Jerat Hasrat Sang Calon Duda

Jerat Hasrat Sang Calon Duda
Bab.126


__ADS_3

Satu minggu telah berlalu, Abian kembali bekerja seperti biasanya. Saat memasuki ruangan CEO, ia melihat untuk pertama kalinya, Alvino tertidur di kantor setelah sekian lama. "Ck, apa dia baru saja begadang mengurus bayi."


Tanpa basa-basi, Abian segera melangkah menghampiri Alvino. "Vin, bangun. Kita harus rapat ini sudah jam sepuluh."


Eluhan pelan terdengar lirih dari mulut Alvino. Malam tadi ia tidak bisa tidur karena Aliya menonton drama hingga menangis tersedu-sedu. Alhasil ia pun harus standby mendengarkan semua curhatan istrinya tentang drama tersebut.


"Vin, kamu benar-benar tidak mau bangun?" Abian kembali mengulang pertanyannya, karena waktu benar-benar mendesak. Ia terus mencoba menepuk-nepuk bahu Alvino, hingga sahabatnya itu mulai membuka mata.


Alvino bangkit dari posisi berbaringnya sambil memijat tekuk leher yang terasa begitu kaku. "Aliya mulai mengidam aneh lagi, aku benar-benar tidak bisa semalaman."


"Bhahaha, kali ini apa lagi?"


"Entahlah, aku juga bingung. Yang jelas, dia sekarang suka menonton drama Korea sampai ke bawa mimpi, sialnya mimpinya itu selalu saja tentang aku. Aku yang selingkuh lah, aku yang pergi meninggalkan dia dan yang paling parah dia mimpi aku jadi goblin. Astaga aku sampai kebingungan saat menenangkannya."


Alvino kembali menyadarkan kepalanya yang terasa begitu berat karena kurang tidur. Sejenak ia kembali tersenyum saat membayangkan sang istri yang bertingkah seperti bayi kecil di hadapannya.


"Haha, gokil sih. Sudahlah jalani saja, nanti juga berhenti sendiri. Sama seperti ketika dia suka menonton bola dan makan aneh. Tuh kan kamu senyum-senyum sendiri. Jadi bagaimana, jadi rapat tidak?"


Abian terus melihat jam di tangannya yang sudah menunjukkan pukul setengah sebelas. Ia yakin saat ini para staf sudah menunggu kedatangan Alvino di ruangan rapat.


"Iya-iya, jadi." Alvino segera berdiri, merapikan pakaian yang sedikit berantakan, kemudian melangkah keluar di ikuti Abian.


Ketika menaiki lift untuk pergi ke lantai 10 gedung perusahaan tersebut, Alvino menoleh ke arah sang sahabat. Sudah satu minggu Abian itu resmi menjadi saudara iparnya. Ia pun menjadi penasaran bagaimana kehidupan Abian bersama Viona setelah pernikahan.


"Bagaimana, sudah jebol?"


Abian yang nampak kaget menoleh dengan ekspresi wajah tercengang. "Jebol apaan? Yang ada pintu kamar yang jebol kalau aku sampai melakukan hal itu tanpa persetujuannya."


"Jadi belum?" tanya Alvino kembali memastikan.


"Belum, santai saja. Aku tidak memaksa jika dia belum siap." Jawaban Abian terdengar begitu santai meski sebenarnya jauh di dalam lubuk hatinya, ia menantikan hal itu secepat mungkin.


Alvino menyungginkan senyumnya saat mendengar ucapan Abian. "Kau hebat juga bisa bertahan sejauh ini. Apa tidak tersiksa si Ucok di dalam sana. Sepertinya kalian butuh bulan madu, pergilah kemana pun kalau perlu ke hutan Amazon sekalian."


"Bagaimana aku bisa pergi bulan madu, sementara pekerjaan kita menumpuk di sini. aku tidak bisa meninggalkan kamu yang sedang tidak fokus dengan pekerjaan karena kehamilan Aliya. Nanti setelah aku punya waktu pasti aku akan mengajak dia bulan madu itu pun kalau dia setuju."


Sebenarnya Bian sudah memikirkan tentang bulan madu tetapi Viona dan dirinya sendiri sedang sibuk pada pekerjaan mereka masing-masing.


"Jangan bicara seperti itu. Aku merasa menjadi atasan yang sangat jahat. Baiklah kalau begitu, kita beralih ke plan B, kamu tahu sendiri Viona itu adalah wanita yang keras kepala dan sangat teguh pada pendiriannya tapi sekeras-kerasnya batu akan terkikis juga dengan rasa cemburu."

__ADS_1


Abian kembali menatap Alvino dengan serius. "Apa maksud mu?"


Alvino hanya tersenyum ketika melihat ekspresi kebingungan Abian. Entah apa yang ia rencanakan tetapi sepertinya ia tidak akan mengatakan hal tersebut secara langsung.


Ting!


Pintu lift yang mereka naiki akhirnya terbuka Alvino melangkah lebih dulu kemudian diikuti oleh Abian. setelah beberapa langkah menjauh dari pintu lift kalau Vino kembali menghentikan langkahnya, berbalik menatap Abian. "Hari ini kita ada janji temu dengan pihak dari perusahaan wx group, kamu yang handle ya."


"Hey bukannya pertemuan akan di laksanakan malam hari. Siapa yang akan mereka kirim untuk mengajukan kerja sama kali ini?"


"Emm ... kamu pasti akan terkejut, dia adalah teman kuliah mu dulu, pokoknya kamu temui saja. Lagi pula hari ini Viona pasti sibuk, dia tidak akan menunggu mu di rumah."


"Membuat orang penasaran saja, ya baiklah. Yang terpenting Sekarang kita pergi ke ruangan rapat karena pasti semua staf sudah menunggu kamu sejak tadi."


...----------------...


Pukul tujuh malam, Viona baru saja sampai di halaman rumahnya yang kebetulan memang bersebelahan dengan rumah sang saudara kembar Alvino.


Semenjak ia dan Abian menikah, mereka memutuskan untuk hidup mandiri dan membeli rumah sendiri. Tidak tanggung-tanggung mereka langsung mengambil satu kediaman yang bersebelahan dengan Alvino agar mereka semakin mudah untuk menjalin silaturahmi.


"Kak Vio!"


"Ayo kesini kak, makan malam bersama. malam ini Kak Bian mungkin akan pulang terlambat karena ada pertemuan," ujar Aliya dari kejauhan.


Karena merasa kurang jelas mendengar ucapan Aliya, Viona pun mengurungkan niatnya untuk masuk ke dalam rumah dan segera beranjak pergi ke rumah Aliya dan Alvino. "Abian memangnya kemana, sama Vino?"


"Tidak, Mas Vino ada di dalam kok. Tadi Mas Alvino cuma bilang, Kak Bian ada urusan di luar, kalau mau lebih jelasnya lagi langsung bicara saja sama Mas Alvino sambil kita makan malam, ayo masuk."


"Oh begitu, baiklah."


Viona dan Aliya melangkah beriringan masuk kedalam rumah. Ketika sampai di dalam, Alvino nampak sedang duduk santai di depan televisi sambil menikmati keripik kentang.


"Hey Yona, akhirnya kau pulang juga," ucap Alvino seraya melambaikan tangannya sebentar.


Karena merasa penasaran kemana Abian pergi, Viona pun segera menghampiri Alvino. "Bian pergi kemana?"


"Oh Bian, dia sedang bertemu dengan seseorang di luar. Seorang wanita, utusan dari perusahaan WX group," jawab Alvino dengan mulut penuh keripik kentang.


"What persempuan!?" Viona berdecak kesal saat mendengar penuturan Alvino.

__ADS_1


"Kak Vio cemburu ya?" tanya Aliya seraya tekekeh sendiri.


"Haha, jangan bercanda. Aku hanya penasaran. Al, kamu tadi mengajak aku makan malam kan, aku sangat lapar sekarang. Ayo kita makan." Viona menarik tangan Aliya menuju ruang makan kediaman mewah tersebut.


Sementara Alvino masih berdiri di sana seraya cekikikan sendiri, ia merasa senang karena rencananya untuk membuat Viona dongkol berjalan dengan lancar.


~


Sekitar pukul delapan malam Alvino, Aliya dan juga Viona makan malam bersama. Namun Viona sepertinya masih merasa penasaran tentang kemana Abian pergi dan dengan siapa suaminya itu bersama saat ini.


"Wah ternyata Abian bertemu dengan Sabrina." Tiba-tiba saja Alvino berucap dengan begitu antusias, ia mengarahkan layar ponselnya ke depan wajah Viona. "Lihat ini, kamu ingatkan Sabrina kan? Dia satu kelas dengan kamu waktu SMA."


"Hah, Sabrina? Memangnya dia siapa Mas?" tanya Aliya yang sebenarnya tidak tahu apa-apa dengan rencana Alvino.


"Oh ini sayang. Sabrina ini adalah teman sekolah kami dulu. Ternyata dia berkerja di WX group, Abian pasti senang sekali bisa bertemu dengan teman lama." Dengan wajah sok polos dan tidak tahu apa-apa, Alvino menoleh kearah Viona. "Iya kan Yona?"


Tangan Viona nampak bergetar ketika mencengkram sendok yang ada di tangannya. Ia tahu betul Sabrina itu adalah salah satu wanita yang dulu begitu menyukai Abian. perlahan Viona mengangkat kepalanya lalu menatap tajam ke arah Alvino.


"Ck, kau becanda. Kamu tau sendiri kalau dia ... ah sudahlah, berikan alamat restoran tempat mereka bertemu?"


"Hey apa yang akan kau lakukan, aku tidak akan membiarkan kamu ke sana. Biarkan Abian melepas penat, dia cukup tersiksa karena mu belakangan ini. Kamu tidak perlu marah karena kamu tidak mencintainya, iya kan?"


"Mas, kenapa bicara seperti itu," sahut Aliya yang mulai berkaca-kaca. Akhir-akhir ini ia mudah sekali baper meskipun untuk sebuah masalah yang sebenarnya tidak sangkut pautnya dengan dirinya.


Hembusan napas Viona terdengar lirih, kepalanya tertunduk sebentar kemudian kembali menatap Alvino. "Baiklah, kalau begitu aku akan mencarinya sendiri."


Viona meneguk air satu gelas penuh, mencoba mengatur nafas untuk tidak terbawa emosi yang entah datang dari mana, kemudian berdiri dari posisinya. "Aku pergi dulu."


dengan gerakan cepat dan melangkah pergi dari ruang makan tersebut.


"Restoran xx, jika kau memang perduli temui dia. Jangan menutup hati, karena kapan pun dia bisa di rebut oleh orang lain. Jangan sampai kamu berakhir seperti Shela," sahut Alvino.


Viona menghentikan langkahnya sejenak berusaha untuk merenungi ucapan Alvino. Seolah mendapatkan tamparan yang begitu keras semua yang dikatakan oleh saudara kembarnya itu adalah kenyataan yang memang sudah pernah dijalani oleh Alvino sendiri.


Tanpa menoleh, Viona segera melanjutkan langkahnya keluar dari rumah itu dan melajukan mobil untuk pergi ke suatu tempat di mana sang suami berada.


Bersambung 💖🥰


Jangan lupa vote besok ya gaesss!!! Thanks for support.

__ADS_1


__ADS_2