Jerat Hasrat Sang Calon Duda

Jerat Hasrat Sang Calon Duda
Bab.115


__ADS_3

Abian main Instagram alat kedua tangannya seraya menunjukkan kepala ia berusaha untuk meyakinkan diri untuk berjalan maju tanpa berusaha mundur karena sudah mengambil langkah sejauh ini.


Sebenarnya tidak ada lagi keraguan dalam hati Abian tetapi laki-laki ia terkendala dengan pengakuan Viona. tapi kalau sudah seperti ini ia tidak mungkin berkata tidak karena ia tahu seorang Alvaro Wilson memang terlihat tenang tetapi ia membenci laki-laki yang tidak punya pendirian.


"Iya, Saya sangat mencintai Viona. Setelah sekian lama baru-baru ini saya akhirnya memiliki keberanian karena terus didorong oleh Alvino. Meskipun Fiona belum menerima perasaan saya tapi saya tidak akan menyerah dan akan terus berjuang untuk dirinya."


Arumi tersenyum seraya menyenggol pundak Viona yang sejak tadi hanya terdiam dengan wajah memerah dan sedikit tegang.


"Kalau begitu kalian menikah saja," ucap Alvaro.


"Apa!" seru Viona dengan mata membulat, ia menghampiri sang papa dan berharap Papanya hanya salah bicara. "Pa, jangan main-main dong, Yona juga butuh waktu untuk berpikir dan biarkan kami memutuskan semuanya sendiri."


Alvaro menggelengkan kepalanya lalu menepuk-nepuk pundak Sang Putri. "Kamu ini sudah dewasa begitu juga dengan Abian. jika memang kamu belum bisa mencintainya maka belajarlah mencintai dia ketika kalian resmi menjadi pasangan suami istri. papa akan membicarakan hal ini dengan kedua orang tua Abian di London, setuju ataupun tidak kalian harus menikah. Sudah berani menginap bersama di hotel tapi tidak mau menikah."


Lagi-lagi Viona berhasil dibuat tercengang sekaligus kaget mendengar pernyataan sang papa. "Pa-papa tau dari mana, tahu aku dan Abian menginap di hotel tadi malam?"


"Ya tahulah, mata papa itu banyak dan kamu kan menginap di hotel milik perusahaan Kakak mu, apa hotel WB grup terlalu banyak sampai kamu lupa yang mana saja. Pokoknya kalian menikah sajalah jadi kalau mau ke hotel mau kemanapun Mama kamu tidak perlu khawatir sampai tidak bisa tidur."


Alvaro menggelengkan kepalanya seraya melangkah pergi dari tempat itu.


"Tapi Pa, aku belum--"


"Yona, sudah jangan membantah Papa," ucap Arumi lalu melangkah pergi menyusul sang suami yang sudah berjalan lebih dulu.


Dengan tetapan kesal Viona berbalik melihat Abian yang sejak tadi hanya diam tanpa berusaha untuk membatalkan pernikahan itu. "Bi gimana nih, Papa minta kita nikah!"

__ADS_1


"Ya mau gimana lagi, aku sih siap saja," ucapan Abian.


"Huaaa, kau ini samaw saja." Fiona menghentak-hentakan kakinya melangkah menaiki tangga menuju lantai dua.


Tinggallah Abian di sana yang terus memandangi kepergian Viona dengan wajah yang terlihat sedikit tak percaya tapi di sisi lain ia juga sangat senang. "Menikah dengan Yona, hahaha. Mimpi apa aku semalam."


...----------------...


Alvino menghentikan laju mobilnya ketika sampai ke tempat tujuan sesuai dengan petunjuk Aliya. Waktu yang ditempuh untuk sampai ke tempat itu, sekitar 1 jam lebih karena tempat itu berada di kawasan puncak.


Alvino keluar dari mobil seraya menggedarkan pandangannya ke sekeliling tempat tersebut. "Kamu kenapa mau kesini?" ia nampak terheran-heran karena rumah yang ada di depannya saat ini sudah ditumbuhi rumput liar yang begitu tinggi.


"Rumah ini adalah tempat di mana aku dilahirkan. Rumah ini benar-benar sudah tidak seperti dulu lagi, dulu sekali aku dan kedua orang tuaku menghabiskan hari-hari bahagia di rumah kecil ini, meskipun hidup sederhana tapi aku tidak pernah merasakan kekurangan kasih sayang." Aliya menoleh menatap Alvino. "Ayo kita pergi, aku tidak bisa berlama-lama di sini."


Aliya hendak melangkah masuk ke dalam mobil namun Alvino dengan cepat mencegahnya. "Hey, Sayang kamu benar-benar tidak mau masuk?"


Aliya sudah masuk terlebih dulu ke dalam mobil, sementara Alvino menyempatkan diri untuk kembali memandangi rumah yang hampir runtuh itu. Apa yang harus aku lakukan, agar Aliya tidak kehilangan kenangan terindah di hidupnya, batin Alvino.


~


Sampainya di makam, Aliya langsung menaburkan bunga ke atas pusara Ayah dan Ibunya. Langit yang menjingga dengan sedikit semilir angin yang membawa terbang dedaunan kering membuat Aliya semak merindukan kedua orangtuanya.


"Ayah, ibu. Hari ini aku datang bersama dengan seorang pria yang sangat aku cintai, dulu sebelum Ibu meninggal, Ibu masih saja sempat mengkhawatirkan bagaimana hidupku jika aku menjadi anak yatim piatu, sekarang ibu dan ayah tidak perlu khawatir karena ada sosok dia yang luar biasa yang akan melindungi ku."


Alvino merangkul sang istri dan membawa kepala Aliya bersandar di pundaknya. "Ayah Ibu, perkenalkan saya Alvino. Sekarang tanggung jawab Ibu dan Ayah sudah berpindah kepada saya, untuk itu pula Saya berjanji akan menjadi suami yang baik dan membahagiakan Aliya sampai ia melupakan apa itu kesedihan."

__ADS_1


Suara isak tangis Aliya terdengar lirih, dalam dekapan sang suami ia meluapkan semua kesedihan yang ia tahan selama ini. Baik itu rasa rindu ataupun semua kenangan yang terus membayangi dirinya setiap hari.


Beruntung, Aliya merasa satu kata itu mampu mewakili apa yang ia rasakan saat ini. Andai takdir tidak mempertemukan dirinya dan Alvino waktu itu, mungkin sampai hari ini ia sudah menjadi seorang wanita penghibur di sebuah klub malam.


Terkadang ada saja orang yang berusaha untuk melawan takdir karena merasa dunia begitu tidak adil. Tetapi semua itu salah, bukan usaha lari dari kenyataan seseorang seharusnya berusaha untuk menerima keadaan.


Dan saat itulah Aliya memilih untuk menerima keadaan, dengan satu harapan suatu saat nanti hidupnya akan kembali bahagia. Siapa sangka kebahagiaan yang Aliya harapkan datang dari seorang pria yang dulu ingin segera ia tinggalkan dan kembali ke kehidupannya.


~


Sekitar tujuh malam, akhirnya Alvino dan Aliya kembali ke kota. Melihat sang istri yang nampak masih begitu sedih Alvino berpikir sebaiknya mereka pulang saja untuk beristirahat.


Namun tiba-tiba saja ketika Alvino memutar arah, langsung menoleh menatap sang suami dengan raut wajah bingung. "Mas kok belok sih, kan kita mau ke Monas."


"Kamu masih mau kesana, aku pikir kamu sudah lupa karena depan jalan kamu diam saja seperti orang galau." Alvino melirik ke arah sang istri, ia pikir Aliya sudah lupa tentang rencana terakhirnya.


"Ya masih lah, Mas. Aku itu sudah menyusun jadwal weekend ini selama satu minggu. masa aku harus nunggu weekend minggu depan untuk naik ke puncak Monas, sudah tidak seru dong. Pokoknya sekarang aku mau kesana!"


"I-iya, ini aku putar arah lagi ya," ucap Alvino yang kembali memutar setirnya kembali ke jalan awal.


Dengan wajah cemberut Aliya menyandarkan tubuhnya seraya menatap keluar jendela. sementara Alvino hanya bisa mengelus dada karena mood Aliya yang gampang sekali berubah.


Huftt dia benar-benar tidak bisa di tebak, batin Alvino.


Bersambung 💖

__ADS_1


Jangan lupa kembang kopinya gaes biar author makin melek 😂,


__ADS_2