
Aliya keluar dari restoran, terlihat sang pengawal sedang menunggunya di parkiran. Bukannya masuk kedalam mobil, Aliya malah melangkah menuju jalan raya.
Sang pengawal pun lantas langsung menyusul Aliya. "Nona, Anda mau kemana?"
Aliya menghentikan langkahnya lalu berbalik melihat sang pengawal. "Saya butuh waktu sendiri, jangan ikuti saya."
"Ta-tapi Tuan Alvino bisa marah kepada saya."
Aliya tidak menanggapi ucapan pengawalnya itu, ia memanggil taksi dan langsung pergi meninggalkan tempat itu.
Kini tinggallah sang pengawal dalam keadaan panik, ia segera melangkah menuju mobilnya yang masih terparkir di halaman restoran. Tangannya pun bergerak cepat, mengambil ponsel dari saku celana, sudah pasti dia akan menelpon Alvino.
~
"Apa! Aliya pergi sambil menangis, kau ini bagai ... ahk sudahlah, ikuti terus terus taksinya, aku akan menyusul."
Alvino nampak begitu panik, ia yang tadinya hendak pergi bersama Abian ke ruang rapat kembali keruangan untuk mengambil kunci mobilnya.
Abian pun terlihat heran ketika melihat Alvino. "Vin kamu mau kemana sih?"
"Aliya bertemu seseorang di restoran, lalu dia keluar dalam keadaan menangis. Aku akan menyusulnya sekarang."
"Vin, sekarang ini kita ada jadwal rapat penarikan saham dari perusahaan keluarga Shela, kamu yakin tidak mau hadir?"
Alvino yang terus mencoba menghubungi Aliya, berhenti sejenak melihat Abian. "Dia selalu hadir di saat terpuruk ku, apa kamu pikir aku bisa diam saja sekarang? Kamu handel semuanya, aku pergi sekarang."
Abian hanya bisa diam terpaku seraya memandangi kepergian sang sahabat. Ya, Abian kembali mengerti satu hal yang sempat ia ragukan selama ini, yaitu cinta Alvino yang begitu besar untuk Aliya.
"Akhirnya kamu bisa jatuh cinta seperti ini Vin, syukurlah. Aku harap kau akan bahagia bersamanya," gumam Abian.
~
__ADS_1
Shela menutup pintu mobilnya dengan kasar lalu melangkah masuk kedalam rumah. Ucapan Aliya masih memenuhi pikirannya. Ia yang telah merusak keadaan dan memaksa untuk memperbaiki semua pada akhirnya berakhir sia-sia.
Dengan langkah yang begitu ringkih, Shela masuk kedalam kamar sang putri. Ia menghampiri Naya yang saat ini sedang tertidur, tangannya membelai lembut pucuk kepala Naya.
Saat merasakan sentuhan pada bagian kepalanya, pelahan Naya membuka mata. "Mommy."
"Sayang, kamu ikut Mommy pergi dari sini ya. Kita mulai kehidupan baru jauh dari sini."
Naya terlihat terkejut dengan ucapan sang Mommy, perlahan ia menggelengkan kepalanya. "Naya tidak mau ikut Mommy, Naya mau sama Daddy."
"Dengarkan Mommy, dia bukan Daddy kamu. Kamu cuma punya Mommy di dunia ini, jangan tinggalkan Mommy juga."
"Tidak! Naya mau sama Daddy." Suara isak tangis Naya mulia terdengar lirih.
~
Alvino baru saja sampai di depan gerbang sebuah taman yang ada di pusat kota. di sana juga sudah ada seorang pengawal Aliya yang sejak tadi menunggu Alvino.
"Saya tidak sempat mencari tahu, karena buru-buru ingin mengejar Nona Tuan."
"Baiklah, kamu boleh pergi. Aku akan menemuinya sekarang. Lain kali jika dia mau pergi kemanapun kabarkan pada ku, mengerti!"
"Baik Tuan, maafkan saya. Kalau begitu saya permisi."
Setelah pengawal itu melangkah pergi, Alvino pun berbalik lalu melangkah masuk ke dalam area taman. Tempat itu nampak begitu lengang karena hari ini bukanlah weekend. Di mana biasanya tempat itu selalu ramai dikunjungi oleh para penduduk kota.
Dari kejauhan Alvino bisa melihat Aliya yang saat ini sedang duduk di sebuah kursi taman yang berhadapan langsung dengan sebuah danau buatan.
Tanpa berkata apapun Alvino langsung duduk di samping Aliya dan hal itu pun membuat Aliya terkejut karena tiba-tiba saja melihat kedatangan sang suami. "Mas, kamu kenapa bisa di sini." Aliya segera menyeka air matanya yang sejak tadi mengalir tanpa henti.
"Kamu selalu saja seperti ini. Kamu selalu hadir saat aku membutuhkanmu dan kamu selalu berhasil menenangkan aku ketika aku merasa dunia tidak berpihak kepadaku. Tapi hari ini kamu terluka dan hanya diam tanpa memberitahuku, jangan hanya berbagi kebahagiaan, tapi bagilah juga kesediaanmu kepadaku. Sejak hubungan kita diketahui publik, Aku tahu kamu banyak menyembunyikan kesedihan yang tidak ingin kamu ceritakan."
__ADS_1
Aliya menatap sang suami dengan seluruh rasa sedih yang saat ini sedang pada puncaknya. "Mas, apa aku ini pantas bersanding dengan mu dan apa aku berhak menempatkan hati dan harapan ku pada mu? Aku tidak ingin mengatakan ini, tapi seseorang baru saja berkata kepada ku, bahwa aku hanyalah seorang wanita yang tidak lebih dari hewan liar yang suka apel curian."
Alvino mulai terlihat serius, ia menyeka air mata Aliya dengan tangan kanannya. "Siapa yang kamu temui tadi?"
Aliya segera memalingkan wajahnya dan melihat memandang kearah danau. "Bukan siapa-siapa."
"Aliya jujur kepada ku, siapa yang kamu temui tadi?" Alvino kembali mengulang pertanyaan yang sama karena Aliya yang terus saja menyembunyikan sesuatu darinya.
Helaan napas Aliya terdengar bergetar ketika kembali mendapatkan pertanyaan yang sama. "Mas, bisakah kamu membelikan aku air mineral, ehm aku haus."
Alvino mulai terlihat kesal, ia melangkah dan bersimpuh di hadapan sang istri. Sepertinya ia mulai paham siapa yang membuat Aliya seperti ini. "Sayang jangan mengalihkan pembicaraan, kamu bertemu dengan Shela kan? Dia menyakitimu, ayo katakan padaku."
Tangis Aliya kembali pecah ia langsung memeluk Alvino dan menangis sejadi-jadinya. Aliya memang punya sisi lemah yang selalu berusaha ia sembunyikan dari semua orang.
Tetapi di hadapan Alvino saat ini, semua yang ia rasakan akhirnya terluapkan meski tanpa kata-kata yang mengiringi.
Mata Alvino terlihat memerah dan juga berkaca-kaca, tangannya tercengkram erat karena amarah dan juga kecewa yang kembali memenuhi hati dan pikiran.
Bagi Alvino, saat seseorang menyakiti Aliya itu sama saja dengan menyakiti dirinya. "Menangis lah jika itu bisa membuat mu tenang, tapi setelah hari ini kamu harus kembali ke Aliya yang ceria, aku berjanji kamu tidak akan mendapatkan hinaan seperti ini lagi."
Tanpa berkata apapun Aliya terus mengeratkan pelukannya seraya terisak-isak diperlukan sang suami. Saat seluruh dunia menyalakan dirinya atas kehancuran orang lain, pundak kokoh itu adalah satu-satunya tempat baginya untuk menyandarkan tubuh yang terasa begitu lemah.
Mereka yang saling menguatkan hingga membuat kehancuran itu menjadi sebuah kekuatan. Berjalan bersama dengan alam semesta dan takdir hingga membuatnya tampak seperti sepasang sayap yang saling menyeimbangkan.
Di lukai oleh harapan, berdarah oleh pengkhianatan dan menelan semua hinaan sudah mereka lalui bersama. Takdir yang mempertemukan mereka tekesan seperti lelucon pada dongeng seribu satu malam.
Tetapi hari ini takdir kembali memperlihatkan apa maksud dari semua kepedihan itu. Ya, semua itu untuk membangun mental yang kokoh dan tidak terkalahkan meski di guncang ombak prahara sekalipun.
Bersambung 💖
Jangan lupa dukungannya untuk penyemangat author, terimakasih yang sudah mengikuti kisahnya sampai sejauh ini. 😍🥰
__ADS_1