
Perlahan Viona membuka matanya, seraya meregangkan tubuh yang terasa begitu lelah. dengan terbalut selimut tebal ia menggeliat perlahan dan mengubah posisi tubuhnya.
"Astaga." Ia melompat dari tempat tidur hingga terduduk di lantai saat melihat seorang pria tertidur di sampingnya. Sejenak ia berpikir, hingga akhirnya sadar jika sekarang ia sudah menikah. "Ah iya, sekarang kan dia suami ku, kenapa bisa lupa."
"Yona kamu kenapa duduk di lantai," ucap Abian yang baru saja bangkit dari posisi berbaringnya. Wajah tampan yang begitu sembab, rambut acak-acakan dan tubuh yang setengah polos membuat Viona yang masih terduduk di lantai segera memalingkan wajahnya.
"Hey, kamu tidak bisa pakai baju mu apa?" Raut wajah Viona nampak memerah karena pertama kalinya melihat lekuk tubuh Abian yang hanya di tutupi boxer pendek.
"Aku memang seperti ini saat tidur," ucap Abian lalu melangkah perlahan turun dari ranjang, ia mengulurkan sebelah tangan ke hadapan Viona. "Biasakan diri mu, melihat semua yang tidak pernah kamu lihat. Jangan takut, kita sudah menikah."
Viona yang sejak tadi melihat ke sembarang arah, mengangkat kepalanya melihat Abian yang mengulurkan tangan untuk membantu ia berdiri. Ia nampak gugup tetapi berusaha untuk menutupinya. Ya, begitulah Viona.
Tanpa ragu, Viona segera meraih uluran tangan Abian dan segera berdiri. "Ehm, apa yang harus aku biasakan. Sementara kita sudah kenal sejak lama. Aku meminta mu untuk memakai baju, karena aku takut kamu masuk angin saja."
"Ck, really?" Tangan kekar Abian meraih ujung dagu lancip Viona. Meskipun mereka melalui malam pertama tanpa aksi panas yang menguras peluh, setidaknya mereka menerima keadaan dan juga kenyataan. "Kamu nampak sangat cantik pagi ini."
Cup.
Satu kecupan singkat mendarat di kening Viona. "I love you, Yona."
Ketika mendengar ucapan Abian, kaki Viona seolah tidak bisa menapak pada bumi. Suara serak yang terdengar berat, membuat pikiran aneh mulai memenuhi kepala Viona. "Kamu ... kamu tidak lagi mau itu kan, ingat 365 Days, are you okey?"
"Hahaha." Abian tertawa hingga terguling-guling di atas ranjang. "Yes I'm okey, but ...." Ia kembali berdiri dan mengalungkan kedua tangannya di pinggang Viona. "Aku akan membuat kamu juga menginginkannya, sama seperti ku."
Punggung tangan Abian membelai lengan hingga ke bagian leher Viona. Jika menaklukkan hati wanita begitu sulit karena di penuhi ego. Maka Abian memutuskan untuk menyerang titik hasrat hingga membuat seorang Viona luluh.
__ADS_1
Saat tangan Abian hendak menjalar ke area bokong, Viona dengan cepat mencegahnya. "Eitts, jangan sampai kamu mendapatkan kartu merah karena sudah keluar batas. Baiklah, aku akui usaha mu tidak buruk, tapi berusaha lah lebih keras lagi, aku tidak semudah itu."
Abian memeluk dan menciumi bagian leher hingga ke telinga Viona. Hasratnya benar-benar bangkit hingga merasa pertahanan dirinya goyah. "Lihat saja, sejauh apa kamu bisa bertahan," bisik Abian tepat di telinga Viona.
Sekujur tubuh Viona terasa bergetar, darahnya berdesir hebat saat hembusan napas Abian mendapat tepat di bagian sensitifnya.
Lengkungan senyum kembali tergambar jelas di wajah Abian saat melihat Viona memejamkan matanya. Perlahan ia melepaskan pelukan tersebut dan mundur perlahan. "Mandilah, kita harus segera turun. Hari ini kita pulang setelah sarapan pagi bersama keluarga."
"Oh i-iya, tentu saja. Aku akan mandi duluan." Viona segera berbalik dan melangkah cepat menuju kamar mandi.
"Jangan kunci pintu, nanti aku akan menyusul!" seru Abian yang masih saja bersikap usil.
Viona berbalik dengan mata membulat. "I will kill you!" Ia kembali melanjutkan langkahnya masuk kedalam kamar mandi, dan benar saja ia mengunci pintu dari luar.
Abian kembali mendengar ancaman Viona. Rasanya begitu bahagia bisa sedekat nadi dengan wanita yang ia cintai meski tidak untuk penyatuan. "Hufft, tidak buruk juga. Setidaknya dia milik ku sekarang."
Di kamar berbeda. Alvino yang baru saja selesai mandi, menghampiri sang istri yang berdiri di balkon kamar, memandangi gedung-gedung pencakar langit yang menjulang tinggi dan tertutup kabut.
"Sayang, kamu sedang apa di sini. Tidak mau mandi?"
Aliya membalik posisinya, menatap sang suami dengan berderai air mata. "Mas, aku takut."
Melihat sang istri yang tiba-tiba saja menangis, Alvino begitu kaget. Seingatnya saat ia pergi ke kamar mandi tadi sang istri masih tertidur dengan lelap di atas ranjang. "Kamu kenapa menangis, ada yang sakit?"
"Tidak Mas," ucap Aliya seraya menyeka air matanya. "Tadi aku mimpi, kamu meninggalkan aku karena aku banyak maunya, suka merepotkan di saat hamil seperti ini."
__ADS_1
Perlahan Alvino menghembuskan nafasnya karena merasa lega. Tadinya Ia berpikir istrinya kesakitan karena sesuatu tetapi ternyata hanya karena sebuah mimpi yang menurutnya tidak akan pernah terjadi.
Apa lagi sekarang, apa ini juga bagian dari ngidam, batin Alvino.
"Sayang, itu tidak mungkin terjadi. Ya, aku sangat senang bisa memenuhi semua keinginan kamu, aku juga tidak apa-apa saat kamu lebih menyukai Messi dari pada suami yang tampan ini. Aku mengerti itu bagian dari proses kehamilan, I'm so happy."
"Huaaa, kok Mas baik sekali sih. Tidak pernah marah, tidak pernah KDRT, sekalipun Mas tidak pernah menolak saat aku meminta hal aneh. Ini tidak masuk akal."
Astaga, sepertinya ini fase mengidam versi terbaru, apa yang harus aku katakan agar dia tenang, batin Alvino.
"Kenapa tidak? Itu sudah menjadi kewajiban. Pokoknya tidak usah di pikirkan, itu hanya mimpi dan tidak akan pernah terjadi. Mana mungkin aku meninggalkan istriku yang sangat menggemaskan ini."
Tanpa mengucapkan apapun Aliya langsung memeluk sang suami dengan erat. Baginya mimpi itu adalah mimpi paling mengerikan yang selama ini ia alami.
Entah karena hormon kewanitaan yang membuatnya mudah untuk menangis, tetapi sejak malam tadi ia merasa gampang sekali terharu dan juga tersentuh dengan hal-hal yang membuat ia bahagia dan juga hal yang membuatnya merasa sedih.
"Jangan terlalu baik, coba marahi aku sekali-kali, jangan menutupi kekesalan Mas hanya karena menjaga perasaan ku. Ya memang itu hanya mimpi, tapi rasa sakitnya benar-benar nyata sampai ke tulang-tulang."
Alvino yang menyadari jika sikap sang istri ini hanya karena proses kehamilan, ia pun memaklumi. Semenjak sang istri hamil, ia sudah melewati beberapa tahap yang memang cukup ekstrim baginya tetapi Alvino yakin semua ini hanyalah proses yang harus ia jalani sebagai seorang suami siaga.
"Tentu saja Sayang. Jangan sedih lagi ya, setelah pulang dari sini kita jalan-jalan ke tempat yang kamu suka, mumpung aku lagi libur."
Aliya melepaskan pelukannya dan kembali menatap sang suami. "Tuh kan, terlalu baik. Terharu terus kalau begini." Ia kembali menangis tersedu-sedu di hadapan Alvino. "Aku mau peluk Mas seharian tidak mau kemana-mana," ucap Aliya yang masih terisak-isak.
Bersambung 💖
__ADS_1
Maklumi bumil ya Mas Albino kuning 😂😂