
"Niat sekali kamu, mau pulang ke Malaysia? Sampai minta aku temenin beli oleh-oleh." Vina berdiri sambil berpangku tangan. sebenarnya ia masih kesal karena Noah terlihat sangat antusias sampai memenuhi troli belanjaan dengan beberapa snack dan juga sambal botolan.
Noah hanya tersenyum, ia tahu semenjak memberitahu bahwa ia akan kembali ke Malaysia, Vina terus saja kesal kepadanya. "Iya niatlah, biasanya kan aku hanya pulang setahun sekali saat liburan semester sekarang aku bisa lebih lama tinggal di rumah bersama kedua orang tuaku."
"Semoga saja perjalanan Kamu menyenangkan dan aku harap saat di sana kamu bisa menata hati kamu seperti semula. Tidak apa-apa jika kamu menemukan jodoh kamu di sana tapi ingatlah aku ...."
Tiba-tiba saja Vina merasa tidak bisa melanjutkan ucapannya Karena rasa sesak di dada yang mulai menyeruak namun ia berusaha untuk tetap kuat di hadapan Noah. "Tapi ingatlah aku sebagai sahabat mu. Pulanglah sesekali."
Mata Vina mulai berkaca-kaca namun ia berusaha untuk memalingkan wajahnya dari Noah. Mungkin ia berpikir Noah tidak akan melihat kesedihannya, walaupun sebenarnya Noah atau betul jika Vina tidak ingin ia pergi namun Ia tetap harus pergi.
"Ya, aku tau. Ayo kita ke kasir aku sudah selesai." Noah meraih tangan Vina dan langsung menggenggamnya seraya melangkah menuju kasir.
sementara itu Vina menikah air matanya seraya terus berbicara dalam hati. *saat kamu pergi nanti aku juga akan berusaha keras melupakan perasaan ini. berjalanlah menggapai masa depanmu aku akan pastikan diriku baik-baik saja.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ*...
Di lain tempat Alvino baru saja memasuki gang botol. Ia berusaha untuk mengabaikan pandangan semua orang yang menatapnya dengan tatapan heran.
Lama ia berjalan dan mencari letak warung itu namun entah bagaimana ia selalu saja kembali ke tempat ia pertama kali masuk tadi. "Ini gang atau labirin sih, susah sekali mencari warung itu."
Di tengah kebingungannya tiba-tiba saja ia melihat seorang pria paruh baya yang sedang berjalan kaki. Langsung saja ia menghampiri pria paruh baya itu. "Maaf Pak, apa saya boleh bertanya?"
__ADS_1
"Hah, lu mau main layangan. Kagak salah?"
Alvino menggelengkan dengan cepat. "Bukan Pak. Saya mau bertanya, bertanya." iya terus mengulang ucapannya dengan penuh penekanan karena sepertinya orang yang ada di hadapannya saat ini sedikit budeg.
"Oh lu mau nanya apaan?"
Akhirnya ia bisa bernafas lega ketika bapak itu mengerti ucapannya. "Saya sedang mencari warung yang menjual sambal ikan terbang. Apa bapak tahu lokasinya di mana?"
"Hah, Sandal Jepang. Di rumah gua banyak, mau lu?"
"Astaga, Budeknya sudah tidak tertolong," guman Alvino.
Melihat bapak itu mulai emosi akhirnya Alvino berlari menjauh dari si bapak yang nampak sangat sangar. "Parah tuh bapak giliran dibilang budeg dia dengar."
~
Setelah berusaha untuk mencari informasi dari orang-orang sekitar yang tentunya tidak menyebalkan bapak-bapak tadi. Akhirnya Alvino menemukan warung makan tersebut.
Langsung saja ia masuk ke dalam warung yang kebetulan sedang ramai pengunjung karena saat ini sudah memasuki jam makan siang. "Bu, sambal ikan terbangnya masih ada?"
"Oh masih ada kok, tapi sayab ikannya patah sebelah, mau?"
__ADS_1
"Tidak apa-apa, Bu. Yang penting kan rasanya."
"Kalau begitu saya bungkusin dulu."
Alvino merasa nggak karena akhirnya misi pertamanya sebagai seorang suami siaga selesai sudah. Ia melihat jam tangannya yang sudah menunjukkan pukul 12.00 siang.
"Setelah ini aku bisa lebih santai."
Setelah mendapatkan makanan yang ia cari, Alvino berjalan dengan hati riang gembira keluar dari gang tersebut. Namun di tengah senyum yang terpancar terus menerus, tiba-tiba saja langkahnya terhenti melihat bapak-bapak yang tadi kembali ada di hadapannya namun kali ini bapak-bapak itu tidak sendiri melainkan membawa seekor anjing peliharaan.
Glek.
Perlahan ia mundur beberapa langkah seraya menelan salivanya dengan sekuat tenaga. "Selamat siang Pak, mau jalan-jalan ya sama si guguk."
"Lu tadi bilang gua budek kan, nih kenalan sama di blacky." pria paruh baya itu melepaskan tali anjing peliharaannya dan membiarkan anjing itu berlari menghampiri Alvino.
Mata Alvino langsung membulat ketika melihat anjing pitbull tersebut menuju ke arahnya. "Huaaaa!" dengan langkah seribu Ia berlari keluar dari gang menghindari ke jalan anjing yang terlihat begitu ganas.
"Demi anak, demi istri!!!!" Alvino terus mempercepat larinya seraya berteriak.
Bersambung 💖🥰
__ADS_1