
Tangan Noah mencengkram erat besi pembatas balkon karena kakinya yang tiba-tiba saja merasa begitu lemah karena mendengar pernyataan Alvino.
Bagaimana ia tidak terkejut. Saat ia sudah memberanikan diri untuk menyatakan perasaannya kepada Aliya tetapi ternyata ia sudah didahului oleh orang lain bahkan orang itu adalah orang terdekat dengannya yang sudah memiliki seorang istri dan juga anak.
"Apa Kakak sedang bercanda dengan ku?"
Alvino menghela napas panjang kemudian kembali menatap Noah. "Apa aku pernah bercanda dengan wajah seserius ini? Aku harap kamu mengerti dan tolong jaga rahasia ini baik-baik. Aku tahu, kamu adalah orang yang bisa aku percaya."
Alvino menepuk pundak Noah lalu melangkah pergi dari balkon utama. Ia merasa permasalahan itu sudah selesai, tidak akan ada lagi mengganggu wanitanya.
Sementara itu, Noah masih berdiri di sana dengan tatapan yang seolah masih saja tidak percaya bahwa sahabatnya Aliya menjalin hubungan dengan pria beristri, dan yang paling membuatnya bingung, apa alasan Aliya menerima Alvino.
~
Setelah pesta selesai Aliya pamit untuk pulang kepada Vina begitu juga dengan Noah. Saat sampai di halaman Mansion, Aliya terlihat heran ketika melihat ekspresi wajah Noah lain dari biasanya.
Aliya segera mensejajarkan langkahnya dengan Noah karena ia takut Noah kecewa kepadanya karena menolak pernyataan cinta. "Ehm, Noah besok makan siang di kantor bareng yuk."
__ADS_1
Noah menghentikan langkahnya lalu menoleh kearah Aliya yang saat ini sedang tersenyum kepadanya. "Kamu yakin? Berhentilah berpura-pura, aku sudah tahu semuanya. Ck, aku tau hidup mu susah tapi apa tidak bisa kamu mengandalkan aku saja, tidak perlu sampai ... oh God, Aku masih tidak percaya mengatakan hal seperti ini kepada mu."
Alia menatap Noah dengan tanaman bingung karena beberapa beberapa jam yang lalu sahabatnya itu nampak baik-baik saja, bahkan setelah ia tolak. Aliya pun punya firasat buruk tentang hal tersebut. "Apa Maksudmu, coba jelaskan?"
Noah menarik tangan Aliya agar lebih menepi dan jauh dari teras utama. "Kamu dan Kak Vino menjalin hubungan kan? Kak Vino sudah menceritakan semuanya kepada ku. Aku tidak tahu apa alasan kamu menjadi orang ketiga dalam hubungan orang lain, tapi itu salah, Al. Sekarang kamu ceritakan kepada ku, jika kamu di ancam dan kamu butuh uang, aku bisa membantu kamu."
Aliya segera menarik tangannya dari genggaman Noah. "Apa yang harus aku ceritakan ke kamu, aku masuk kedalam hubungan pernikahan orang lain bukan secara sengaja. Noah, karena sekarang kamu sudah tau jadi aku harap kamu jaga rahasia ini."
"Hah, kau bercanda. Aku benar-benar tidak tau harus mengatakan apa lagi, pokoknya sekarang aku sangat kecewa kepada mu. Jangan temui aku beberapa hari ini meski hanya sekedar menyapa ku juga tidak usah. Hati ku sedang patah, Al. Dan itu bukan karena kamu menolak ku, tapi karena kamu lebih memilih Kak Vino dari pada pria yang sudah mengenal kamu lebih dari siapapun."
Noah melangkah pergi meninggalkan tempat tersebut lalu segera masuk ke dalam mobil dan meninggalkan halaman Mansion mewah tersebut.
"Hallo, temui saja di apartemen. Sekarang juga."
Tanpa mendengar ucapan Alvino, ia segera menutup panggilan telepon tersebut lalu masuk kedalam mobilnya yang juga terparkir tidak jauh dari sana.
~
__ADS_1
Alvino yang tengah mengobrol dengan Papa dan Mamanya meletakkan ponselnya kembali ke atas meja.
"Telepon dari siapa, Vin?" tanya Arumi kepada sang putra.
"Oh itu rekan bisnis mau mengajak ku rapat jam segini, sepertinya aku tidak bisa menginap," jawab Alvino yang nampak ragu-ragu.
"Loh kok tidak jadi. Padahal anak dan istri kamu sudah setuju untuk menginap. Sekarang mereka sudah di kamar," ujar Arumi yang nampak bingung melihat sang putra yang terus saja sibuk tanpa henti.
"Biarkan saja. Alvino adalah penggantiku sekarang, jadi apapun yang dia lakukan dan apapun yang dikerjakan itu adalah demi perusahaan kita. Naya dan Shela biarkan saja di sini," sahut Alvaro. Ia tahu pasti Alvino ingin pergi menemui Aliya.
"Ya baiklah. Tapi kamu hati-hati di jalan, jangan terlalu lelah. Mama kadang kesal sama Papa kamu, padahal umurnya belum terlalu tua tapi sudah membebankan semuanya kepada mu, Vin."
"Loh kok malah nyalahin Papa, Ma."
Alvino lagi-lagi berhasil dibuat dengan pertengkaran manja kedua orang tuanya. "Haha, sudahlah, kalau begitu aku pergi dulu ya, buru-buru soalnya." Ia menjabat tangan kedua orang tuanya lalu melangkah pergi dengan cepat dari ruangan itu.
~~
__ADS_1
Bersambung 💖