
Aliya baru saja keluar dari sebuah minimarket yang ada di samping gedung apartemen tempat Abian tinggal. Dia membeli dua gelas kopi hangat untuk dia dan sang suami.
Sementara Alvino yang masih terlihat lemas dan juga mengantuk hanya bisa menunggu di sebuah kursi taman yang ada di trotoar jalan.
Aliya langsung duduk di samping sang suami dan menyodorkan satu gelas kopi."Minumlah, untuk pereda pengar."
Langsung meraih gelas kopi itu dan menebusnya secara perlahan. "Perutku benar-benar tidak nyaman, sepertinya sudah terlalu lama aku tidak minum."
"Aku tidak tahu, ternyata Mas dan Kak Bian suka minum Alkohol. Ternyata aku belum tau banyak tentang suami ku sendiri."
Alvino merangkul sang istri ketika melihat wajah cantiknya berubah cemberut. "Suami mu ini bukan orang yang suka dengan minuman itu, tapi saat aku Aku ada masalah atau Abian ada masalah, kami akan minum bersama. Apalagi sekarang dia sedang galau gara-gara saudara ku sendiri."
"Ck, kenapa juga ya mereka tidak pacaran sejak lama." dia mulai menyeruput kopinya beberapa kali lalu kembali menatap sang suami. "Oh iya Mas, gara-gara panik pagi tadi. Aku jadi ingin makan sesuatu."
mengapa baru-baru ini setelah sang istri mulai mengidam, Alvino selalu merinding ketika sang istri meminta sesuatu. Mungkin ia masih trauma karena di kejar blacky. "Memangnya kamu mau apa?"
"Malam tadi aku nonton film sama Mama, terus ada iklan kue ongol-ongol, kelihatannya enak sekali. Dulu saat magang aku pernah beli di dekat perusahaan."
Alvino kembali meneguk kopinya hingga habis tak tersisa. "Kenapa kamu selalu menginginkan makanan yang kamu makan saat kamu sedang magang di perusahaan ku? Apa tidak ada makanan di salah satu restoran di luar negeri juga tidak apa-apa."
"Aku juga tidak tau, tidak perlu sekarang kok nanti siang saja. Aku mau kue ongol-ongol nya masih hangat dan baru keluar dari kukusan."
Alvino benar-benar tidak habis pikir dengan semua permintaan a sang istri yang menurutnya sangat aneh. "Saat wanita lain mengidam barang branded, kamu malah minta ongol-ongol. Ya, baiklah akan aku kabulkan, tapi apa tidak bisa buatan rumah saja?"
"Ya tidak bisa lah. Lain tangan pasti rasanya beda. Mas sudah enakan? Kalau sudah kita pulang naik taksi saja."
Alvino berdiri dari posisinya membuang gelas kopi itu di tempat sampah yang berada tepat di sampingnya. "Ya lumayanlah, aku kan bawa mobil ke apartemen Abian kenapa kita tidak pulang naik mobil saja?"
"Aku memang bisa menyetir mobil tapi tidak dengan mobil sport, Kalau Mas mau menginap di rumah sakit, ya boleh saja aku coba."
"Tidak, terimakasih. Kalau begitu ayo kita pulang." Alvino menarik tangan sang istri agar mengikuti langkahnya.
"Mas kita mau pulang naik apa? Aku tidak mau ya kamu yang menyetir, kepala mu saja masih pusing kan."
"Siapa bilang aku yang akan menyetir, lihat di sana ada siapa."
__ADS_1
Aliya memalingkan pandangannya melihat ke arah yang ditunjuk Alvino. Nampak sebuah mobil sudah terparkir sekitar lima meter darinya lengkap dengan sopir.
"Kapan Mas, memanggil supir?"
"Saat kamu belanja tadi, ayo pulang. Aku harus pergi ke kantor setelah ini."
"Eits jangan lupa kue ongol-ongol ku ya."
"Iya tidak akan lupa, ayo kita pulang." Alvino kembali menggenggam tangan sang istri lalu mereka melangkah beriringan masuk ke dalam mobil.
Sementara Viona masih berada di apartemen Abian. entah apa yang mereka obrolkan, namun keduanya saat ini sedang duduk di balkon apartemen seraya menikmati sarapan bersama.
Viona yang baru saja selesai dengan sarapannya menoleh menatap Abian yang sejak tadi hanya terdiam. "Hey, sejak kapan kau suka pada ku?"
Helaan napas Abian terdengar begitu panjang, sebenarnya ia begitu malu untuk mengakui hal ini namun jika ia terus mengikuti egonya maka selamanya ia tidak akan pernah memiliki Viona.
"Ya sebenarnya baru ... ah, ya jujur memang sudah lama tapi kamu saja yang tidak peka. Aku saja heran dengan diri ku sendiri, kenapa aku menyukai ruba betina seperti mu."
"Hey, kau mau aku jolak dari balkon ini!" Sorot mata Viona nampak begitu tajam menatap Abian.
" Ya, aku ini memang ruba betina yang sangat cantik dan mempesona. Banyak pria yang mengejar ku, tapi anehnya aku hanya nyaman saat bersama mu, emm ... bagaimana ya menjelaskannya. Aku bisa menjadi diri ku sendiri hanya di hadapan mu, ya sepertinya begitu."
"Ck, hal apa lagi yang tidak aku ketahui tentang mu. Semua aib mu di masalalu tersimpan jelas di memory ku, Kalau kamu tidak mau menjadi pacarku maka aku akan membongkar semuanya."
Viona terkekeh ketika mendengar penuturan Abian. karena semua yang dikatakan Abian adalah benar, buku masih kecil bukan hanya Alvino yang selalu mengandalkan Abian dalam hal apapun tetapi Viona juga.
"Haha, jadi sekarang kau mengancam ku?" tanya Viona.
Abian kembali menoleh menatap Viona sambil berpangku tangan. "Aku tidak mengancam kamu dan aku juga tidak ingin terlalu percaya diri tetapi tanyakan kepada hatimu sendiri adakah pria lain yang mengerti diri kamu selain aku?"
Viona kembali terdiam, Karena pada dasarnya di dunia ini Ia memang tidak mempunyai teman laki-laki sebaiknya Abian. mungkin cinta itu telah hadir namun masih diselimuti oleh satu perasaan yang dibalut dengan kata persahabatan.
...----------------...
Menjelang siang, Alvino keluar dari kantor ketika sudah memasuki jam makan siang. iya melangkah cepat keluar dari lobi karena mau mencari kue ongol-ongol permintaan sang istri.
__ADS_1
Menurut petunjuk Aliya, toko kue itu berjualan di trotoar jalan di depan perusahaan. Kedai kue itu bukan hanya menjual ongol-ongol tetapi beberapa jenis kue tradisional lainnya.
sesampainya di tempat yang dituju Alvino menghela nafas panjang saat melihat semua tumpukan box kue yang sudah kosong. "Bu, di sini ada jual kue ongol-ongol kan?"
"Iya ada Pak, tapi udah abis ini."
"Jadi begini Bu, Istri saya sedang mengidam dan dia ingin makan kue ongol-ongol buatan Ibu, tapi dia mau gue ongol-ongol itu masih panas yang baru matang dari kukusan. Kalau Ibu bisa membuatkan kue itu untuk saya sekarang juga saya akan bayar sepuluh kali lipat."
"Buset, sepuluh kali lipat. Beneran ini?"
"Benar Bu." Alvina mengeluarkan dompetnya dan langsung mengambil uang pecahan seratus ribu sebanyak sepuluh lembar dari dalam dompet. "Saya langsung bayar dimuka."
Tentu saja wanita paruh baya itu sangat senang. "Baik bener. Kebetulan rumah Ibu dekat sini, kalau mau ikut Ibu deh ke rumah, bentaran doang kok buatnya."
Alvino melihat jam di tangannya, ia ingin memastikan jika waktunya cukup untuk menunggu sampai jadwal rapatnya sore ini. "Baik, Bu. Tidak masalah."
Akhirnya Alvino pun mengikuti ibu itu dan ternyata tinggal di gang tempat ia mencari sambal ikan terbang kemarin. Kenapa juga aku harus masuk ke tempat ini lagi.
Setelah beberapa saat berjalan akhirnya Alvino dan ibu itu sampai ke sebuah rumah sederhana.
"Nah ini rumah Ibu. kebetulan semua bahan untuk ongol-ongol masih ada di kulkas jadi buatnya cuma sebentar. Ayo masuk dulu."
"Iya Bu, terimakasih."
Baru saja Alvino hendak melangkah menuju teras, tiba-tiba saja matanya membulat melihat seorang pria paru baya keluar dari dalam rumah itu.
Bapak itu membulatkan matanya seraya menunjuk ke arah Alvino. "Eh ngapain lu disini?"
"Apa! I-itu blacky, eh maksud saya bapak ini suami Ibu?"
"Iya, udah kenal ya?'
Ya suami Ibu itu adalah pria paruh baya yang membuat Alvino susah kemarin.
Bersambung 💖
__ADS_1
Jangan lupa berikan dukungan untuk Author ya reader 🥰