
Alvino tertegun seraya memandangi kepergian Aliya. Entah kenapa ia merasa jika Aliya sangat kesal kepadanya. "Ck, dia benar-benar tidak bisa di percaya." Alvino segera menyusul wanita simpanannya itu yang sudah keluar dari pintu utama.
Aliya yang baru saja meraih handel pintu mobil, terperangah ketika Alvino lagi-lagi menyelonong masuk kedalam mobilnya. "Astaga, pria ini benar-benar. Sudah ku bilang temani Naya dulu."
"Hey, apa kau akan terus berdiri di situ, masuklah," sahut Alvino dari dalam mobil.
Mulut Aliya berkomat-kamit tidak jelas sambil beranjak masuk kedalam mobil. Setelah masuk ia langsung menoleh kearah pria yang saat ini sedang duduk di sampingnya dengan santai.
"Saya sudah bilang, temani Naya. Apa Anda tidak kasihan dengan putri Anda yang butuh perhatian."
"Iya aku tau, tapi kau pergi begitu saja tanpa memberikan kecupan selamat malam, bagaimana aku akan tidur nyenyak malam ini. Aku sudah terbiasa tidur dengan mu ... bagaimana kalau malam ini kamu menginap dan tidur bersama ku saja di sini."
"What! ... Wah saya bisa gila jika lama-lama berhadapan dengan Anda, turun dan masuklah, saya tidak akan pernah menyetujui ide gila itu."
"Hahaha, kamu jangan gila dulu, tugasmu mengurus ku belum selesai. Baiklah kalau kamu tidak mau, aku tidak memaksa, cium seluruh wajah ku sebelum pergi, kalau tidak aku akan terus menahan mu."
Astaga, aku merasa sudah seperti pawang si ular kuning menyebalkan ini, batin Aliya.
Dengan berat hati, Aliya memajukan tubuhnya agar bisa mencium pria manja itu. Saat dia akan mendaratkan ciuman di bibir Alvino, tiba-tiba saja dari arah jalan komplek perumahan mewah itu ia melihat mobil Shela memasuki halaman.
Karena panik, secara reflek Aliya menarik rambut Alvino hingga tubuh pria itu membungkuk dan jidatnya membentur dasboard mobil. "Hey, kau sudah bosan hidup ya!" Alvino berusaha untuk bangkit dari posisinya namun Aliya terus menekan kepalanya ke bawah.
"Diamlah, Nona Shela pulang. Jangan bergerak dan tetap menunduk."
"Kau mau membunuh ku ya, ya sudah biarkan saja dia tau. Aku tidak masalah!" seru Alvino seraya merasakan dahinya yang mulai berdenyut.
__ADS_1
"Itu sama saja Anda yang membunuh saya, Tuan. Pokoknya saya tidak mau jika Nona Shela tau, saya mohon tetap menunduk dan bersembunyi sebentar saja. Saya akan keluar untuk menghampiri istri Anda sebentar."
Aliya segera keluar dari mobilnya dan menghampiri Shela yang juga baru saja keluar dari mobil.
"Eh Aliya, kamu sudah mau pulang ya?" tanya Shela dengan ramah.
"Iya, Nona ... oh iya tadi Naya kelihatan sangat sedih karena Anda tidak pulang. Sepertinya dia membutuhkan perhatian kedua orangtuanya, sekarang dia sudah tidur dan dia berharap besok pagi bisa bertemu dengan Anda dan Tuan Alvino, " ujar Aliya.
Tiba-tiba saja wajah Shela menjadi sendu. "Saya ada sedikit masalah. Jadi tidak bisa pulang, terima kasih ya Aliya, aku benar-benar tidak tahu bagaimana dia kalau tidak ada kamu, kalau begitu saya masuk dulu ya, mau melihat Naya."
"Oh iya, silahkan Nona." Setelah memastikan Shela masuk kedalam rumah. Aliya pun kembali masuk kedalam mobilnya.
"Astaga!" Aliya terperanjat kaget ketika melihat benjolan biru keunguan di jidat Alvino. "Tu-tuan, Anda baik-baik saja."
"Maaf, saya reflek tadi. Apa sangat sakit?"
Melihat ekspresi Aliya yang nampak begitu bersalah dan khawatir, Alvino pun memanfaatkan kesempatan itu untuk mendramatisir keadaan.
"Ah sakit sekali, sepertinya aku geger otak."
Aliya membulatkan matanya saat mendengar ucapan Alvino. "Apa! Geger otak, tidak mungkin separah itu."
"Coba kamu periksa, jangan-jangan kepala ku berdarah." Alvino mendekat dan langsung melingkarkan tangannya di pinggang Aliya.
"Sepertinya tidak apa-apa, benjolannya akan kempes dalam beberapa jam." Aliya menyetuh jidat Alvino dengan tangannya.
__ADS_1
"Cium dahi ku, siapa tau saja langsung sembuh," ucap Alvino dengan ekspresi sedih yang di buat-buat.
Ah ternyata dia modus, rasanya ingin ku ketok benjolan di dahinya biar tambah sakit, dasar mesum, batin Aliya.
"Ayo cepat cium," rengek Alvino.
Cup.
Satu kecupan lembut mendarat di dahi Alvino. Senyum sumringah langsung terpancar dari wajah Alvino. Ia menangkup wajah Aliya dengan kedua tangannya dan langsung mendaratkan ciuman singkat dibibir manis itu.
"Aku pasti akan merindukan mu malam ini. Besok kamu, aku dan Naya akan pergi jalan-jalan bersama. Sampai jumpa." Alvino segera keluar dari mobil itu.
"Hey siapa bilang Anda boleh ikut!" seru Aliya dari jendela mobil. Namun tidak di pedulikan oleh Alvino yang terus melangkah masuk kedalam rumahnya.
"Dia benar-benar suka seenaknya sendiri. Tapi tunggu dulu, tadi dia bilang akan merindukan ku malam ini." Wajah Aliya tiba-tiba saja terlihat bersemu merah, namun setelah beberapa saat ia menampar wajahnya sendiri agar kembali tersadar.
"Sadarlah bocah, kau hanya seorang pawang si kuning yang setiap saat bisa di buang begitu saja." Aliya segera menghidupkan mesin mobilnya lalu tancap gas meninggalkan halaman rumah mewah itu.
Bersambung 💖
Jangan lupa berikan dukungan untuk Author ya reader 🥰💖
Author mau merekomendasikan novel keren lagi nih.
__ADS_1