Jerat Hasrat Sang Calon Duda

Jerat Hasrat Sang Calon Duda
Bab.140


__ADS_3

Abian dan dan Viona baru saja sampai di apartemen yang mereka sewa selama berbulan madu di Jepang. Unit apartemen yang berada di pusat kota dengan fasilitas mewah dan berkelas ditambah adanya perapian yang akan menghangatkan suasana bulan madu mereka.


Di manapun dan kapanpun ketika Viona berlibur, ia pasti langsung akan pergi mengecek balkon untuk melihat pemandangan apa yang bisa ia dapatkan setelah membayar mahal atas uang sewa yang harganya cukup fantastis.


"Hem lumayan juga, gedung-gedung pencakar langit yang ditutupi salju menjadi pemandangan yang jarang sekali aku lihat."


Abian tiba-tiba saja muncul dari arah belakang dan langsung memeluk sang istri. "Selain apartemen ini difasilitasi dengan perapian aku juga siap siaga untuk menghangatkan tubuh kamu." Tangannya yang mulai gatal, terus menyentuh apa yang bisa ia sentuh.


"Bi jangan nakal ih, ayo masuk di sini dingin." Viona menarik tangan Abian agar masuk kedalam, karena cuaca yang benar-benar dingin.


~


Sekitar pukul satu siang waktu Tokyo Jepang. Viona dan albino memutuskan untuk keluar mencari makanan street food yang terkenal di kota anime itu.


Dengan bermodalkan jaket tiga lapis, topi kupluk dan juga syal mereka sudah siap untuk menikmati hari pertama mereka di kota tersebut.


"Aku mau makan ramen, sepertinya enak di cuaca dingin seperti ini," ucap Viona seraya menuju pintu bersama Abian.


"Kalau aku sih kari hangat. Membayangkannya saja sudah membuat aku kelaparan, ayo cepat." Abian segera membuka pintu apartemen dan membiarkan Viona keluar lebih dulu.


"Sayang, nanti kita jalan-jalan dulu ya, aku ingin mengajak kamu ke suatu tempat," ucap Abian seraya menggenggam tangan sang istri.


"Boleh, aku juga ingin melihat beberapa toko pakaian lokal, sekalian survei pasar hehe," ucap Viona yang selalu memanfaatkan waktu sebaik mungkin.


Klek.

__ADS_1


Saat hendak melangkah pergi, tiba-tiba pintu unit apartemen di sebelah mereka terbuka. Seorang wanita berkacamata hitam keluar dari sana, sejenak Viona dan Abian hanya terdiam seraya memandangi wanita itu sampai akhirnya mata Viona membulat sempurna.


"Dasar kutu kupret, kudis, kurap panu! Ngapain kamu kesini?" Viona nampak sangat kaget ketika melihat wanita yang ia hindari malah tinggal di sebelah apartemen yang ia sewa.


"Kamu Sabrina?" tanya Abian yang juga tak percaya.


Dengan satu gerakan Sabrina menarik kacamata yang menutupi mata indahnya. Ia tersenyum kepada sepasang suami istri itu seolah semua terjadi secara kebetulan. "Oh my god aku benar-benar tidak menyangka bisa bertemu kalian di sini."


"Heh pocong nungging, jangan ngadi-ngadi. Kamu sengaja kan mengikuti aku dan Abian sampai ke sini?" sorot mata Viona begitu tajam dengan sebelah tangan yang menunjuk lurus ke arah Sabrina.


"Siapa yang mengada-ngada sih Viona. Aku ini adalah seorang bisnis women jadi aku bisa berada di manapun dan kapanpun, lihat name tag yang aku pakai saat ini l, aku ada event besar di Jepang jadi aku memutuskan untuk menyewa apartemen dan Oh my god aku tidak menyangka bisa bertemu kalian, sepertinya ini adalah takdir ya, haha."


"Takdir apa yang dia maksud, sial-sial," gumam Viona seraya menghentakkan kakinya kesal.


"Ya, Abian, tunggu aku belum selesai bicara!" teriakan Sabrina tidak lagi ditanggapi oleh Abian ataupun Viona, ia ditinggalkan sendirian di sana. Sejauh ini ia ingin menjadi seorang benalu di pernikahan orang lain meski untuk masuk rasanya tak ada celah tetapi yang namanya perusak rumah tangga orang lain selalu saja ada akal bulus untuk mencapai keinginannya.


~


Di sebuah restoran tradisional Jepang yang cukup terkenal di pusat kota Tokyo. Setelah makanan mereka tersaji, Viona masih saja enggan untuk menyentuh ramen yang sejak tadi ia bicarakan ketika masih di apartemen.


Kehadiran Sabrina yang tiba-tiba saja bisa tinggal di unit apartemen tepat di samping tempat mereka tinggal benar-benar membuat logika seorang Viona terus berpikir Kenapa wanita itu bisa sampai berada di sana.


"Sudah beberapa hari ini dia tidak muncul di hadapan kamu dan ketika dia muncul tiba-tiba dia sudah ada di Jepang. Aku yakin ini bukan suatu kebetulan tapi dia sengaja mengikuti kita sampai ke sini."


"Sudahlah sayang jangan dipikirkan lagi mungkin dia benar-benar ada pekerjaan dan kebetulan satu apartemen dengan kita. Fokus aja menjalani satu minggu kita di sini dengan hati yang bahagia tanpa memikirkan hal yang tidak penting seperti dia."

__ADS_1


Melihat sang suami yang nampak lebih santai dan bisa makan dengan lahap membuat Viona sedikit kesal. "Bi, Bagaimana aku bisa tenang jika pocong nungging itu menghantui aku sampai ke sini. Lebih baik kita pindah tempat menginap saja aku tidak bisa tinggal bersebelahan dengan dia ... jangan-jangan tengah malam nanti dia akan menculik kamu."


"Hus mikir apa sih kamu. saat ini sedang musim liburan karena sedang musim salju jadi semua hotel pasti akan penuh, kita tidak mungkin mencari tempat penginapan lain di waktu-waktu seperti ini, tapi kalau kamu mau tinggal di motel kecil tanpa penghangat ruangan, ya bisa saja."


"Apa, motel?" tiba-tiba saja Viona mengingat film-film yang sempat dia menonton dan ia selalu berpikir semua motel, adalah tempat para pria hidung belang datang bersama selingkuhannya. "Tidak, aku tidak mau tinggal di motel."


"Nah itu, aku ini hanya fokus padamu sampai tidak sempat memperhatikan wajah wanita lain," ujar Abian dengan sangat percaya diri.


"Ck, oh ya? Bukannya kemarin kamu bilang mau ketemu Maria otak-otak di Jepang?"


Abian kembali menghentikan aktivitas makannya lalu menegakkan kepala menatap sang istri. "Memangnya kapan aku bilang seperti itu?"


"Idih pura-pura lupa ya, waktu kita ke mall untuk membelikan kamu beberapa pakaian da*lam."


giliran hal seperti itu saja dia ingat, batin Abian.


"Ah aku hanya bercanda tapi kamu masih mengingatnya sampai sekarang. Kenapa juga aku harus bertemu dengan wanita itu sementara aku memiliki istri yang bodynya mengalahkan gitar Spanyol, aku akan bekerja keras selama berada di Jepang untuk membuat kamu hamil, tunggu saja."


"Hamil?" akhirnya Viona bisa kembali tersenyum wajahnya nampak memerah padam ketika mendengar semua ucapan Abian.


Tidak Viona pungkiri Ia memang mengharapkan hal itu segera terjadi kepadanya. Mengalami situasi mengidam dan melahirkan bayi langsung dari rahimnya adalah cita-cita semua ibu di dunia ini. "Aku penasaran bagaimana diri ku saat hamil."


"Mungkin akan lebih galak ... eh maksud ku kamu pasti akan kelihatan sangat cantik," ujar Abian lalu kembali menunduk untuk melanjutkan aktivitas makannya.


Bersambung 💖🥰

__ADS_1


__ADS_2