Jerat Hasrat Sang Calon Duda

Jerat Hasrat Sang Calon Duda
Bab.134


__ADS_3

Alvino berdiri di balkon kamar hotel, menatap nanar kearah langit malam kota Swiss yang sangat indah. Ia merentangkan tangan ke depan, saat melihat salju pertama akhirnya turun.


Aku pikir tidak akan kembali ke kota ini setelah hari itu, namun ternyata takdir menuntunku kembali dengan hati yang kembali pulih, batin Alvino.


Tangannya mengepal saat cristal es yang ada di tangannya mulai mencair. Hari itu tepatnya tujuh tahun yang lalu, ia dan Shela pertama kali bertemu setelah kabar perjodohan mereka di publikasikan.


Alvino banyak belajar dari kisah pernikahan yang ia jalani bersama Shela. Dulu ia begitu yakin, setidaknya meski tidak ada cinta di antara mereka, tetapi ia yakin akan bahagia jika terus menjalani hubungan pernikahan demi kedua orang tua dan juga perusahaan.


Namun semakin lama hidup mereka benar-benar kosong. Alvino mungkin bisa bertahan meski hatinya tersiksa, namun Shela membutuhkan pria yang ia cintai.


Untuk apa terus memaksa, jika bertahan hanya membuat luka. Rasa yang tidak pernah menyatu meski terikat tali pernikahan, sungguh tidak akan ada yang nyaman menjalaninya.


Jangan memaksa jika semua telah berbeda, biarkan dia pergi untuk bahagia. Tidak ada lagi jalan untuk memperbaiki sesuatu yang di mulai dengan cara yang salah.


Perpisahan adalah jalan terbaik, untuk berhenti menyiksa diri masing-masing, meski harus melawan ego diri yang terus menuntun kepada sebuah jurang, dimana mereka akan kembali terjatuh lagi dan lagi. Memang tidak mudah, tapi pada akhirnya mereka sama-sama menemukan kebahagiaan itu di jalan masing-masing.


"Wah salju turun," ucap Aliya yang tiba-tiba saja datang dan langsung berdiri di samping Alvino.


Melihat kedatangan sang istri, tangan Alvino refleks langsung merangkul pundak kecil itu. "Cuacanya akan lebih dingin besok. Tapi tenang, aku akan pastikan kamu tidak kekurangan kehangatan."


Wajah Aliya nampak memerah, ia menepuk-nepuk punggung tangan sang suami yang mengelus bagian perutnya. "Untung saja Naya sudah tidur, apa kamu sengaja memesan kamar dengan dua bilik?"


"Hem tentu saja, aku tidak akan melewatkan kesempatan ini untuk bercinta dengan mu." Satu kecupan singkat kembali di berikan Alvino tepat di kening Aliya. "I love you so much."


Hati mana yang tidak akan luluh jika di cintai dengan penuh ketulusan. Begitulah yang Aliya rasakan saat ini, ia sangat bahagia sampai terkadang takut, adakah akhir dari kisah ini.


"I love you to. Oh iya Mas, tadi Kak Shela memberikan aku sesuatu dan aku cukup terkejut dengan isinya." Aliya mengeluarkan sebuah kotak kecil dari kantong piyamanya. "Bukalah."


Kening Alvino mengerut tajam, melihat kotak kecil yang ada di tangan sang istri. "Apa isinya?"


"Buka saja."

__ADS_1


Alvino meraih kotak kecil itu dan langsung membukanya. "Ini ... dia memberikan kamu ini?"


"Iya Kak Shela sudah bilang aku mungkin akan terkejut, tapi dia mengembalikan ini dan meminta ku untuk memakainya ... apa boleh?"


Aliya nampak ragu, sesuai dengan penjelasan Shela melalui pesan singkat, kalung berlian itu adalah kalung turun temurun yang dulu di berikan Alvaro Wilson kepada Shela dan kini di kembalikan.


Alvino menggenggam kotak itu dengan erat kemudian kembali menatap sang istri. "Kalung ini, adalah kalung tiga generasi keluarga Wilson. Aku bukan tidak mengizinkan, tapi bagi ku kalung ini adalah sebuah bukti kegagalan ku, dan aku rasa aku akan memutuskan tradisi keluarga ku."


"Jadi aku tidak boleh memakainya, meskipun kamu tau, kalung ini sudah di pakai oleh Nenek, Mama dan Kak Shela?"


"Hm aku tidak ingin kamu memakainya. Aku sudah pernah menerima kalung tradisi ini dan nyatanya Aku gagal dalam pernikahanku, mungkin memang bukan aku yang pantas untuk menerima kalung ini tapi adik-adikku. Berikan saja kepada Viona atau Vina saat kita pulang nanti."


Aliya nampak kecewa saat menerima ultimatum yang tidak terbantahkan. "Hemm baiklah. Tapi sayang sekali, berliannya sangat berkilau, dan warnanya sangat cantik."


"A-aku akan membelikan kamu kalung langsung dengan tokonya." Alvino menggerakkan tangannya menggendong sang istri ala bridal style. "Sekarang kita hanya perlu fokus menghangatkan tubuh."


...----------------...


"Hoaaamm." Viona menguap lebar saat baru saja bangkit dari posisi berbaringnya. Ia menyibak selimut di sisi kiri ranjang dan tidak menemukan sang suami. "Apa Bian sudah berangkat kerja ya."


Seraya memijat tekuk leher, Viona melangkah keluar dari kamar menuju lantai bawah, karena tenggorokannya terasa begitu kering. Sesampainya di dapur, ia tersenyum sumringah melihat semua piring kotor dan tepung yang berserakan telah bersih sampai kinclong.


"Wah tidak sia-sia juga aku punya suami yang mencintaimu kebersihan." Dengan hati riang gembira ia melangkah menuju lemari pendingin untuk mengambil air minum.


"Aaakkkk!"


"Astaga," ucap Viona yang terperanjat kaget saat melihat sang suami terbaring di bawah kitchen set dan sialnya ia tidak sengaja menginjak tangan suaminya. "Bi, kok kamu tidur di sini?"


Abian berusaha bangkit dari posisi berbaringnya seraya meringis kesakitan karena di injak oleh Viona. "Kamu pikir kenapa? Aku berkerja lembur membersihkan dapur yang lebih mirip sarang tikus. Sudah jangan memasak lagi, kamu cukup duduk santai saja dan layani aku di atas ranjang."


"Idih lagi berusaha menjadi istri sempurna, malah di batasi. Biarkan aku bereksperimen dengan semua imajinasi ku. Aku tidak akan berhenti, sewa saja tukang bersih-bersih rumah setiap pagi, itu sudah cukup."

__ADS_1


"Benar juga, baiklah setidaknya setiap pagi ada yang datang untuk membersihkan semua kekacauan yang kamu buat." Abian terkekeh sendiri jika mengingat semua kue gosong dan keras yang ia temukan di tong sampah malam tadi.


"Jangan tertawa! Menyebalkan sekali, kalau tidak berhenti aku akan ...."


Abian berusaha menahan tawanya lalu kembali menatap sang istri. "Kalau tidak berhenti kenapa?"


Tiba-tiba Viona nampak gugup di tatap sang suami dari jarak sedekat itu. "Ehm, ka-kalau tidak berhenti, aku akan me ... mengulek cabe besar yang ada di balik celana kamu itu jadi sambal geprek!"


Sontak Abian langsung menutup bagian senjatanya dengan kedua tangan. "Hah, bisa? Masa depan kita tergantung kerja antara cabe ini dan tahu isi milik mu."


"Ah sudahlah, kenapa pembahasan kita jadi semakin random saja. Tadi aku kesini untuk minum." Viona segera berdiri dan membuka lemari pendingin.


Saat tenggorokannya sudah terasa begitu segar karena menekuk satu botol penuh air mineral. Pandangan Viona tiba-tiba saja tertuju kepada satu pack strawberry yang ada di dalam kulkas. "Wah strawberry korea, i loved it."


Tanpa menunda waktu Viona meraih kotak itu dan langsung melahap satu buah strawberry. " Wah segar sekali, manis." Ia menoleh melihat sang suami yang sudah berdiri di sampingnya. "Ini kamu beli di mana?"


Mampus, aku tidak ingin berbohong kepadanya tetapi kalau aku jujur apa dia tidak akan marah, batin Abian.


"Ehm itu kemarin ... anu, itu aku--"


"Apasih, anu apa?"


"Itu strawberry pemberian ... Sabrina saatnya kebetulan datang ke kantor, sebenarnya aku tidak ingin menerimanya tapi dia memaksa, tadinya aku inbox-nya tapi malam tadi saat membuka bagasi mobil aku lihat strawberrynya kelihatan enak jadi aku bawa masuk saja."


"Pfftttt." Viona menyeburkan semua strawberry yang sudah ia kunyah ke wastafel dapur. Setelah membersihkan mulutnya ia kembali menoleh menatap sang suami dengan tatapan tajam. "Tiba-tiba saja rasanya seperti kurap, kudis panu! Ternyata dia sudah mulai bergentayangan di perusahaan Alvino?"


"Kami ingat, perusahaan tempatnya bekerja dan perusahaan Alvino kan sedang bekerja sama. Kamu khawatir aku berpaling, Yona, aku tidak mungkin melakukan itu, kamu percaya kan?"


"Aku percaya kamu, tapi aku tidak percaya dengan si penyakit kulit itu. Dia itu memang gatal dan minta di kasih krim anti bakteri biar sadar. Dia salah jika ingin melawan seorang Viona Wilson."


Abian menghela napas pelan. Ia tahu tidak bisa menghentikan Viona ketika merasa tersaingi. Perlahan tangannya bergerak mengelus pelan pucuk kepala Viona. "Terserah kamu mau melakukan apapun, tapi ingat jangan sampai melukai orang lain dan juga kamu harus ingat aku mencintaimu dan selangkah pun aku tidak akan pergi meninggalkan kamu."

__ADS_1


Bersambung 💖🥰


__ADS_2