Jerat Hasrat Sang Calon Duda

Jerat Hasrat Sang Calon Duda
Bab.63


__ADS_3

Melihat Aliya melamun, Arumi pun melambaikan sebelah tangannya ke depan wajah Aliya. "Hey kok kamu malah bengong."


Sontak saja lamunan Aliya langsung buyar seketika. "Oh iya Tante, maaf." Ia terus melirik kanan kiri, karena takut kalau tiba-tiba saja Alvino datang.


Arumi memperhatikan isi keranjang belanja Aliya yang di penuhi bahan makanan. "Kamu sendiri sepertinya belanja banyak ya, tinggal dekat sini?"


"Oh itu ...saya menyewa unit apartemen bersama sepupu saya di apartemen depan," jawab Aliya seraya terus melirik ke segala arah.


"Masa sih? Alvino dan Viona punya beberapa unit apartemen di sana, meskipun tidak pernah di tempati hanya untuk investasi saja."


Aliya langsung menanggapi dengan senyuman karena ia sudah tahu dan bahkan sudah menempati apartemen tersebut. "Wah kebetulan sekali ya, hehe."


Di tengah obrolan keduanya, tiba-tiba saja Aliya membulatkan matanya ketika dari arah belakang sang Ibu mertua, Alvino sedang melangkah ke arahnya sambil melambaikan tangan.


Aliya berusaha untuk memberikan kode agar Alvino tidak mendekat, namun sepertinya suaminya itu tidak mengerti karena memang ia tidak tahu jika wanita yang sedang berdiri di hadapan Aliya adalah Mamanya sendiri. Ya, Alvino tidak bisa melihat wajah sang Mama karena berdiri memunggunginya.


Saat Alvino semakin dekat, Aliya yang merasa panik pun merasa harus melakukan rencana B.


"Tante Arumi!" seru Aliya dengan cukup kencang sambil menggelengkan kepalanya sebagai kode untuk Alvino.

__ADS_1


Langkah Alvino pun langsung terhenti saat mengerti apa maksud sang istri. Ia segera putar balik dan bersembunyi di balik rak-rak produk. Ah sial kenapa Mama bisa ada di sini, batin Alvino.


"Aliya kenapa kamu berteriak seperti itu, Tante denger kok," ucap Arumi dengan dahi mengkerut karena merasa heran.


"Ma-maaf Tante, saya ... itu di sana ada ada mie instan viral sedang diskon. Saya harus dapat takut kehabisan," ucap Aliya lalu menggandeng tangan Arumi agar mengikuti langkahnya.


Sesampainya di stand mie instan itu. Mau tidak mau Aliya pun membeli mie instan itu cukup banyak, agar Arumi tidak curiga kepadanya. Padahal ia tidak suka varian rasa mie itu.


Kamu suka sekali makan Mie?" tanya Arumi saat melihat Aliya memasukkan hampir dua puluh bungkus mie instan.


"Iya Tante, anak kuliahan seperti saya ini suka sekali makan mie," jawab Aliya yang tetap berusaha tersenyum dan bersikap normal. Meskipun matanya terus melirik kearah rak produk tempat Alvino bersembunyi.


Aliya langsung menggelengkan kepalanya dengan cepat. "Tidak usah repot-repot Tante, saya bisa makan di rumah kok."


"Kamu jangan menolak dong, Tante banyak mendengar cerita yang menarik tentang kamu dari Vina. Jadi tidak apa-apa dong kalau Tante mau mengobrol sama kamu. Mau ya, nanti belanjaan kamu ini Tante juga yang bayarin."


Apa aku bisa menolak, ah sudahlah aliya cuma makan saja kok kamu panik sih, batin Aliya.


"Baiklah, Tante. Tapi saya bisa bayar ini sendiri kok, tidak usah repot-repot Tante, saya tidak enak."

__ADS_1


Arumi terkekeh lalu kembali menepuk pundak Aliya. "Haha, kamu ini. Kok segan sekali sih? Kamu itu adalah teman Alvina dan juga Noah. Jadi jangan sungkan-sungkan sama Tante, tua begini, Tante masih gaul loh."


"Ahaha iya Tante, terimakasih banyak." Entah bagaimana lagi Aliya merasa begitu speechless dengan Mama Alvino. Ia merasa jika di balik rumah tangga Alvino yang berantakan, Dia mempunyai keluarga yang begitu hangat.


~


Setelah selesai berbelanja, Aliya dan Arumi sampai di sebuah restoran. Semua menu yang mewah dan enak kini sudah tersaji di meja mereka.


"Kok cuma di liat saja, ayo silakan di makan," ucap Arumi sambil menyodorkan beberapa menu yang menurutnya akan di sukai oleh Aliya.


"Terimakasih, Tante. Makanannya banyak sekali, saya sampai bingung mau makan yang mana," ucap Aliya lalu kembali tersenyum.


"Makan saja yang kamu suka. Entah kenapa Tante suka sekali jika bertemu dengan seorang gadis yang cantik, pintar dan mandiri seperti kamu. Vina bilang kamu ini anak yatim piatu tapi bisa kuliah dengan beasiswa dan kerja paruh waktu. Tante juga dulu hidup sebatang kara tanpa orang tua jadi kamu jangan merasa malu ya. Tante tidak pernah memandang seseorang berdasarkan derajatnya, karena Tante tahu betul bagaimana rasanya hidup sebatang kara."


Aliya merasa terharu saat mendengar penuturan Arumi. Ia merasa kembali mendapatkan perhatian dari seseorang Ibu, hingga tanpa ia sadari matanya mulai berkaca-kaca. Ia pun segera menunduk dan melahap makanannya.


Arumi menepuk pundak Aliya sebentar lalu ikut menikmati menu-menu yang tersaji di atas meja.


"Ehm, Ma."

__ADS_1


Bersambung 💖


__ADS_2