Jerat Hasrat Sang Calon Duda

Jerat Hasrat Sang Calon Duda
Bab.98


__ADS_3

Malam hari setelah makan malam bersama dengan keluarga Wilson, Aliya pergi menemui Vina di kamarnya. Ia mengetuk pintu itu beberapa kali hingga terdengar suara sahutan dari dalam.


"Kamu tidak lagi sibuk kan?"


Vina menutup laptopnya lalu mendogakkan kepalanya melihat Aliya. "Tidak kok, tumben Kakak ipar ku yang cantik ini menghampiri ku, biasanya sama Kak Vino terus."


Aliya melangkah menghampiri Vina yang sedang duduk di sebuah sofa berwarna pink yang ada di kamar itu dan langsung ikut duduk di sofa tersebut.


"Apa kamu tau kalau Noah akan pulang ke Malaysia setelah acara wisuda?"


Pertanyaan Aliya membuat Vina tertegun sesaat. "Ehm, itu. Ya beberapa hari yang lalu dia mengatakannya padaku. Sebenarnya aku merasa begitu berat untuk melepaskan dia pergi setelah lebih sepuluh tahun dia tinggal di kota ini, tapi saat dia memutuskan sesuatu maka tidak akan ada satupun orang yang bisa membuatnya goyah."


Aliya bisa melihat bahwa adik iparnya itu nampak begitu sedih. "Vin, kamu sudah mengungkapkan perasaan mu padanya?"


Vina tersenyum tipis mendengar pertanyaan Aliya. Rasanya ia malu untuk menjawab karena sebenarnya ia sudah menyatakannya berkali-kali tetapi tidak di tanggapi oleh Noah.


"Aku tidak tau lagi harus mengatakan apa padanya. Selama ini aku sudah sangat sering menyampaikan perasaan ku kepadanya, tapi aku tau di hatinya hanya ada kamu, Al. Cinta tidak bisa di paksakan, jika memang kami jodoh, mau dia pergi sejauh apapun, kelak dia akan kembali kepada ku."


Sebagai seorang wanita Vina mengerti dan paham betul apa yang Noah rasakan saat ini. Memaksakan perasaannya hanya akan membuat Noah semakin menjauh darinya dan juga menyakiti dirinya sendiri.


Aliya terus berpikir apa yang harus ia ucapkan kepada Vina karena pada dasarnya dulu Ia berpikir Noah menyukai Vina, andai saat itu Ia dan Noah saling jujur dengan perasaan masing-masing akankah Aliya sampai ke tahap ini

__ADS_1


Entahlah, Bagaimana takdir mengatur rencana untuk seseorang, itu hanya menjadi sebuah misteri dan rahasia alam. Takdir menuntun Aliya untuk menyembuhkan luka seseorang hingga orang itu saat ini menjadi cinta sejatinya dan ia harap akan menjadi cinta terakhirnya.


"Aku setuju dengan mu, biarkan dia pergi mencari jati diri. Aku yakin suatu saat nanti dia akan menyadari jika tidak ada tempat terbaik untuk dia pulang, selain kepada mu."


Vina merasakan matanya mulai memanas karena merasa terharu dengan semua yang ia bicarakan dengan Aliya. Ia tidak pernah menangis di hadapan Noah, karena ia tidak mau membuat orang yang ia cintai menjadi iba padanya.


"Ehm,maaf, Al. aku jadi emosional begini, hanya di hadapan kamu aku meluapkan semua yang aku rasakan. Aku yakin jika aku menangis di hadapan Noah dia pasti akan merasa Iba, sudah cukup selama ini aku jatuh cinta sendiri, aku akan baik-baik saja meski dia pergi."


"Hug me." Aliya yang juga ikut terharu merentangkan kedua tangannya dan langsung memeluk Vina. "Dia adalah pria yang cukup keras kepala dan juga mempunyai pendirian yang kuat, sebagai sahabat kita harus mendukungnya apapun yang dia putuskan."


...ΩΩΩ...


Lama Aliya mengobrol dengan Vina hingga tanpa disadari jam sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Ia menghampiri sang suami yang masih berada di ruang kerjanya.


Alvino yang sejak tadi fokus melihat layar laptopnya kini beralih menatap sang istri yang duduk di hadapannya. "Hm masih lama Ayank. Kamu mau tambah seperti tadi siang?"


"Bukan begitu. Aku mau ngajak makan di luar." layaknya seorang anak kecil ya tiba-tiba saja Aliyah bersikap manja kepada Alvino.


Sontak saja Alvino menatap istrinya itu dengan tatapan tak percaya, saking kagetnya iya sampai melihat jam yang ada di dinding ruang kerjanya.


"Ini sudah jam sepuluh, kamu yakin mau makan di luar?" Alvino kembali memastikan bahwa ia tidak salah dengar.

__ADS_1


"Iya aku serius, masih ingat tidak nasi goreng yang letaknya di trotoar jalan di Deket lampu merah? Di sana buka dua puluh empat jam. Tapi kalau Mas tidak bisa ya tidak apa-apa, aku akan makan roti saja."


Sejenak Alvino berpikir mungkin selama ini Aliya merasa kekurangan perhatiannya karena ia sibuk bekerja di perusahaan dan tidak jarang ia pergi ke luar kota meskipun hanya sebentar. "Ba-baiklah, kalau begitu ayo kita pergi."


Aliya akhirnya bisa tersenyum sumringah. "Mas yakin, tidak sibuk?"


"Selama beberapa waktu ini kamu lebih banyak menghabiskan waktu di rumah dan aku terkadang keluar kota. aku sadar jarang memiliki waktu luang untuk mairah ini, ayo kita pergi."


Alvino berdiri dari tempat duduknya lalu melangkah keluar dari ruangan tersebut bersama Aliya. Dari masa lalu Alvino belajar bahwa seorang wanita membutuhkan perhatian bukan hanya uang.


Selama pernikahannya dengan Shela, Alvino berpikir jika ia memenuhi semua kebutuhan Shela maka istrinya itu akan bahagia tetapi ternyata semua itu tidaklah benar.


Karena hal itu pula sekarang Alvino tidak mau mengulangi kesalahan yang sama, meskipun Aliya sudah mengaku mencintainya tetapi ia takut karena rasa trauma yang sudah terlanjur menyelimuti hatinya.


Sebagai seorang laki-laki dan juga seorang suami ia kembali belajar dari awal untuk terus membagi waktunya meski begitu berat tetapi melihat istrinya menginginkan sesuatu yang sebenarnya begitu remeh dan hanya membutuhkan waktunya sedikit ia tidak tega untuk menolak.


Kedua orang tua Alvino sepertinya sudah tertidur hanya ada beberapa pelayan yang berlalu lalang untuk mengepel lantai dan juga bersih-bersih.


Pagar yang menjulang tinggi di halaman depan pun sudah tertutup rapat karena saat ini hampir tengah malam. Alvino pun harus membangunkan para satpam yang katanya berjaga tetapi malah tertidur di pos.


......................

__ADS_1


Bersambung 💖


__ADS_2