
"Baiklah, serahkan semuanya." Abian mematikan panggilan telepon dan segera meraih jaket di lemari kamarnya.
Baru saja Alvino menelepon dan memberitahukan bahwa Viona belum pulang sejak pagi. Abian mempunyai firasat bahwa saat ini Viona berada di satu tempat di mana biasanya wanita itu menenangkan diri.
Ya, Viona dan Abian akan segera menggelar pesta pernikahan esok hari. Waktu yang begitu cepat untuk sebuah pernikahan kilat yang tidak keduanya sangka.
Mungkin Abian bisa lebih tenang, tetapi Viona yang notabene adalah seorang wanita karier mempunyai banyak pertimbangan. Kelak, sebagai seorang istri, dia mau tidak mau harus meninggalkan mimpi yang selama ini ia bangun dengan penuh perjuangan.
~
Pukul delapan malam, Abian sampai di depan sebuah unit apartemen. Keluarga Wilson memang mempunyai beberapa unit apartemen yang tersebar di setiap kota.
Hingga salah satu unit, di jadikan Viona sebagai tempat untuk menenangkan diri, mencari ide dan hal-hal lain.
Klek.
Abian yang memang sudah mengetahui tempat itu dan juga mengetahui password pintu, langsung masuk dan mencari keberadaan Viona.
Di dalam sebuah ruangan yang dipenuhi dengan kain-kain, mesin jahit dan gambar-gambar desain pakaian, Viona duduk termenung di sebuah sofa berwarna merah muda.
"Aku tidak pernah salah, kamu pasti ada di sini." Abian duduk di hadapan Viona yang masih terdiam bahkan ketika menyadari kedatangannya. "Kamu kenapa? Kalau masih ragu, belum terlambat kok. Kita akan menikah besok dan aku tidak mau kamu merasakan penyesalan."
Melihat Abian yang masih tersenyum bahkan ketika ia menunjukkan ketidaksetujuan yang membuat Viona merasa bersalah kenapa Ia tidak bisa teguh dengan keputusannya. Ia berandai-andai, jika saja pernikahan bisa mengobati keraguan yang ruai dalam sunyi, meratapi perasaan yang tak jua di dengar.
"Bian, aku hanya ingin menikmati hari-hari terakhir ku sebagai seorang wanita karir sebelum resmi menjadi istri kamu. Meskipun aku belum yakin, tapi aku bukan wanita bodoh yang membatalkan pernikahan hanya karena alasan klise."
Abian bergerak meraih jari jemari Viona dan menggenggamnya dengan erat. "Kalau begitu lewati malam ini bersamaku karena bukan hanya kamu yang melewati masa single tetapi aku juga dan malam ini juga adalah malam terakhir kita sebagai seorang sahabat dan setelah hari ini aku harap kamu benar-benar mencoba untuk menerima aku sebagai suamimu."
__ADS_1
"Apa ada batas waktunya?" tanya Viona. Entah mengapa ia begitu penasaran, sejauh mana Abian akan sabar menunggunya.
"Emm... jika kamu bertanya batas, maka cinta ku tak terbatas. Tapi, batas sekeras apapun aku menunggu Aku tidak ingin jatuh cinta sendiri hingga menyiksa kamu dengan keegoisan. 365 days, ya kurang lebih satu tahun aku akan menunggu kamu jatuh cinta kepada ku. Dan selama itu aku tidak akan melakukan apapun tanpa persetujuan mu."
Abian berharap setidaknya selama satu tahun Ia mempunyai satu harapan untuk bisa benar-benar memulai kehidupan baru dengan wanita yang ia cintai. Kalaupun nantinya hanya ia yang jatuh cinta sendiri, sebagai seorang laki-laki gentlemen, Abian bersiap untuk melepaskan.
Semakin dewasa Abian sudah begitu banyak melewati cerita demi cerita meski cerita itu bukanlah cerita kehidupannya. Contohnya saja kisah pernikahan sang sahabat Alvino, dari pernikahan Alvino dan Shela.
Abian bisa mengambil pelajaran yang sangat bermakna, bahwa apa yang kita paksakan hanya akan menjadi duri dalam daging dalam sebuah pernikahan.
Viona benar-benar tak percaya jawaban itu akan keluar dari mulut seorang laki-laki yang selama ini ia kenal begitu tidak sabaran untuk menunggu, bawel dan juga sahabat yang selalu ikut campur dengan segala urusannya.
"365 Days ... Are you sure (365 hari apakah kamu yakin? Waktu itu cukup lama untuk seorang laki-laki yang tidak sabaran seperti kamu."
Viona beranjak dari tempat duduknya melangkah mendekati Abian dan entah mendapatkan keberanian dari mana ia duduk di pangkuan sahabatnya itu. "Tidak akan melakukan apapun tanpa persetujuan ku, apa kamu bisa tidur dengan ku tanpa melakukan apapun? Aku tahu kamu adalah pria yang penuh dengan gairah bercinta, apakah kamu bisa membuktikan ucapanmu itu."
Abian menelan salivanya dengan sekuat tenaga saat jari jemari Viona mempelai dadanya hingga sekujur tubuhnya kembali meremang. "Yona, kamu berusaha menggoda ku atau bagaimana? Aku tidak akan menahan diri jika kamu mulai lebih dulu."
Alih-alih menyambut dengan senang hati Abian langsung memalingkan wajahnya Karena ia merasa bahwa sikap Viona benar-benar tidak biasa. "Hentikan, aku tidak melakukannya dengan mu sebelum pernikahan."
Abian berdiri dari posisinya dengan wajah yang nampak begitu kesal. "Aku benar-benar tidak mengerti kamu kenapa. Jika kamu tidak suka katakan tidak suka dan jika kamu memang ingin menikah maka ayo kita menikah. Jangan membuatku bingung seperti ini, mungkin aku terlihat santai saja dan selalu tersenyum kepadamu tapi sebenarnya hati ku juga sakit. Aku laki-laki biasa, Yona. Jangan permainkan aku seperti ini."
Abian berbalik dan melangkah menuju pintu keluar. Baru saja ia meraih handle pintu tiba-tiba dari arah belakang Viona memeluknya dengan erat.
"Jangan pergi, temani aku di sini. Malam ini adalah malam terakhir kita sebagai seorang sahabat."
Abian berbalik dan langsung memeluk Viona. "Will you marry me?"
__ADS_1
"Yes I Will." tanpa ragu Viona langsung menjawab pertanyaan Abian.
"Bagus, ingat waktu mu 365 hari, cintai aku setulus hati dan aku juga akan melakukan hal yang sama."
"Iya bawel, mungkin saja tidak akan sampai 360 hari jika kamu berusaha untuk tidak menjadi pria yang menyebalkan."
"Haha, bawel? Aku ini laki-laki mana mungkin bawel. Aku tahu tipe ideal mu seperti Tom Cruise kan. Aku akan menjadi dia agar kamu jatuh cinta."
Sejenak Viona kembali terdiam ketika mendengar ucapan Abian yang terdengar begitu bersungguh-sungguh. "Jangan, kamu tidak perlu menjadi orang lain untuk pantas dicintai. Justru sebaliknya Kamu harus menjadi diri kamu sendiri. Tadi aku hanya bercanda tapi kamu menanggapinya dengan serius sekali, semenjak kita berencana untuk menikah kamu terlalu serius hingga menganggap semua candaanku sebagai pembenaran."
"Bagaimana aku tidak serius, karena aku takut kehilangan kamu. Ehm baiklah, aku akan membuktikan semua ucapan ku setelah kita menikah. Anggap saja kita pacaran setelah menikah ... yaaa kalau orang pacaran kan berarti boleh saling berpegangan tangan, dan juga ... kissing?"
Suara tawon Viona kembali pecah ketika mendengar ucapan Abian. "Dasar mesum. Sudah jangan di bahas lagi, ayo temani aku masak mie aku lapar."
"Hah, kamu pasti belum makan apapun. baiklah kalau begitu spesial Malam ini aku akan memasak mie instan kesukaan kamu, tapi memangnya dapur di sini berfungsi? kamu kan jarang di sini."
"Ah iya juga ya, terus bagaimana. Aku lapar sekali."
"Ayo ikut aku."
Viona menahan langkahnya saat Abian hendak menariknya keluar dari apartemen tersebut. "Mau kemana?"
"Cari makanlah. malam ini adalah malam terakhir kita sebagai sahabat jadi kita harus menikmatinya sebaik mungkin, ayo pergi."
Viona hanya tersenyum lalu mengikuti langkah Abian keluar dari unit apartemen miliknya. Ia terus memandangi Abian dari belakang, separuh hidupnya ia jalani berdampingan dengan Abian. Begitu banyak kisah yang mereka rajut dan begitu banyak pertengkaran kecil yang mewarnai.
Hari ini ia akan kehilangan sahabatnya tetapi ia akan mendapatkan sosok yang lain dalam diri seseorang Abian, yang mungkin nanti akan membuat ia sadar bahwa keputusannya untuk menikah bukanlah sebuah kesalahan.
__ADS_1
Bersambung 💖🥰
Jangan lupa berikan dukungan untuk Author ya reader 🥰