
Aliya keluar dari kamar sang suami yang ada di ruangan kerja itu seraya memegangi perutnya yang terasa keroncongan. sudah beberapa hari ini ia selalu cepat merasa lapar dan menginginkan hal yang tidak biasa ia makan.
Melihat sang suami sedang sibuk dengan pekerjaannya Aliya merasa tidak tega untuk mengganggu sang suami, tetapi hal yang ia inginkan ini bukanlah murni keinginannya tetapi keinginan sang calon bayi.
"Mas, aku lapar," ucap Aliya saat sudah duduk di hadapan Alvino.
Alvino yang sejak tadi fokus melihat berkas-berkas yang bertumpukan di atas mejanya kini beralih menatap sang istri. "Kamu mau makan apa sayang, katakan saja."
"Emm ... waktu aku magang di perusahaan ini. Aku di ajak oleh tim perencanaan untuk makan bersama ke gang botol di belakang gedung ini. Di tempat itu ada beberapa menu yang disediakan dan Aku paling suka sambal ikan terbang. aku mau makan itu Mas."
"A-apa tadi, sambal ikan terbang? Makanan macam apa itu." Alvino kembali melanjutkan pekerjaannya seraya menggelengkan kepala. "Ayo minta yang lain saja ya."
Senyum yang tadi terukir di wajah Aliya kini mendadak luntur. "Aku mau makan itu, kalau tidak bisa ya sudah. Tidak usah makan."
ucapan Aliya terdengar sebagai sebuah ancaman yang tidak boleh diabaikan oleh seorang suami siaga seperti Alvino. "Ba-baiklah, jangan cemberut seperti itu ya. Aku akan minta Abian untuk mencari sambal ikan terbang itu."
"Eitss now now. Aku mau Mas yang membelinya sendiri, tanpa di temani sekertaris Abian apalagi ajudan."
Mata Alvino karena biasanya ia tinggal memerintahkan para bawahannya untuk mencari apa yang ia inginkan tetapi saat ini tiba-tiba saja ia di minta harus melakukannya sendiri. Apa! Eh maksud ku, ehm ... jadi aku harus pergi ke gang itu."
__ADS_1
Perlahan Aliya menganggukkan kepalanya seraya kembali tersenyum. "Betul sekali. Maaf ya Mas, ini keinginan dia," ucap Aliya seraya menunjuk bagian perutnya.
Alvino mencoba untuk tetap tersenyum meskipun logikanya terus berpikir bagaimana caranya ia pergi ke tempat yang tidak pernah ia datangi sebelumnya. "Ahaha tentu saja. Aku ini suami siaga, yang tidak perduli halang rintang. Demi istri ku tercinta dan calon anak ku, aku pasti akan mendapatkan ikan terbang itu."
A few moments later...
"Aku ini suami yang yang payah, sudah begitu lama aku bekerja dan membangun perusahaan. Kenapa aku tidak tau ada gang botol di belakang gedung ini," ujar Alvino kepada Abian.
Abian berusaha untuk menahan tawanya karena saat ini sungguh Alvino terlihat begitu lucu. "Ehm, sudah jangan memasang wajah menyedihkan seperti itu. Tadi aku mengirim pesan chat ke salah satu karyawan di bagian departemen perencanaan dan aku sudah mendapatkan alamat tempat warung makan itu berada jadi kamu tinggal ke sana saja."
"Yang benar, alamatnya di mana? Aku harus cepat pergi dan membeli ikan terbang itu karena Aliya sudah menungguku di ruang istirahat sekarang, jangan sampai dia ngambek lagi."
Alvino hanya bisa menghela nafas pelan. Baginya hal remeh seperti ini begitu sulit tetapi akan lebih sulit baginya ketika melihat sang istri merasa sedih. "Kalau begitu aku pergi, nanti Aliya keluar dari ruanganku dan bertanya bilang saja sebentar lagi aku datang."
"Siap bos. Selamat bekerja lapangan," ucap Abian lalu berbekas sendiri, sungguh baru kali ini ia begitu puas menertawai Alvino.
Alvino tidak memperdulikan sang sahabat yang terlihat begitu senang ketika ia kesusahan, iya beranjak dari tempat duduknya lalu melangkah keluar dari ruangan itu.
~
__ADS_1
Karena gang tersebut berada tepat di belakang gedung, Alvino tidak perlu mengemudikan mobil dan hanya perlu berjalan kaki memutari gedung perusahaannya sendiri.
Sebagai seorang pewaris perusahaan WB group, yang Alvino tahu selama ini perusahaannya berkembang pesat tetapi dia tidak pernah tahu bahwa di balik gedung yang terlihat begitu mewah, ternyata ada banyak kehidupan kecil di baliknya.
Kehidupan yang selama ini tidak mungkin pernah ia jalani, karena gang botol itu dihuni oleh ratusan kepala keluarga yang didominasi oleh pendatang luar kota dan juga warga sekitar yang tidak bisa membeli rumah yang harganya lumayan fantastis untuk hidup di ibukota.
Saat ini, di depan gang botol. Hal pertama yang Alvino lihat adalah tumpukan sampah yang berserakan dan memenuhi gerbang gang tersebut.
Semua orang yang yang berlalu-lalang di jalan itu menatap Alvino dengan tatapan heran karena tidak biasanya orang yang berjas dan begitu tampan memasuki kawasan kumuh seperti itu.
Alvino mulai berpikir akan kehigienisan makanan yang diminta sang istri tetapi lagi-lagi ia kembali ke pasal pertama bahwa suami siaga harus memenuhi semua permintaan anak dan istrinya.
"Huftt, Alvino kamu bisa. Ayo masuk!" Dengan percaya diri Alvino melangkahkan kakinya masuk ke bagian dalam gang itu.
Bersambung 💖
Yuk ikuti terus perjuangan Alvino di masa-masa kehamilan sang istri.
Jangan lupa berikan dukungan kalian dengan cara vote dan juga hadiah kembang kopinya ya guys, see you... 🥰😍
__ADS_1