Jerat Hasrat Sang Calon Duda

Jerat Hasrat Sang Calon Duda
Bab.99


__ADS_3

Tidak butuh waktu lama untuk Alvino dan Aliya sampai ke warung nasi goreng. Tempat itu masih nampak ramai meski jam hampir menunjukkan jam sebelas malam.


saking ramenya Alvino sampai kebingungan untuk mencari tempat duduk. Untung saja setelah beberapa saat mereka berdiri seseorang tiba-tiba saja bangkit dan meninggalkan tempat duduknya Alvino pun langsung menarik tangan Aliya untuk duduk di sana.


Setelah mendapatkan tempat duduk seorang pria mudah datang menghampiri mereka. "Mau pesen apa Kak?"


"Saya mau nasi goreng hatinya satu tapi kecapnya jangan terlalu banyak terus ... pedas tapi kasih cabainya jangan terlalu banyak, jangan pakai kol, bawang gorengnya dibanyakin, tomatnya juga jangan diiris tebal-tebal tapi iris tipis-tipis aja, tomatnya di taruh di piring yang berbeda ya, kerupuknya juga kasih yang agak banyak dan dipisahin. Telur mata sapi jangan terlalu matang dan jangan setengah matang juga, dah itu aja."


Alvino hanya bisa diam seraya terperangah ketika mendengar Aliyah memesan nasi goreng. Begitu juga dengan pria muda itu ia hanya bisa mengganggu saya terus mencatat apa yang Aliya pesan.


"Hanya itu saja kak?"


Aliya menoleh menatap sang suami. "Mas kamu yakin tidak mau?"


"Iya, aku kenyang. Kamu makan yang banyak ya."


"Oke." Aliya kembali melihat pria yang sedang berdiri di sampingnya. "Bang Aku mau minumnya es jeruk, tanpa gula dan kalau bisa jeruk alami tanpa campuran air. Es batunya sedikit saja karena saya takut batuk."


Pria itu terlihat sangat cekatan mencatat semua yang Aliya pesan, seolah ia sudah biasa menghadapi pelanggan seperti ini. "Baiklah, mohon di tunggu sebentar ya kak."

__ADS_1


Setelah kepergian pria itu Alvino melihat sang istri dengan tatapan bingung. "Biasanya kamu kalau pesan makanan tidak secerewet ini, untung saja kita tidak di usir karena kamu banyak maunya."


"Di depan kan ada tulisannya, boleh request. Jadi aku minta saja, hebatnya lagi di sini murah loh Mas, cuma lima belas ribu porsinya banyak."


"Astaga bukan masalah murahnya Ayank." Alvino mengusap wajahnya perlahan lalu kembali mencoba tersenyum kepada sang istri.


Alvino mencoba untuk terus belajar memaklumi, Aliya sudah berusaha keras untuk menyesuaikan diri dengan kehidupannya dan tentu saja Alvino juga ingin melakukan hal yang sama.


"Mas kamu kesal ya?" tanya Aliya dengan wajah cemberutnya.


"Apa aku kesal? Haha, tidak lah. Albino kuning ini sudah di kontrak seumur hidup untuk membahagiakan kamu, jadi apapun yang kamu mau aku dengan senang hati memenuhinya.


Alvino pun menyadari bahwa sang istri lah yang kesal kepadanya. "Lah kok jadi kamu yang kesal, jangan kesal gitu, baiklah aku akan mendengarkan semua yang kamu katakan, ayo cerita lagi."


"Ogah, sudah tidak mood."


Alvino menghela napas ringan lalu kembali mencoba merayu Aliya. "Ayank jangan marah dong, nanti cantiknya di patuk ayam yang ada di botol kecap ini nih."


"Haha, Mas kamu apa sih receh banget. Iya sudah tidak kesal lagi kok, sana jauhan dikit di liatin orang tau."

__ADS_1


"Biarkan saja, kita ini halal. Yang iri berarti jomblo."


Lama mereka mengobrol seraya terus bercanda hingga kelak tawa terus mengiringi percakapan mereka berdua. hingga akhirnya pesanan nasi goreng Aliya pun datang.


Dengan sangat lahap Aliya memakan nasi goreng itu sendiri. Sementara Alvino hanya terus memandangi sang istri dengan senyum yang tidak pernah lepas dari wajahnya.


~


Keesokan harinya Alvino mengantar Aliya ke kampus untuk menyelesaikan skripsinya. "Maaf ya aku hanya bisa mengantar kamu sampai sini, nanti siang aku akan minta supir untuk menjemput kamu."


"Tidak perlu Mas, aku bisa naik taksi." Alia mendekat dan langsung mendaratkan ciuman singkat di pipi sang suami. "Sampai jumpa nanti sore." tanpa menunggu tanggapan dari sang suami Aliya segera beranjak turun dari mobil tersebut.


Alia melambaikan tangannya ketika mobil sang suami kembali melaju pergi meninggalkan tempat itu.


Tanpa Aliya sadari dari kejauhan seorang pria paruh baya sedang mengintainya dengan tatapan sinis dan juga raut wajah yang benar-benar tidak baik. "Aku hidup susah tapi kau malah enak-enakan jadi ratu."


Bersambung.


Jangan lupa mampir ke novel terbaru author ya.

__ADS_1



__ADS_2