
Shela baru saja keluar dari kamar sang putri. Ia merasa bersalah karena tidak pulang dan membuat putrinya itu bersedih. Namun begitulah kenyataan yang harus di hadapi.
"Mas, kita harus bicara," ucap Shela saat melihat sang suami baru saja masuk kedalam rumah. Namun yang ia dapatkan hanyalah sikap acuh dan tatapan datar, Alvino melangkah melewatinya begitu saja.
Helaan napas Shela terdengar begitu lirih, ia segera berbalik dan melangkah cepat untuk menyusul Alvino. "Mas, maafkan aku atas kejadian kemarin. Aku benar-benar tidak bisa berpikir saat berbicara, bisakah kamu tidak diam seperti ini dan memperjelas status pernikahan kita."
Shela terus menyeimbangkan langkahnya dengan Alvino yang menaiki tangga menuju lantai dua. Pria itu masih saja membisu, seolah semua yang ia dengar tidak lagi berarti apapun.
Sekian lama Alvino sudah menahan segalanya, hati yang telah letih berjuang untuk cinta yang ternyata bukan lah untuknya. Resah jiwa mengingat semua yang sudah terlewati dengan sia-sia.
Baginya saat ini adalah waktu untuk menepikan segala hal yang menyakitkan, meski ia belum bisa melepaskan. Ada sebuah alasan yang ia rasa tidak perlu di ucapkan berulang, cukup lihat bagaimana sekarang ia melawan getirnya hidup dengan hati yang rapuh namun ia tetap pada bangkit di tengah ketidakpastian.
"Mas! Bisa dengarkan aku tidak sih." Shela merasa begitu emosional saat sang suami terus melangkah tanpa memperdulikan semua yang ia ucapkan.
Langkah Alvino terhenti, ia berbalik menatap sang istri dengan tatapan datar. "Apa kamu masih merasa pantas untuk di dengarkan? Aku rasa kamu sekarang hanya perlu diam dan menjalani semuanya, tenang saja setelah apa yang aku pertahankan dalam pernikahan ini selesai, aku akan membebaskan mu."
Alvino melangkah menuju sebuah kamar tamu, ia masuk kedalam kamar itu dan langsung menutup pintu dengan keras hingga membuat Shela menutup matanya sejenak.
Di depan pintu itu Shela masih berdiri, terpaku dalam pikirannya sendiri. Sejak awal seharusnya ia tidak menerima perjodohan ini sehingga ia tidak perlu terjebak di dalam sesuatu perasaan yang tidak juga bisa bertaut bahkan setelah enam tahun pernikahan.
__ADS_1
Ya, ia adalah seorang putri tunggal dari keluarga yang bergantung kepada keluarga besar Wilson. Karena perusahaan yang hampir bangkrut hanya bisa di selamatkan dengan perjodohan ini.
Namun sekarang apa yang dia dapatkan, cinta? Tentu saja tidak. Bukan hanya melukai diri sendiri, tetapi ia juga telah menyiksa hati seorang pria yang sejak awal berjuang untuk mendapatkan cintanya tetapi ia sia-siakan.
~
Aliya baru saja sampai di apartement. saat masuk kedalam kamar, ia langsung mengganti pakaian dan merebahkan tubuhnya di atas ranjang, ia menoleh kearah sisi kanan ranjang di mana biasanya Alvino tertidur seraya memeluknya.
Malam ini untuk pertama kalinya ia tidur sendiri di apartemen itu. Tanpa mendapatkan gangguan dari sang sugar Daddy yang membuatnya tidak bisa tidur nyenyak.
"Aneh sekali rasanya tidur sendiri di kamar ini ... ah apasih, bagus dong malam ini aku jadi bisa tidur nyenyak, enak juga ya." Aliya mulai memejamkan matanya perlahan hingga akhirnya dering ponsel yang ada di atas meja lampu tidur membuat ia kembali terjaga.
Aliya mengerutkan keningnya saat melihat nomor baru yang melakukan panggilan video call dengannya. "Siapa ini, video call lagi. Jangan-jangan orang iseng." Aliya memutuskan untuk tidak menerima panggilan video call itu.
Dengan kesal, Aliya bangkit dari posisi berbaringnya dan bersandar di kepala ranjang. Ia memutuskan menerima panggilan video call itu, saat ia menggeser tombol di touchscreen ponselnya tiba-tiba saja--
"Aaaakkk!" secara refleks ia melemparkan ponselnya ke kasur, saat melihat wajah si ular kuning menyebalkan terpampang nyata di sana.
[Hey bocah, kenapa kau berteriak. cepat ambil ponsel mu dan lihat aku.]
__ADS_1
Dasar Albino menyebalkan, kenapa juga harus video call tengah malam seperti ini, batin Aliya.
Perlahan ia kembali meraih ponselnya dan melihat wajah Alvino yang terpampang di layar ponselnya. "Kenapa Anda menelepon jam segini, saya mau tidur?"
[Aku cuma mau melihat apa kamu tidur sendirian di sana, siapa tau saja kamu membawa pria lain.]
"Saya masih ingin hidup, mana mungkin saya membawa pria lain ke sini."
[Baiklah, aku percaya. Oh iya ini nomor ponsel ku yang baru, jangan lupa kau simpan.]
"Baik Tuan, kalau begitu saya matikan dulu ya."
[Hey tunggu! Nyanyikan aku dulu.]
"Apa!"
Bersambung 💖
Jangan lupa berikan dukungan kembang kopi, like and komen untuk author yak. nanti tambah lagi deh up-nya 😘😘😘
__ADS_1
Sapa Albino n pawangnya dong