
Jam makan siang di WB grup. Noah melambaikan tangannya saat melihat Aliya sedang duduk di salah satu kursi meja kantin. Ia pun segera beranjak menghampiri sahabatnya itu.
"Hey maaf telat, udah pesan makanan buat aku kan?" Noah beranjak duduk di hadapan Aliya.
"Sudah kok, bentar lagi datang. Mana proposal skripsi kamu, sini aku periksa." Aliya nampak memijat-mijat keningnya, wajahnya pun terlihat sendu.
Noah mengeluarkan laptopnya dan langsung di letakkan di atas meja, pasangannya tidak pernah lepas dari Aliya yang baginya nampak berbeda hari ini. "Kamu masih flu, kok lemes banget?"
Aliya menghela napas pelan seraya menatap sahabatnya itu. "Noah."
"Hem, kenapa?"Noah terlihat semakin penasaran ketika sahabatnya itu memanggilnya dengan tatapan sendu, tidak biasanya Aliya seperti itu.
"Noah." lagi lagi Aliya mengulang kata yang sama. ingin rasanya ia mencari makan semua yang ia rasakan kepada sahabatnya itu, tetapi bagaimana caranya sedangkan Noah adalah bagian dari keluarga Alvino.
Karena merasa begitu penasaran, Noah pun menyondongkan tubuhnya dan menatap Alia dengan serius. "Sebenarnya ada apa, ayo cerita?"
Aliya mencoba mengatur napasnya dan ingin meminta pendapat Noah tentang apa yang ia alami saat ini. "Bagaimana menurut kamu jika ada seorang wanita yang menikah dengan seorang pria yang telah beristri, sebenarnya wanita itu bukan pelakor tapi dia terpaksa karena keadaan?"
Noah kembali memundurkan tubuhnya saya menatap Alia dengan tetapan tak percaya. "Jangan-jangan kamu ... kamu ... sekarang kamu suka menonton drama-drama aneh di stasiun tv ikan terbang? astaga Aliya kamu tidak ada kerjaan lain apa, haha."
Dasar laki-laki satu ini memang tidak bisa di ajak diskusi, ini kisah hidup ku geblek, batin Aliya.
__ADS_1
"Dengerin ya, kisah-kisah seperti itu hanya fiksi kalau di dunia nyata seperti ini mungkin ada tapi di luar negeri, mulai sekarang kamu jangan menonton drama menyedihkan seperti itu, yang ada nanti kamu malah kepikiran, wajahmu saja sudah lemas."
"Ya baiklah." Aliya mengambil alih laptop Noah dan langsung fokus memeriksa proposal skripsi sahabatnya itu. Sepertinya memang tidak ada yang bisa mengerti dirinya selain dirinya sendiri, mengharapkan orang lain untuk meluapkan segala perasaan hanya membuat Aliya merasa semakin menyedihkan.
~
Menjelang sore, Aliya melangkah lemas menuju basement kantor. hari ini begitu melelahkan baginya, ia sudah merindukan ranjangnya yang begitu empuk agar bisa tertidur nyenyak.
Saat ia hendak masuk ke dalam mobil, tiba-tiba saja seseorang datang dan langsung menarik tangannya. Wajah Aliya nampak begitu panik, ia tidak henti-hentinya menoleh kanan kiri. "Tu-tuan, lepaskan saya. Sebenarnya anda mau membawa saya kemana?"
"Kamu ikut di mobil ku sekarang." Ya, pria itu adalah Alvino. Ia membuka pintu mobilnya dan menuntun Aliya untuk masuk. Ia menutup pintu mobil tersebut lalu memutar langkah dan langsung masuk ke bagian kursi setir.
"Sebenarnya kita mau kemana?" Aliya terlihat kebingungan karena Alvino tiba-tiba saja datang dan memintanya masuk kedalam mobil.
Alvino bingung bagaimana caranya mengatakan semua kepada Aliya. Jauh di lubuk hatinya ia kasihan dengan Aliya yang menjadi korban dari masalahnya. Namun jika bukan Aliya, tidak ada wanita lain yang bisa menempati posisi tersebut.
~
Hari mulai gelap, Aliya semakin bingung ketika Alvino melewati tol luar kota. Ia kembali menoleh kepada Alvino yang mengemudi dengan kecepatan tinggi.
"Tuan, sekarang saya tidak bisa menahan diri untuk bertanya, sebenarnya Anda mau membawa saya kemana? Anda tahu malam ini adalah jadwal les dengan Naya, belum lagi saya harus mengerjakan proposal skripsi saya. Saya tidak punya waktu untuk menemani Anda bersenang-senang!"
__ADS_1
"Diamlah!" Ocehan Aliya malah membuat kepala Alvino semakin pusing.
"Why? Saya mana bisa diam kalau Anda tidak jelas seperti ini." Aliya terus menekan Alvino untuk memberitahunya, hingga akhirnya Alvino menepikan mobilnya sejenak.
Tepat di mana matahari sedang mengucapkan selamat tinggal, dan langit gelap mulai mendominasi, Alvino menoleh menatap Aliya dengan serius. "Today, we will get married (Hari ini kita akan menikah)."
"What!" Mata Aliya membulat dengan sempurna. Ya, meskipun Alvino sudah melamarnya ia masih tidak menyangkut jika harus resmi menjadi istri kedua seorang Alvino Wilson hari ini juga.
Melihat Aliya yang diam terpaku, Alvino kembali melajukan mobilnya menuju Villa pribadi keluarga Wilson yang berada di kawasan perbukitan.
Aliya menyadarkan tubuhnya yang terasa begitu lemas. Sebagai seorang anak yatim piatu ia memang tidak ada lagi yang bisa mewakilkannya karena almarhum ayahnya juga anak tunggal.
Di dunia ini dia benar-benar merasa sendiri. Setidaknya ia ingin mengunjungi makam kedua orangtuanya dulu sebelum resmi menikah dengan pria yang tidak pernah ia bayangkan akan hadir dalam hidupnya.
Ibu, Ayah. Restui aku ... ku mohon, batin Aliya.
Melihat Aliya yang terdiam dengan tatapan sendu, pelahan tangan kiri Alvino bergerak menggenggam tangan Aliya. "Maafkan aku, karena sudah melibatkan kamu sejauh ini tapi yakinlah semua akan baik-baik saja, kamu bisa meluapkan semuanya sebelum aku mengikat mu lebih erat lagi. Menangis lah tidak apa-apa, mulai sekarang bersandarlah kepada ku, karena sebentar lagi aku adalah suami mu."
Aliya menoleh menatap Alvino dengan mata yang mulai berkaca-kaca, perlahan ia menyadarkan kepalanya di pundak Alvino. tetesan demi tetesan air mata mulai keluar dari sudut mata Aliya, suara isakannya terdengar begitu lirih.
Alvino mengeratkan genggaman tangannya karena perasaan bersalah yang mendominasi. Melukai seorang gadis yang tidak tahu apa-apa, menyeretnya kedalam konflik rumah tangga yang begitu berat dan juga hari ini Alvino menarik Aliya kedalam sebuah ikatan pernikahan yang begitu tabu bagi sebagian orang.
__ADS_1
Bersambung 💖
Ayo hari ini senin gaes jangan lupa kembang kopinya n votenya. 🤣🤣😘🤠biar author tambah semangat, nanti lanjut dua bab deh ðŸ¤