
Aliya menghentikan langkahnya saat melihat Alvino memantau dirinya dari kejauhan. "Ehm, maaf ya sepertinya aku harus pulang duluan, sampai jumpa minggu depan." Ia melambaikan tangannya lalu melangkah cepat masuk kedalam mobil Alvino.
Alvino membuka kacamatanya lalu menoleh kearah Aliya yang baru saja masuk kedalam mobil. "Mereka siapa?"
"Teman, ada beberapa yang juga adik tingkat juga," jawab Aliya dan dengan santainya memasang sabuk pengaman.
"Aku pikir teman mu hanya Noah, tapi ternyata ada banyak ya. Kenapa juga harus laki-laki semua, apa kamu tidak bisa berteman dengan perempuan seumuran mu."
Aliya akhirnya menyadari jika saat ini Alvino sedang dalam mode cemburu. "Ehm, mungkin akan terdengar aneh tapi bagi ku berteman dengan laki-laki itu lebih asik di bandingkan sama perempuan banyakan gosipnya. Kalaupun aku punya teman wanita, itu hanya Vina saja. Itu pun baru-baru ini."
"Hah, kamu ini wanita atau apa? Aku jadi ragu meninggalkan kamu besok. Bagaimana kalau kamu ikut saja?" Alvino nampak serius dengan ucapannya. Karena besok ia akan pergi sekitar dua mingguan, ia menjadi gelisah jika harus meninggalkan istrinya itu sendiri.
Aliya menatap Alvino tak percaya seraya menggelengkan kepalanya perlahan. "Lagi kesal tapi jangan bicara sembarangan, Mas. Mana mungkin aku ikut. Lagi pula aku baik-baik saja kok, aku bisa melanjutkan aktivitas magang ku, aku juga bisa ke kampus untuk menyelesaikan skripsi ku. Pokoknya Mas tenang saja, aku bisa menjaga diri, tolong fokus saja ke pengobatan Naya."
Alvino menatap Aliya sejenak, lalu menyondongkan tubuhnya agar bisa melihat Aliya dengan lebih dekat. "Lalu bagaimana dengan hati mu, apakah kamu bisa menjaga hati mu selama aku pergi? Dan apakah kamu tidak akan merindukan ku selama dua minggu kamu tidak akan melihat ku."
__ADS_1
Terkadang Aliya bingung kenapa tubuhnya selalu saja menjadi kaku seketika saat Alvino menatapnya dengan lekat, kata-kata yang ingin ia ucapkan seolah tidak bisa keluar dari mulutnya.
Alvino mengerutkan keningnya ketika Aliya tidak menjawab dan terus menatapnya dalam diam. "Kenapa kamu tidak menjawab, apakah kamu ragu dengan diri mu sendiri?"
Perlahan Aliya menarik napas dalam-dalam lalu kembali menatap Alvino. "Mas, aku tidak ragu meski kamu meninggalkan aku selama satu tahun sekalipun." Aliya memperlihatkan cincin yang menggantung di kalung yang ia pakai. "Aku tahu status ku, dan aku akan terus menunggu kamu pulang. Jangan ragu untuk pergi, karena aku akan menjaga apa yang menjadi hak kamu atas diri ku."
Dari mata Aliya, Alvino bisa melihat kesungguhan dan ketulusan. Hal itu tidak pernah ia dapatkan dari istri pertamanya Shela. atmosfer yang di tawarkan Aliya kepadanya sungguh berbeda, hingga untuk pergi walau sejenak, Alvino merasa tidak mampu.
Namun kembali lagi. Demi putri kecil yang sangat amat ia sayangi. Alvino harus rela berpisah jarak dan waktu untuk sementara dengan Aliya. Alvino kembali ke posisinya lalu mulai menyalakan mesin mobil.
Melihat Alvino yang hanya terdiam, Aliya pun ikut diam. Ia melihat keluar jendela seraya tenggelam dalam pikirannya sendiri. Meski mulutnya berkata bahwa ia mampu, sebenarnya ia masih ragu.
Karena selama beberapa bulan ia sudah terbiasa dengan kehadiran Alvino. Bagaimana sayap pelindung, Alvino membuat ia selalu merasa aman berpijak di bumi yang dulu begitu kejam padanya.
~
__ADS_1
Hari menjelang malam, setelah mengantarkan Aliya pulang dan beristirahat sebentar. Alvino kembali pulang ke rumahnya, karena ia sudah berjanji akan menemani Naya tidur malam ini.
Alvino tahu, putrinya itu sangat takut saat mendengar kata rumah sakit. Tetapi semangat hidup Naya sangatlah besar dan itu membuat Alvino pun merasa sangat bangga kepada putrinya.
"Akhirnya kamu pulang juga, Mas," ucap Shela saat Alvino masuk kedalam rumah. Ia meletakkan kembali majalahnya, lalu melangkah menghadap sang suami sambil berpangku tangan. "Aku sudah menunggu kamu sejak tadi, duduklah aku mau bicara."
"Aku tidak punya waktu bicara dengan mu, Aku mau menemui Naya." Alvino hendak melangkah namun Shela kembali menghadangnya.
"Naya sedang tidur, Aku mohon duduklah sebentar. Aku ingin bicara." Shela nampak tidak menyerah, kali ini ia tidak mau kalah karena Alvino yang selalu saja menghindarinya.
Hembusan napas Alvino terdengar begitu berat. Ia memutar langkahnya lalu duduk di sofa ruang keluarga itu. "Baiklah cepat katakan, apa yang ingin kamu sampaikan?"
Shela beranjak dari posisinya dan langsung duduk di hadapan Alvino. "Mas, aku mau operasi Naya di batalkan saja."
"Apa!"
__ADS_1
Bersambung 💖