
A few moments later...
"Terima kasih untuk makanannya, Mas. Hem, baunya harum sekali, ayo makan sama-sama."
"I-iya, ayo." Vino kembali menyeka keringat yang membasahi dahinya lalu mengikuti langkah sang istri menuju sofa yang ada di ruang kerjanya.
Di atas meja sofa sudah tersedia nasi dan beberapa lauk pauk lain yang disediakan oleh pegawai Alvino. "Mas terlihat lelah sekali, capek ya karena mencari ini?"
"Ti-tidak kok, Mas lelah sama sekali. Ayo makan yang banyak." Ia meletakkan satu sendok nasi di atas piring Aliya.
Aliya pun langsung membuka isi kantong kresek itu. Ia memindahkan sambal ikan terbang itu ke atas piring yang sudah ia sediakan sebelumnya. "Wah sambalnya banyak."
"Iya dong, Ibu tadi memberikan banyak sambalnya." Alvino merasa perjuangannya untuk mendapatkan makanan tersebut tidaklah sia-sia.
Alvino terus tersenyum sampai saat ia melihat Aliya hanya memakan sambal dan nasi tanpa makan ikannya. ",Kok ikannya tidak di makan sayang?"
"Aku memang cuma suka sambalnya Mas, enak gurih pas sekali." Aliya kembali melanjutkan aktivitas makannya. Sementara Alvino menyandarkan tubuhnya yang terasa remuk.
Kalau dia cuma suka sambalnya, aku bisa beli di warung dekat kantor saja, batin Alvino.
~
Berbeda dengan Alvino yang menikmati makan siangnya bersama sang istri. Abian memanfaatkan waktu itu untuk menemui Viona yang masih marah kepadanya.
Abian segera beranjak turun dari mobil ketika melihat Viona keluar dari kantornya. "Hey Yona, mau makan siang bersama."
Viona menghentikan langkahnya seraya menatap Abian dengan tatapan kesal. "Kamu siapa ya?"
"Ih Yona, tidak lucu. kamu jangan sok-sok lupa begitu. Kamu bilang aku harus berjuang ini sekarang aku sedang berjuang untuk kamu."
"Tapi sebelum kamu berjuang seharusnya kamu mencari cara yang lebih romantis untuk membuat aku tidak marah lagi kepadamu setelah kejadian kemarin malam."
Viona hendak melangkah pergi namun Abian kembali mencegatnya. "Apa lagi sih?"
__ADS_1
"Aku mengaku aku salah karena terlalu cemburu kepadamu dan bersikap keluar batas. Maafin aku ya?"
"Nanti aku pikir-pikir dulu. Aku mau pergi sekarang, banyak urusan." Viona melangkah melewati Abian begitu saja.
Sementara Abian masih berada di sana, bergelut dalam pikirannya sendiri. selama ini ia lebih banyak bermain-main dengan wanita penghibur yang ada di klub malam.
Sampai dia lupa untuk memperjuangkan seorang wanita yang katanya ia cintai. Ia mulai tersadar ketika melihat Alvino sudah menemukan tambatan hatinya dan sebentar lagi akan memiliki anak. Sementara dia baru saja mulai berjuang.
~
Malam harinya setelah selesai makan malam Alvino mendapatkan telepon dari Abian yang memintanya untuk datang ke apartemen. sebagai seorang sahabat tentu saja Alvino akan pergi untuk menemui Abian.
Padahal saat ini ia sedang berkumpul bersama keluarganya di sofa ruang keluarga. Meskipun belum mendengar cerita sang sahabat tetapi Alvino tahu pasti Abian galau karena Viona.
"Kamu bertengkar dengan Abian?" tanya Alvino kepada saudara kembarnya yang saat ini sedang duduk di samping sang mama.
"Tau, ah. Dia menyebalkan akhir-akhir ini," jawaban Viona.
Memangnya kenapa Mas?" tanya Aliya penasaran.
Alvaro pun terkekeh mendengar ucapan sang istri. "Anak muda jaman sekarang perempuan suka marah, ngambek dan laki-lakinya tidak peka, ya jadinya gitu. dulu mama tidak pernah marah seperti itu kepada papa."
Arumi menyandarkan kepalanya di pundak sang suami. "Lihat kami sekarang, masih romantis kan."
Viona terperangah melihat kebucinan kedua orangtuanya. "Astaga, Mama dan Papa benar-benar tidak terduga."
"Iri bilang bos," sahut Alvino lalu tekekeh sendiri.
"Idih siapa yang iri sih, tau ah." pernah merasa terpojokan Viona pun melangkah pergi dari tempat tersebut.
"Yah, kan Kak Viona jadi marah. Mas jangan seperti itu dong," ujar Aliya.
"Hehe iya sayang, kalau begitu aku ke apartemen Abian dulu ya."
__ADS_1
"Iya, Mas. Hati-hati."
Alvino berdiri dari posisinya mencium kening sang istri dan tak lupa berpamitan juga dengan kedua orang tuanya.
Sejak kecil Alvino sudah mengenal Abian dengan baik. meskipun mereka tumbuh dan berkembang di lingkungan yang berbeda. Meski sering bertengkar karena masalah sepele namun bisa terpuruk seperti ini pasti mereka akan saling mensupport satu sama lain meskipun sekarang Alvino sudah mempunyai dunianya sendiri.
~
Tidak butuh waktu lama untuk Alvino sampai ke gedung apartemen di mana Abian tinggal karena jaraknya memang tidak terlalu jauh dari Mansion utama keluarga Wilson.
Sesampainya di unit apartemen Abian Alvino juga tidak perlu memencet bel karena ia sudah mengetahui kode pintu apartemen tersebut.
"Hey, kau kenapa?" tanya Alvino saat melihat sahabatnya itu duduk di sofa sambil melamun.
Perlahan Abian menoleh, sambil mengangkat sebelah tangannya yang sedang memegang botol. "Ayo temani aku minum."
"Ck, kau ini. Saat ada masalah pasti larinya ke alkohol ... ya baiklah, satu botol saja ya, jangan ngelunjak." Alvino meraih botol itu dan langsung membukanya. Ia menuang minuman tersebut ke dalam dua buah gelas yang sudah tersedia di atas meja. "Ayo katakan, kau dan Viona kenapa lagi?"
"Berat, Vin. Aku juga bingung harus bersikap seperti apa. Hufftt, aku sudah terbiasa menjadi sahabatnya. Sepertinya keputusan ku menjatuhkan hati kepadanya ... itu salah."
Abian meraih gelas yang ada di atas meja lalu meneguk isinya hingga tidak tersisa. alfina mengerti dengan perasaan Abian dan juga ia tahu bagaimana keras kepalanya seorang Viona.
Alvino meraih gelas nya dan meneguk minuman itu hingga habis. "Huft, yakin kamu akan menyerah?"
"Tidak, aku benar-benar mencintainya! Ah sial, kenapa aku lemah seperti ini." Abian menundukkan kepalanya seraya meratapi dirinya sendiri.
"Tidak apa-apa. Capek boleh, menyerah jangan. kamu tenang saja jika aku diminta untuk memilih berpihak pada siapa Tentu saja aku akan berpihak kepadamu meskipun Viona saudaraku."
Akhirnya Abian bisa kembali tersenyum meski hatinya masih dalam keadaan yang tidak baik-baik saja. "Kau memang yang terbaik. Aku malas mengakuinya tapi kamu sahabat terbaik ku."
"Haha, tentu saja. Ayo minum lagi, jangan galau brother." Alvino kembali menuangkan minuman di dalam gelasnya dan juga gelas Abian.
Sudah lama mereka tidak menghabiskan waktu untuk mengobrol seperti ini. Hingga akhirnya yang tadi hanya ingin minum satu botol alkohol nyatanya sekarang sudah habis dua botol.
__ADS_1
Bersambung 💖🥰
Jangan lupa dukungannya ya readers...