Jerat Hasrat Sang Calon Duda

Jerat Hasrat Sang Calon Duda
Bab.77


__ADS_3

"Apa!" Arumi berdiri dari posisinya dengan tangan yang memegang sudut meja karena kepala yang tiba-tiba saja merasa pusing. Ia benar-benar terkejut ketika mendengar penuturan sang suami tentang masalah yang sedang di hadapi Alvino saat ini.


Alvaro berdiri dan menuntun sang istri untuk kembali duduk. "Jangan terkejut seperti itu, ayo duduk dulu istri ku sayang, kamu harus tenang nanti tekanan darah kamu naik lagi, masuk rumah sakit lagi."


Alvaro memang sudah menebak hal ini akan terjadi, ia sudah menyediakan tisu, air minum dan juga obat Arumi di atas meja itu. Selama ini ia selalu berusaha untuk menutupi hal ini dari sang istri.


Karena Alvaro tidak ingin Arumi khawatir. Ia sangat mencintai istrinya, hingga ia tidak ingin istrinya itu ikut khawatir dengan Alvino. Namun setelah semua telah terbongkar, Alvaro merasa sudah saatnya ia memberitahu Arumi.


Arumi meneguk segelas air hingga habis tak tersisa kemudian kembali menatap sang suami. "Kenapa kamu baru cerita sekarang sih, Mas. Aku seperti orang bodoh di tengah semua orang yang tahu segalanya. Shela, berani-beraninya dia membohongi kita selama ini, terutama Naya Aku sudah sangat menyayanginya."


"Hufftt, kamu pikir aku tidak. Aku juga sangat menyayanginya, tapi Aku rasa sudah cukup sampai di sini aku ikut campur, selebihnya semua pilihan Aku percayakan kepada Alvino."


"Aku harus bertemu dengan Shela sekarang juga," ucap Arumi lalu kembali berdiri dari tempat duduknya.


"Shela kan masih di Melbourne," sahut Alvaro.


Arumi pun kembali duduk, ia lupa karena terlalu emosi. "Iya juga ya. Bagaimana nasib Alvino di sana sekarang ... dia pasti sangat terpukul, tidak ada orang yang mendampinginya melewati semua ini."


Alvaro kembali berusaha mengumpulkan keberanian untuk menceritakan rahasia selanjutnya. Jika di hadapan semua orang Alvaro menjadi seekor singa yang begitu kejam dan dingin, namun di hadapan Arumi ia berubah menjadi kucing anggora.


"Ehm, sebenarnya ... Alvino sudah menikah lagi dengan wanita yang dia cintai beberapa waktu yang lalu."


"Apa!" Arumi memijat-mijat tekuk lehernya seraya menyadarkan tubuh di kursi yang ia duduki.


Alvaro pun dengan cekatan mengambil obat dan langsung di berikan kepada Arumi. "Kamu ini kenapa sih kaget terus, nanti tekanan darah kamu naik. Ingat kita belum punya cucu."

__ADS_1


Setelah beberapa saat setelah memakan obat, Arumi bisa kembali tenang. "Mas, sebenarnya hal apa saja sih yang kamu tutupi dari ku? Selama ini kamu tidak pernah menutupi apapun dari ku."


"Ya ini kasusnya beda. Pokoknya sekarang Alvino sudah menikah lagi dan dia mencintai wanita itu."


"Siapa wanita itu, Mas?"


Alvino menarik napas dalam-dalam kemudian menghembuskannya perlahan. "Kamu mengenalnya. Dia adalah wanita muda dan juga sahabat Noah, namanya Aliya."


"Ap--" Arumi tidak bisa melanjutkan ucapannya karena Alvaro dengan sigap menutup mulutnya dengan tangan.


"Sudah jangan bilang apa lagi, pokoknya begitulah. Aku harap kamu bisa menerima Aliya sebagai menantu kita," ucap Alvaro lalu menarik tangannya yang tadi menutup mulut sang istri.


Sejenak Arumi tertegun. Entah kenapa ia merasa yang di alami Alvino saat ini begitu mirip dengan kisah masalalunya bersama sang suami, meskipun ada sedikit perbedaan.


"Hey, buruk apa maksud mu? Buktinya setelah semua masalah itu, aku memiliki kamu yang begitu aku cintai sekarang."


"Benar juga sih. Tapi Aliya, apakah dia benar-benar mencintai Alvino. Aku takut dia hanya terpaksa?"


Alvaro menuang air putih di dalam gelas kemudian ia teguk sampai habis. Masalah perasaan Aliya, Alvaro juga belum tahu pasti. "Aku tidak tahu pasti, tapi Alvino itu adalah putra ku, dia pasti bisa meluluhkan hati gadis itu. Kurang apa coba, putra kita tampan, sukses dan mapan."


Arumi menggelengkan kepalanya seraya menatap sang suami dengan tatapan tak percaya. Selama ini Alvaro selau saja membanggakan Alvino. "Ck, kamu selalu saja sangat percaya diri jika sudah membanggakan putra kita. Terus kenapa Shela bisa sampai selingkuh? Padahal dia sudah mempunyai Alvino yang begitu sempurna."


"Hati Shela itu sudah minus," jawab Alvaro dengan wajah kesal.


~

__ADS_1


Triiinggg....


Shela menjatuhkan sendok di tangannya saat melihat Alvino masuk ke ruangan rawat Naya sambil menggandeng tangan seorang wanita yang begitu familiar baginya.


"Mas, kamu ... Aliya." Shela melirik kearah ranjang rumah sakit, untung saja sekarang Naya masih tertidur karena pengaruh obat yang di suntikan perawat dari selang infus.


Aliya menundukkan kepalanya, rasa bersalah kembali berkecamuk dari dalam dirinya, ia benar-benar tidak sanggup untuk memandang Shela.


Lain dengan Alvino yang Malah mempererat genggaman tangannya. "Dulu saat kamu ketahuan selingkuh kamu berkata, aku boleh mempunyai seorang wanita lain selain kamu. Kamu selalu penasaran siapa wanita itu kan? Sekarang aku membawanya kehadapan mu."


Shela mencengkram erat kedua tangannya lalu tersenyum dengan sinis. "Haha, jadi selama ini kalian bersandiwara?" Shela beralih menatap Aliya dengan tajam. "Kamu sengaja kan masuk kedalam rumah ku agar kamu bisa meracuni otak Naya."


"Shela, jaga ucapan kamu," sahut Alvino tegas.


Shela kembali menatap Alvino. "Aku memang meminta kamu mencari wanita lain, tapi apa kamu pikir wanita ini pantas di sandingkan dengan ku, dia kampungan dan tidak berkelas."


Paaakkkk..


"Mas, tahan emosi kamu," sahut Aliya pada akhirnya. Namun sepertinya Alvino tidak perduli dan terus tersulut emosi.


Satu tamparan keras mendarat di wajah Shela untuk pertama kalinya. Selama ini Alvino terus berusaha menahan diri namun kali ini tidak lagi. "Jangan pernah memghina dia, mengerti!"


Bersambung 💖


Huaaah besok senin ya gaes jangan lupa vote yak, l love you bestie 🥰

__ADS_1


__ADS_2