembali terjaga. "Siapa itu, jangan-jangan petugas keamanan." Aliya pun segera bangkit dan keluar dari kamarnya.
Sesampainya di depan pintu utama, ia langsung membukanya begitu saja, karena ia pikir yang datang hanyalah petugas keamanan namun nyatanya--
"Sekertaris Bian dan ...." Aliya tidak bisa melanjutkan ucapannya saat melihat wanita cantik dengan raut wajahnya begitu tidak asing.
"Hy Aliya, maaf mengganggu mu, apa Alvino ada di sini?" tanya Abian yang hanya berbasa-basi, padahal ia sudah meninjau kondisi terlebih dahulu.
"Tuan Alvino menemani Naya di rumahnya." Aliya kembali beralih menatap wanita yang sejak tadi tersenyum kepadanya. "Nona ini siapa ya, wajahnya benar-benar tidak asing?" ucap Aliya yang nampak ragu-ragu.
"Perkenalkan saya Viona, saudara kembar Alvino."
"Apa! Saudara kembar?" Aliya nampak begitu kaget saat mengetahui Alvino mempunyai saudara kembar.
__ADS_1
Ya, wanita itu adalah Viona, entah misi apa lagi yang akan ia jalankan untuk membantu saudara kembarnya. Namun ia terlihat senang ketika untuk pertama kalinya bertemu dengan Aliya.
"Apa kita boleh bicara di dalam?" tanya Viona dengan senyum manisnya.
Aliya masih tak percaya jika wanita di hadapannya saat ini adalah kembaran dari Alvino.
Pantas saja wajahnya begitu tidak asing. Tenyata ular kuning menyebalkan itu punya saudara kembar yang sangat cantik, kelihatannya juga ramah. Eh tunggu, untuk apa dia kesini, apa dia mau menyodorkan ku segepok uang dan meminta ku pergi dari kehidupan Tuan Alvino. Aku sering menonton drama seperti itu di televisi, batin Aliya.
"Aliya kok kamu malah bengong," ucap Abian seraya melambaikan tangannya di depan wajah Aliya.
Aliya pun segera tersadar dan kembali tersenyum kepada kedua tamu istimewanya. "Oh i-iya, silahkan masuk."
Viona dan Abian pun beranjak masuk kedalam dan langsung di susul oleh Aliya.
Di tempat berbeda. Shela baru saja sampai di depan sebuah restoran mewah. Ia sudah mengatur janji untuk bertemu seseorang di tempat itu. Saat masuk kedalam, ia sudah di sambut oleh para pelayan restoran.
"Selamat datang, Nona Shela. Tuan besar sudah menunggu Anda di ruangan VVIP kami," ucap seorang pelayan restoran dengan kepala tertunduk.
"Baiklah, tolong antarkan saya kesana sekarang."
"Mari ikut saya, Nona."
Shela mengikuti langkah pelayan restoran itu, hingga akhirnya sampai di sebuah ruangan khusus untuk tamu VVIP restoran tersebut. Saat pelayan itu beranjak pergi, Shela pun langsung membuka pintu dan melangkah masuk kedalam.
__ADS_1
"Selamat sore, Pa. Maaf terlambat, jalanan cukup macet tadi."
.Saat ini Shela sedang berdiri dihadapan seorang pria paruh baya yang tetap berkarisma di usia yang sudah mencapai lebih setengah abad. Ya, pria itu adalah Alvaro Wilson, ayah dari Alvino Wilson.
Saat melihat kedatangan Shela, Alvaro meletakkan cangkir teh di atas meja lalu bangkit dari posisi duduknya. Ia melangkah menghampiri sang menantu yang berdiri beberapa meter darinya.
Paaakkk!
Satu tamparan mendarat tepat di wajah Shela. Wanita itu nampak sangat terkejut ketika tiba-tiba saja Papa mertuanya menamparnya dengan keras. "Kenapa Papa tiba-tiba saja menampar ku?"
Alvaro menghela napas berat kemudian kembali menatap tajam kearah Shela. "Tamparan itu tidak seberapa di bandingkan dengan pengkhianatan mu kepada Alvino. Saya sudah mengangkat derajat keluarga kamu yang di ambang kehancuran, tapi apa balasan yang kamu berikan! Dasar wanita tidak tahu malu, apa kurangnya Alvino sampai kamu menjalani hubungan dengan pria lain!"
Kepala Shela akhirnya tertunduk. Ia tidak menyangka jika sang mertua, Alvaro Wilson yang di kenal begitu kejam saat marah, akhirnya mengetahui hal yang ia tutupi selama ini.
"Saya mengaku salah, tapi saat ini saya dan Mas Alvino belum bisa bercerai karena Naya. Maafkan saya, Pa. Tapi Mas Alvino sudah membalas perbuatan saya dengan berselingkuh dengan wanita lain, apa Anda tau?"
"Apa?" Alvaro tiba-tiba saja terpaku ketika mendengar penuturan Shela.
Kisah masalalu seolah kembali bereinkarnasi, Alvaro pernah berada di satu posisi yang sama, apakah ia akan marah kepada Alvino?
Bersambung 💖
Jangan lupa berikan dukungan untuk Author ya reader 🥰💖
__ADS_1