
...Aku pernah hancur karena terlalu percaya, pernah juga patah karena memilih orang yang salah dan aku pernah memutuskan berjuang untuk hati yang memperjuangkan orang lain. Di tikam oleh hati sendiri ternyata lebih menyakitkan. Sehancur itu aku pernah, berkali-kali bangkit hanya untuk kembali di hancurkan....
...Ini bukan tentang siapa yang salah dan siapa yang benar, bukan tentang aku atau dia yang kau pilih kemudian. Tetapi ini tentang setia yang kau gadaikan, aku tidak bisa lagi percaya, melihat mu seperti melihat patahan hati ku sendiri....
...-Alvino Wilson-...
**
"Aw sakit," keluh Alvino saat Aliya membersihkan luka di tangannya. Lukanya cukup parah hingga memar dan luka memenuhi kepalan tangannya.
"Sudah tau akan sesakit ini, tapi masih saja menghantam tembok seperti seorang jagoan, apa dengan menghajar tembok sakit hati Anda berkurang? Patah hati boleh, tapi jangan menjadi bodoh karena perasaan."
Mendengar ucapan Aliya, Alvino merasa begitu tersindir. Ya, ia memang bodoh karena bertahan dengan hati yang tidak lagi utuh, tetapi ia punya alasan, ada senyum yang harus ia saja agar tetap mengembang.
"Kau menyindir ku atau apa, hah? Ck, kamu masih muda dan belum tau rasanya patah hati dan di khianati, jadi jangan sok tau."
__ADS_1
Aliya baru saja selesai membalut luka Alvino dengan perban. Ia mengangkat kepalanya melihat pria yang saat ini tengah menatapnya dengan kesal. "Aku bingung, kenapa Anda masih bertahan jika memang sudah tidak bisa di pertahankan? ... Maaf, saya tidak bermaksud ikut campur urusan rumah tangga Anda, tapi tapi kalau hati sudah tidak yakin kenapa harus bertahan?"
"Aku bertahan demi senyum seseorang yang aku jaga agar ia tidak merasakan kesedihan." Alvino menyadarkan tubuhnya seraya menatap langit-langit ruangan. "Naya mempunyai penyakit jantung bawaan lahir. Dia tidak boleh kaget, tidak boleh bersedih dan juga dia tidak bisa bermain bebas seperti anak seusianya. Operasi jantung hanya bisa di lakukan saat usianya mencapai enam tahun, untuk itulah aku bertahan meski aku sendiri kewalahan menahan Shela agar tetap tinggal, setidaknya sampai Naya selesai menjalani operasi dia harus tetap mengetahui jika kedua orangtuanya baik-baik saja."
Aliya akhirnya mengerti jika selama ini di balik sikap Alvino, ada luka yang begitu dalam. Luka yang tidak bisa di ceritakan kepada siapapun, karena orang tidak akan mengerti, bagaimana pengorbanan seorang Ayah untuk anaknya.
"Hey, kau kenapa melihat ku seperti itu, kamu tidak perlu iba. Sekarang kamu sudah tau semuanya kan? Aku tidak dengan sengaja membuat diri ku tersiksa, tapi Naya lebih berharga dari pada diriku sendiri." Alvino memalingkan wajahnya saat merasakan matanya mulai memanas.
"Terimakasih karena sudah membuat saya mengerti. Naya pasti sangat bangga mempunyai Daddy yang luar biasa seperti Anda. Yakinlah suatu saat dia akan datang ke pelukan Anda dan berkata 'lepaskan saja Daddy, I'm fine' . Ya, suatu saat dan sampai saat itu tiba, Anda bisa mengandalkan saya."
"Pundak saya ini cukup kokoh untuk menopang kepala Anda, coba saja." Aliya menarik tubuh Alvino hingga kepala pria itu bersandar di pundak Aliya
Alvino nampak kaget dan ia bisa merasakan desiran aneh di tubuhnya. "Hey bocah, apa yang kau lakukan." Alvino berusaha menegapkan posisinya tetapi Aliya malah menahan agar ia tidak bergerak.
"Diam saja, dulu. Dengarkan saya baik-baik, tidak apa-apa jika Anda bertahan dengan pernikahan yang sudah di ambang kehancuran, tapi ingat Anda tidak boleh menopangnya sendiri, melibatkan orang lain sebagai pegangan itu tidak buruk, beban Anda akan terasa lebih ringan. Mulai sekarang Anda bisa bicara santai dengan saya, karena untuk masalah ini sepertinya bukan lagi masalah pribadi yang bisa Anda atasi sendiri. Percayalah saya akan merahasiakan semuanya, sementara semua keputusan tentang pernikahan Anda ada di tangan Anda, saya tidak akan ikut campur."
__ADS_1
Aliya menjauhkan tubuh Alvino darinya, pria itu masih nampak terpaku hingga tidak bisa berkata apa-apa. Alvino merasa jika sekarang ia benar-benar mempunyai sandaran, dan benar saja, ia merasa baikan setelah bersandar di pundak lemah itu.
"Kalau begitu saya mau ke kantor duluan. Kalau Anda tidak mau ke kantor, nanti saya akan memberitahu sekertaris Abian jika Anda tidak masuk. Ponsel Anda benar-benar hancur, sepertinya juga butuh ponsel baru, nanti saya juga akan memberitahu sekertaris Anda, permisi."
Aliya segera beranjak pergi menuju kamarnya karena ia sudah benar-benar terlambat. Ia merasa berat untuk meninggalkan Alvino tetapi mau bagaimana lagi, ia hanya anak magang yang tidak boleh bermalas-malasan.
****
Bersambung 💖
Jangan lupa berikan dukungan untuk Author ya reader🥰
Author mau merekomendasikan novel lagi nih.
__ADS_1