Jerat Hasrat Sang Calon Duda

Jerat Hasrat Sang Calon Duda
Bab.90


__ADS_3

[Aliya, bisakah kita bertemu? Aku ingin meminta maaf kepada mu, aku menyesali semua yang telah aku lakukan, dan juga aku ingin menitipkan Naya.]


Aliya nampak membaca pesan itu berulang-ulang kali untuk memastikan ia tidak salah. "Apa aku harus menemui Nona Shela ya ... lebih baik aku menemuinya, aku juga harus meminta maaf kepadanya, agar hati ku lebih lega."


Aliya pun kembali memfokuskan pandangannya ke layar ponsel, ia membalas pesan tersebut.


[Nona ingin bertemu di mana?]


[Restoran YY, sekarang. Aku sudah menunggu kamu di sini, datanglah Aliya.]


Aliya pun segera bergegas, mandi lalu mengganti pakaiannya dengan pakaian yang cukup sederhana namun nyaman ia pakai. Setelah selesai ia melangkah menuruni tangga dan langsung keluar dari pintu utama.


Saat hendak memesan taksi online tiba-tiba seorang pengawal yang memang Alvino utus untuk menjaga Aliya datang menghampirinya.


"Nona, Anda mau kemana?"


"Emm ... saya mau bertemu teman saya Pak."


"Kalau begitu saya antar. Tuan Alvino meminta saya untuk menjaga Anda."


Aduh bagaimana ini, batin Aliya.


"Ya baiklah, ayo pak."


Pria bertubuh kekar itu pun segera berbalik untuk mengambil mobil di garasi, setelah mobil yang dikendarai pengawal itu sampai ke depan teras Aliya pun bergegas masuk ke dalam mobil. "Pak antar saya ke restoran YY ya."


"Baik Nona."


Mobil itu pun melaju pergi meninggalkan mansion utama keluarga Wilson. Entah apa yang akan dibicarakan Shela kepada Aliya saat ini, tetapi Aliya merasa akan merasa lebih tenang jika bisa bicara empat mata dengan wanita yang masih berstatus sebagai istri pertama dari suaminya.


~


Sementara itu di ruangan kerja Alvino, Abian tidak henti-hentinya menatap sang sahabat dengan heran karena tidak biasanya Alvino terus memandangi wajahnya sendiri dari pantulan cermin besar yang ada di ruangan itu.


"Vin, kamu mau diskusi tentang proyek baru atau mau ngaca terus sih?"

__ADS_1


Alvino melangkah dan langsung berdiri di samping Abian. "Menurut mu, apa aku ini mirip Albino?"


"Bhahaha, apasih. Ya si otong memang mirip lah, punya bisa beracun juga lagi." Abian tidak henti-hentinya terkekeh mendengar pertanyaan Alvino.


"Kecuali itu! Kau di tanya malah ketawa."


"Memangnya kenapa sih, apa ada netijen yang mengatakan bahwa kamu mirip Albino?"


"Bukan mereka tapi ... Aliya, masa di nama kontak ku di ponselnya Albino kuning. Aku sebenarnya ingin bertanya kepadanya tapi dia masih galau karena masalah kemarin."


"Haha, Aliya? Astaga dia memang paling bisa membuat kamu ketar ketir. Kalau aku liat-liat dari mata dan bibir mu yang sangat tipis itu, kamu memang agak mirip dengan si kuning panjang itu."


"Mana mungkin! Aku yang begitu tampan pari purna mirip dengan ular ku ... ah sudahlah. Kau bukannya membuat ku lebih baik, malah memperburuk keadaan."


"Apasih kau yang minta tanggapan, malah kesal sendiri." Abian kembali tertawa seraya menggelengkan kepalanya perlahan.


~


Mobil yang di membawa Aliyah akhirnya sampai di restoran YY. Aliya pun segera membuka sabuk pengamannya. "Pak, tunggu di sini saja ya. Saya hanya sebentar kok."


"Baik Nona."


Shela yang saat ini sedang duduk di sebuah kursi di tengah-tengah ruangan lantai dua, Aliya menghentikan langkahnya sejenak, untuk mengatur nafas karena entah kenapa ia merasa begitu gugup.


Setelah dirasa lebih baik Aliya pun kembali melanjutkan langkahnya menghampiri Shela.


"Nona saya datang."


Shela berdiri dari tempat duduknya menatap Aliya dengan tatapan yang begitu tajam dan juga senyum yang menyeringai licik. "Duduklah."


Aliya pun menuruti permintaan Shela dan beranjak duduk di salah satu kursi yang ada di restoran tersebut. Walaupun langsung duduk di hadapan Aliya dan menatap Aliya dengan serius.


"Akhirnya kamu datang juga. Tidak perlu berbasa-basi Aku hanya ingin bertanya apa yang kamu sukai dari suamiku, wajah, kepribadian atau hartanya?"


Perasaan Aliya mulai tidak enak ketika Shela langsung bertanya hal seperti itu. "Apa maksud Anda, Nona?"

__ADS_1


"Suamiku Alvino Wilson! Kau pasti punya alasan menikah dengan pria beristri, sudah lama aku ingin menanyakan hal ini jadi jawablah!"


Seruan suara Shela membuat para pengunjung restoran yang begitu nampak ramai hari ini, langsung menoleh ke arahnya dan juga Aliya.


Melihat ekspresi ketakutan Aliya, Shela nampak semakin bersemangat meluapkan emosinya. Ia sengaja memilih tempat umum, untuk mempermalukan Aliya.


"Aku sudah mencari tahu semua tentangmu. Ck, hahahaha, kau hanya seorang pel*cur yang dijual oleh ayah dirimu sendiri. Dan kau berani-beraninya merebut Alvino dari ku? Haha, kau pasti sangat kesusahan ya. Kamu berkedok sebagai seorang mahasiswi terbaik di universitas xx tapi ternyata kamu tidak lebih dari seorang wanita malam."


Aliya mencengkram erat kedua tangannya sungguh perkataan Sheila benar-benar melukai hatinya. "Hidup saya bukan Anda yang menjalani, tahu apa anda tentang apa yang sudah saya lewati selama ini." Aliya berdiri dari posisinya. "Jika Nona hanya ingin bicara tentang omong kosong seperti ini, maaf saya tidak punya waktu."


Shela mendengus kesal ketika melihat Aliya yang melangkah pergi dari hadapannya. "Apel curian memang enak, tapi kau tidak ada bedanya dengan babi dan anjing liar!"


Aliya kembali menghentikan langkahnya, berbalik menatap Shela dari kejauhan.


Shela memandangi Aliya dengan penuh amarah. "Kau seharusnya tidak hadir dan mengacaukan semuanya! Apa kau pernah di ajari oleh orang tua mu tentang masalah seperti ini? Pasti mereka sangat sedih melihat putrinya menjadi seorang pela*ur."


Aliya benar-benar sudah kehilangan kesabarannya. Jika sebelum pergi tadi ia bermaksud untuk meminta maaf kepada Shela tetapi saat ini ia mulai merasa jika Shela tidak pantas untuk mendengarkan Maaf darinya.


Dengan langkah cepat Aliya kembali menghampiri Shela, ia berdiri di hadapan Shela dan menatapnya dengan tajam. "Saya dengar sebelum Anda menikah dengan mas Alvino anda sudah berpacaran dengan pria lain dan juga anda hamil dari hasil one night stand dengan orang yang tidak Anda kenal, menurut Anda siapa yang murahan di sini? Anda mungkin tau Mas Alvino begitu senang saat tau Anda hamil, tapi apa Anda tau betapa hancurnya dia saat mengetahui Naya bukan anak kandungnya!"


"Diam kau!" sungut Shela.


"Kamar anda dipenuhi dengan barang-barang mewah dan juga anda adalah seorang pelanggan VIP dari semua tokoh barang-barang mewah. Anda belajar hidup mewah dan berkecukupan dari Mas Alvino tetapi anda lupa belajar untuk mencintainya, selama 6 tahun pernikahan Anda mempermainkan perasaannya apakah Anda masih merasa pantas disebut sebagai istri?"


"Itu adalah tanggung jawabnya," sahut Shela yang tidak mau kalah.


"Mas Alvino juga pria biasa, dia bukan patung yang tidak punya perasaan. Karena itu dia menyukai saya, saya terlihat istimewa di matanya meski hanya memakai celana jeans dan sweater usang. Saya yang tidak paham mode, miskin, dan kampungan ini mampu menyembuhkan luka hatinya dan membuat dia mencintai saya. Saya menghormati Anda, Nona tapi sekarang saya semakin tau apa alasan Mas Alvino tersiksa selama ini, karena anda begitu serakah! Anda yang meminta untuk segera di ceraikan, apa sekarang Anda menyesal? Anda benar-benar terlambat, sikap Anda sekarang mencerminkan keputus asaan Anda setelah kehilangan semuanya."


"Dasar kau ja"Lang!" Shela hendak mendaratkan satu tamparan tetapi langsung di tangkis dengan cepat oleh Aliya.


"Hentikan Nona! Anda adalah putri dari orang terhormat bukan dari orang miskin seperti saya tetapi tutur kata Anda tidak mencerminkan status sosial anda." Aliya menghempaskan tangan Shela ke udara lalu melangkah pergi.


Tinggallah Shela yang berada di sana tertunduk seraya merenungi semua yang Aliya ucapkan kepadanya.


Bersambung 💖

__ADS_1


__ADS_2