Jerat Hasrat Sang Calon Duda

Jerat Hasrat Sang Calon Duda
Bab.130


__ADS_3

Abian membawa Viona kedalam kungkungannya. Deru napas memburu menjadi pertanda jika sesuatu dalam dirinya mulai menginginkan sesuatu yang selama ini tidak ia dapatkan selama pernikahan.


"Aaah Bi, pelan-pelan. Aku takut." lirihan suara Viona seiring dengan air mata yang mulai membasahi Pipi, benda besar nan panjang kini bersiap untuk menembus pertahanan dirinya.


"Sayang, percaya kepada ku, sakitnya hanya sebentar saja. Setelah itu akan akan membuat kamu merasakan surga dunia."


Abian kembali menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Viona. Suara decapan halus mulai terdengar hingga membuat Viona menggigit bibirnya.


Viona tidak bisa berbuat banyak selain pasrah. Kedua pergelangan tangannya pun di Cengkram erat oleh sang suami. Hentakkan demi hentakan membuat rasa perih menjalar ke seluruh tubuh.


"Aaah Bi, sakit Aaah."


"Sedikit lagi sayang, aku hampir ... Aaahhh." Kedua sisi pundak Abian nampak naik turun ketika berhasil menembus pertahanan diri Viona. Gerakan lembut, namun penuh tuntutan mulai ia berikan.


"Ouh Bi, terus sayang...aku akan menahan rasa sakit demi kenikmatan yang kamu janjikan." peluh mulai bercucuran dari dahi Viona saat tubuhnya semakin memanas."


Abian yang mulai menggila mehantam dengan gerakan cepat. Ia ingin menunjukkan kemampuannya di hadapan sang istri. "Aaahhh nikmat sekali Baby, menjepit."


"Bi, Aaahh aku tidak tahan lagi.. yaaahhh yaaahh."


Kedua tangan Abian pun tak bisa diam, ia meraih apa yang bisa ia raih pada tubuh istrinya. "Ouuuh, ini luar biasa. Aku tidak tahan." Abian membalik posisi tubuh Viona dan menghantamnya dari belakang.


"Bi, terus sayang, rasanya tidak sakit lagi."


"Apa aku bilang, kamu menikmatinya sekarang?"


"Yes, so good Bi, yaaahh...yaaahhh."


"Sayang aku akan segera keluar, ouhhh." Abian terus menambah kecepatan gerakannya dan akhirnya ....


"Aaahhhh!!!" seruan Abian danw Viona menggema di sekeliling ruangan.


Abian terbaring lemas di samping Viona setelah menyelesaikan permainannya. Dengan napas tersengal-sengal, Abian membawa Viona yang masih polos kedalam dekapannya. "Terimakasih, mulai hari ini kamu milik ku seutuhnya."


~

__ADS_1


Lain tempat, maka lain pula kisahnya. Malam ini Aliya sedang mengemas barang ke koper. Ia terlihat begitu senang karena akan segera bertemu dengan Naya setelah sekian lama.


Pada kesempatan ini pula, Alvino akan membawa Aliya, Baby moon. Karena selama pernikahan, ia tidak pernah mengajak istrinya berjalan-jalan ke luar negeri.


Klek.


Aliya menoleh kearah pintu lalu tersenyum saat melihat sang suami datang dengan segelas susu hamil untuknya.


"Semangat sekali, Bumil? Istirahat dulu, besok kan bisa, ini sudah larut. Ayo minum susu dulu." Alvino ikut duduk di samping sang istri yang duduk di lantai walk in closed.


"Aku sangat senang dan tidak lelah sama sekali." Aliya meraih gelas susu di tangan sang suami lalu perlahan ia teguk hingga tak bersisa. "Terimakasih, Mas. Ini kamu buat sendiri?"


"Iya lah, siapa lagi. Kali ini pas kan? Aku sudah mengikuti langkah-langkah yang kamu ajarkan." Alvino menyadarkan tubuhnya di lemari lalu menghela napas panjang. "Ternyata susah juga kalau tidak ada asisten rumah tangga, aku tidak tega melihat mu bersih-bersih."


Kening Aliya mengkerut tajam bagaimana tidak, untuk pertama kalinya sang suami mengeluh tentang sesuatu. "Kenapa? Aku dengan senang hati mengerjakan semuanya. Lagi pula, pakaian di laundry, aku hanya memasak dan menyapu sedikit."


Alvino kembali tersenyum kepada sang istri, Ia tidak tahu bagaimana mengungkapkan semua rasa khawatirnya dan juga keinginannya untuk membuat Aliya menjadi seorang ratu tanpa harus bersusah payah mengerjakan hal-hal seperti itu.


"Sayang, tugasmu hanya mendampingiku, selebihnya kamu harus hidup dengan santai berbelanja barang-barang mewah, makan dengan layak dan lakukan semua hal yang menurutmu menyenangkan. Ayolah, Aku kesal ketika mendapatkan pemberitahuan dari m-banking kamu hanya menggunakan uang sedikit."


Aliya tertawa sendiri mendengar penuturan sang suami. Ia tidak tahu lagi bagaimana cara menjelaskan jika kemewahan bukanlah tujuannya, tetapi ketenangan, kenyamanan, kebahagiaan, dan tentu saja cinta sudah lebih dari cukup tanpa harus di iringi dengan gaya hidup mewah.


Alvino berdecak kagum, mendekat dan langsung memeluk sang istri. "Terimakasih karena sudah menemani aku sampai detik ini. Apa kamu tahu, tidak ada satu hari pun yang aku lewatkan tanpa merasa semakin jatuh cinta kepadamu."


"Sama-sama, Mas." Alia melepaskan pelukan itu lalu menatap sang suami dengan serius. "Mas, babymoonnya kita ajak Naya ke pulau ya."


"Okey bisa di atur." Alvino berdiri dari posisinya dan langsung membawa sang istri ke dalam gendongannya. "Malam ini, apa kita harus olahraga malam?"


Bukannya menolak, Aliya malah menarik baju sang suami hingga wajah mereka hampir tak berjarak. "Aku siap kapan pun suami ku menginginkannya."


"Oh baby, kamu benar-benar membuatku gila." Tanpa menunda waktu Alvino menggendong Alia ala bridal style keluar dari walk in closed menuju ranjang.


...----------------...


Pagi ini Abian terbangun saat mencium aroma yang begitu pekat dari luar kamar. Belajar dari kejadian kemarin, ia tahu sang istri yang tidak tahu apapun tentang memasak pasti sedang berada di dapur.

__ADS_1


Tanpa menunda waktu, Abian pun segera melangkah cepat keluar dari kamar, saat turun kelantai bawah, bukan hanya bau pekat saja yang begitu menyengat, tapi juga ada asap hitam dari arah dapur.


"Astaga, apa dia mau membakar rumah ini." Abian segera bergegas menuju dapur.


Sesampainya di dapur ia bahkan tidak bisa melihat dengan jelas di mana keberadaan sang istri karena dapur tersebut dipenuhi dengan asap. "Yona! Kamu di mana?" Abian segera bergerak membuka jendela agar asap tersebut segera keluar.


"Huaaa!!!"


Tiba-tiba saja terdengar suara teriakan yang cukup kencang dari arah belakang, Abian pun langsung menoleh dan mendapat sang istri berdiri di ambang pintu dapur.


"Yona, kamu dari mana?" tanya Abian saat melihat Viona menenteng dua tas belanja yang nampak terisi penuh.


"Bi, apa yang terjadi? Aku dari minimarket untuk membeli bahan makanan."


"Kamu pergi, terus kenapa oven itu bisa mengeluarkan asap yang sangat pekat?"


Viona nampak terdiam sejenak, seolah sedang berpikir keras karena ia merasa baru saja melakukan sebuah kelalaian. "Ah iya, aku baru ingat. Tadi aku memanggang ayam, Aku tahu kamu suka sekali makan ayam panggang mentega jadi aku berinisiatif untuk membuatnya, tapi saat aku lihat kentang di kulkas habis aku langsung pergi ke minimarket sampai lupa kalau aku baru saja masukkan ayam ke dalam oven."


Abian terduduk lemas di lantai, iya bukan takut ketika melihat dapurnya hampir terbakar tetapi ia tadi sempat panik karena tidak mendapati keberadaan sang istri. "Hufft kamu membuatku sangat khawatir. Tadinya aku pikir kamu pingsan atau apa, asapnya sangat pekat sampai aku tidak bisa melihat sekeliling ruangan."


Viona melepaskan kantong belanja begitu saja lalu menghampiri sang suami yang terduduk di lantai. bukannya merasa bersalah iya malah duduk di samping Abian saya tersenyum-senyum sendiri.


"Kamu takut kehilangan aku ya, heem ayo ngaku."


Abian menoleh ke arah Viona dengan tatapan kesal. "Malah nanya lagi, aku belum siap jadi duda!"


"Kenapa kamu malah teriak!" seru Viona yang nampak kaget.


"Aku kesal! Untung sayang, kalau tidak ...."


"Kalau tidak, apa?!"


"Ya kalau tidak, aku akan mencium mu lagi."


Reflek Viona langsung menutup bibirnya dengan kedua tangan. "Apa sih, tadi malamkan sudah banyak."

__ADS_1


"Kurang," ucap Abian lalu kembali berdiri dari posisi duduknya. saat asap mulai menghilang ia segera membuka oven tersebut dan mengeluarkan isinya. "Wah sarapan Kamu hari ini benar-benar lebih menghitam daripada roti yang kemarin."


Bersambung 💖🥰


__ADS_2