
"Hahaha, sepertinya rencana ku berhasil ya." Alvino tidak bisa menahan tawanya mendengarkan semua cerita Abian. Sebenarnya ia sudah tahu, jika wanita itu adalah Sabrina dan ia sengaja memanfaatkan kesempatan tersebut untuk menyadarkan Viona.
Meski secara tidak langsung, Alvino sudah mengorbankan Abian yang kewalahan menghadapi Sabrina.
"Bisa-bisanya kamu tertawa setelah aku hampir saja mendapatkan masalah, untung saja Viona tidak marah kepada ku. Tapi, malam tadi dia menangis dan ...." Abian menghentikan ucapannya saat ingatan tentang ciuman malam tadi kembali terputar dalam ingatan.
"Dan apa? Kamu dan dia sudah itu kan, iya kan." Alvino terlihat sangat antusias, menanti jawaban dari Abian.
"Tidak sampai ke situ juga. Tapi sekarang dia sudah lebih terbuka kepada ku, pagi ini dia membuatkan ku sarapan roti gosong berbentuk hati."
Abian memejamkan matanya, mengingat rasa pahit dari roti yang menjadi manis karena di buat oleh tangan istrinya sendiri.
Apa itu, apa yang bisa di banggakan dari sebuah roti gosong? Cinta memang susah untuk di pahami. Karena cinta lebih mengandalkan hati dari pada logika.
Alvino menggelengkan kepalanya seraya terus tekekeh hingga kedua sisi bahunya terangkat beraturan. "Ya aku mengerti maksud mu. Jika seorang Viona Wilson mau menyentuh dapur apalagi sampai membuat sarapan, itu berarti kamu spesial baginya."
Brak
Abian menghentakkan tangannya ke atas meja dengan wajah yang nampak sangat antusias. "Benarkan? Firasat ku juga berkata begitu. Kira-kira apa yang harus hadiahkan kepadanya agar hubungan kami semakin erat?"
Alvino nampak berpikir keras untuk pertanyaan yang satu itu. "Emm... Ferrari, tas Hermes, Gucci ... ah tidak, itu terlalu biasa untuk seorang Viona. Apa ya, aku tidak paham seleranya."
Abian kembali menyadarkan tubuhnya yang tiba-tiba saja merasa lemas. "Kalau kamu bingung, apalagi aku. Aku sudah sering melihat bagaimana cara Viona menghabiskan uang, dan sekarang aku bingung harus memberikan apa karena dia sudah punya segalanya."
"Sudah jangan terlalu di pikirkan. Apa kamu ingat liburan tiga tahun lalu, dia melompat kegirangan hanya karena mendapatkan keong di tepi laut, ikuti saja kata hatimu. Karena yang istimewa tidak harus mewah."
Kali ini Abian setuju dengan ucapan Alvino. Lengkungan senyum kembali terpancar dari wajahnya. "Kamu memang yang terbaik. Terimakasih Kakak ipar."
"Ck, haha. Baru kali ini aku mendengar kamu memangil ku Kakak ipar." Alvino kembali menegapkan posisinya, menatap Abian seraya melipat kedua tangan di atas meja kerja. "Aku butuh bantuan mu."
__ADS_1
Mendengar ucapan Alvino, Abian yang nampak penasaran pun menyondongkan tubuhnya ke arah Alvino. "Apa lagi ini, apa Aliya mengidam yang aneh-aneh?"
"Tidak, Aku dan Aliya berencana untuk pergi Swiss. Dia sangat merindukan Naya, maksud ku, aku juga sangat merindukan Naya. Sekarang Naya bersekolah di sana dan tinggal bersama seorang pengasuh. Aku juga tidak mengerti kenapa, tapi Shela sibuk dengan pekerjaannya. Setidaknya aku harus mengunjungi Naya kan?"
Abian nampak tertegun. Setelah masa kelam yang begitu pahit untuk seorang Alvino Wilson, Abian hampir lupa jika ada seorang anak kecil tak berdosa yang seolah terombang-ambing di tengah perpisahan yang harus terjadi.
Naya. Ya, gadis kecil itu di paksa untuk berpikir dewasa sebelum waktunya, di paksa kenyataan untuk mengikuti alur hidup yang berkelok-kelok dan juga merelakan diri jauh dari seorang laki-laki yang ia kenal sebagai seorang 'Daddy'
"Hufft, kamu benar. Jadi kapan kamu akan berangkat?"
...----------------...
"Ini baju atau plastik gorengan, tipis terawang," ucap Viona seraya menatap serius lingerie seksi yang ada di tangannya. Ia pun menanti penjelasan dari wanita yang saat ini berdiri di sampingnya. "Al, kamu tidak meminta ku memakai ini kan?"
"Tadi katanya mau membuat gebrakan baru dalam hubungan pernikahan, nah ini caranya. Kak Vio, aku bukan bermaksud mengajari tapi fantasi liar Kak Bian pasti sangat luar biasa."
Mata Viona pun membulat seketika.
Aliya tertawa sendiri jika mengingat semua koleksi video xx milik Abian, yang secara tidak sengaja ia tonton tetapi di satu sisi ia belajar banyak hal untuk menyenangkan suaminya.
"Ehm kebetulan aku tidak sengaja mengetahuinya. Aku sangat senang kalian sampai ke tahap ini, aku yakin sebenarnya cinta itu sudah tumbuh di dalam hati Kak Vio tetapi belum bisa terungkapkan saja, biarkan waktu yang menjawab semuanya, yang sekarang harus Kakak lakukan hanyalah memenuhi semua kebutuhan suami yang sudah sepantasnya ia dapatkan."
Viona berdecak seraya menundukkan kepalanya. "Ya, kamu benar. Kejadian malam tadi benar-benar membuat aku sadar jika aku takut kehilangan Abian. Kalau begitu aku akan mengikuti saran mu, ayo."
Viona dan Aliya melangkah menuju kasir untuk membayar pakaian satin tipis tersebut. meskipun seumur hidup Viona tidak pernah mengenakan kain seperti itu tetapi kali ini ia berusaha untuk memberanikan diri demi sebuah pembuktian.
Setelah kejadian malam tadi, Viona sadar jika dalam sebuah pernikahan yang tidak didasari oleh cinta, bukan hanya satu pihak yang harus berjuang tetapi keduanya harus sama-sama berjuang sampai mereka menemukan kebahagiaan tersebut.
...----------------...
__ADS_1
Saat mendengar suara mobil dari luar, Viona segera bergegas merapikan rambut dan juga pakaiannya untuk menyambut kedatangan sang suami yang baru saja pulang dari kantor.
Klek.
"Aku pulang, kamu cantik sekali malam ini mau kemana?" tanya Abian yang merasa penasaran, karena tidak biasanya Viona mengenakan dress dan juga memakai make up jika tidak ingin pergi keluar.
"Aku tidak mau kemana-mana. Kamu sendiri kenapa baru pulang, ini sudah jam tujuh malam." Viona meraih tas dan juga jas yang ada di tangan sang suami, lalu mereka melangkah beriringan masuk kedalam rumah.
"Maaf, aku tadi ada meeting penting di luar."
Viona menghentikan langkahnya lalu menoleh menatap sang suami dengan tajam. "Meeting. Sama siapa saja, di mana, apa Pocong nungging itu ikut juga?"
"Pocong nungging ... maksud kamu Sabrina?"
"Iya, apa pocong nungging ikut dalam meeting itu? Aku benar-benar tidak percaya bisa bertemu dengan dia lagi setelah sekian lama. Astaga, membayangkan wajah sombongnya saja sudah membuat ku panas."
Abian lagi-lagi berhasil dibuat terkekeh mendengar celotehan Viona. Tanpa menunda waktu ia meraih pinggang ramping sang istri dengan sebelah tangannya dan menempelkan tubuh mereka, kepalanya pun nampak semakin maju hingga mulutnya berhenti tepat di telinga Viona.
"Apa kamu mau aku buat menungging? Sepertinya itu akan menyenangkan," bisik Abian.
Tangan kanan Abian mulai menarik naik ujung dres Viona. Namun baru setengah jalan, tangan Viona sudah lebih dulu mencegahnya.
Ya, Viona tidak ingin lingerie yang sudah ia beli tidak terpakai dan ia juga berpikir sesuatu yang begitu intim harus di siapkan dengan sempurna. "Tahan dulu, kamu baru pulang. Kamu harus mandi, makan malam barulah setelah itu kamu bisa membolak-balikkan tubuh ku."
Glek!
Abian menelan salivanya sekuat tenaga saat mendengar lirihan suara Viona yang membuat sekujur tubuhnya meremang.
Bersambung 💖🥰
__ADS_1
MPnya lanjut besok siang yak, janji deh janji 😂😂