Jerat Hasrat Sang Calon Duda

Jerat Hasrat Sang Calon Duda
Bab.47


__ADS_3

Aliya menarik tangannya dari genggaman tangan Noah. Dulu sekali, perasaan cinta itu memang ada, tetapi setelah ia memutuskan untuk menikah dengan Alvino semua perasaan itu sudah ia buang jauh-jauh.


"Aku tidak mengerti kenapa kamu tiba-tiba saja mengatakan hal seperti ini, tapi jika kamu berharap aku menerima perasaan kamu maka lebih baik Kamu membuang jauh-jauh harapan itu. Karena aku tidak akan pernah menerima kamu."


"Tapi kenapa? selama ini kita sudah cukup dekat aku mengenal baik kamu dan kamu mengenal baik aku apakah kamu mempunyai pria lain yang sudah kamu cintai?"


Noah masih nampak tak percaya ketika perasaannya seolah bertepuk sebelah tangan. karena jauh di dalam lubuk hatinya ia sangat berharap Aliya akan membalas perasaannya.


"Ya, Aku sedang menjaga hati dan perasaan seseorang. Maaf karena tidak pernah mengatakan hal ini kepadamu tetapi begitulah kenyataannya."


Noah nampak diam tertegun saya berpikir sejak kapan Alia dekat dengan seorang pria tanpa ia ketahui. karena setahunya sahabatnya itu tidak pernah dekat dengan seorang pria kecuali dirinya.


"Apa kau mencintainya?" Noah salah tidak ingin mengetahui siapa pria itu, sejak kapan Aliya mengenal pria itu dan sudah berapa lama mereka menjalin hubungan. Tetapi ia hanya ingin langsung tahu ke intinya saja, yaitu bagaimana perasaan Aliya kepada seorang pria yang ingin Aliya jaga perasaannya.


Aliya nampak berpikir jawaban apa yang harus Ia berikan kepada Noah. hingga pada suatu titik hatinya terasa dikutuk agar ia secara rela atau tidak, tulus atau tidak, ia tetap harus menjunjung tinggi janji pernikahannya dan Alvino.


"Ya, aku sangat mencintainya. dia adalah sosok pria yang sangat baik dan bertanggung jawab, mungkin kamu akan berpikir bahwa aku sedang berhalusinasi karena tiba-tiba saja memberikan sebuah fakta yang membuat kamu terkejut. Tapi percayalah aku tidak akan pernah berbohong untuk hal ini kepadamu."


Noah berdesak seraya menatap Aliya dengan tatapan tak percaya. namun ia tahu betul jika saat ini alias sedang tidak bercanda kepadanya. "Ck, baiklah sekarang aku merasa benar-benar ditolak. meskipun aku sudah menyatakan perasaanku kepadamu Aku harap hal ini tidak akan mempengaruhi persahabatan kita."


Aliya menganggukkan kepalanya dengan cepat. "Tentu saja. Aku akan menganggap kamu tidak pernah mengatakan hal ini, jadi keluarlah sebentar aku merasa kaget karena kamu, jadi aku mau ke toilet lagi."


"Baiklah. Aku tunggu kamu di bawah." Noah segera beranjak keluar dari kamar itu.


Setelah kepergian Noah Aliya melangkah menuju kamar mandi di mana ia meminta Alvino untuk bersembunyi. tatapan mata Alvino langsung tertuju kepada Aliyah ketika pintu kamar mandi itu terbuka.


"Kamu baru saja menerima pernyataan cinta ya, selamat." Kata-kata Alvino terdengar begitu penuh penekanan dengan emosi yang menyeruak keluar.


"Saya tau Anda mendengar semuanya. Tapi kenapa Anda masih saja menatap saya seperti itu dan berkata-kata aneh. Saya akan keluar terlebih dulu, nanti Anda menyusul."

__ADS_1


Saat Aliya hendak berbalik pergi, Alvino segera menahan tangannya. "Tadi kamu bilang kepada Noah, bahwa kamu sedang menjaga hati seseorang dan sangat mencintainya, apa kau serius?"


Aliya melepaskan genggaman tangan Alvino darinya. "Lebih baik kita keluar sekarang, tidak baik kalau kita berlama-lama di tempat ini." karena Alvino tidak juga bergerak untuk keluar Ia pun berinisiatif untuk keluar terlebih dahulu.


Alvino hanya memandangi kepergian Aliya dengan tatapan nanar. Entah apa yang ia pikirkan, namun saat ia resmi mempersunting Aliya menjadi istrinya ia merasa tingkat keegoisan dirinya semakin tinggi dan juga ia seolah menekan Aliya untuk mencintainya ketika ia saja masih bergelut dengan perasaannya sendiri.


~


Kembali ke lokasi pesta. Riuh tepuk tangan kembali terdengar ketika Alvina meniup lilin ulang tahunnya. Potongan kue pertama Ia berikan kepada Papa dan Mamanya, yang kedua Ia berikan kepada saudaranya Viona dan Alvino dan yang ketiga, tanpa diduga semua orang ia memberikan potongan kue itu kepada Noah.


"Ini untuk ku?" tanya Noah seraya melirik ke sekelilingnya, di mana saat ini semua mata tertuju kepadanya.


"Tentu saja, ayo ambil." Vina menyodorkan kue tersebut kepada Noah dengan penuh harap.


Karena merasa tidak enak, Noah pun menerima kue pemberian Vina. Riuh tepuk tangan pun kembali terdengar. Tidak sedikit orang yang beranggapan bahwa Noah dan Vina sedang menjalani hubungan pacaran.


Saat semua mata sedang tertuju kepada sang ratu pesta. Dari kejauhan Alvino tidak pernah melepaskan pandangan matanya dari Aliya yang sedang berdiri sekitar sepuluh meter darinya.


"Kak Aliya."


Saat tengah bergelut dengan perasaannya sendiri. Aliya dikagetkan dengan Naya yang tiba-tiba saja datang menghampirinya.


"Naya, kamu dari mana saja kok Kakak baru lihat?"


"Heh, Kak Aliya tuh yang kemana saja? Dari tadi aku cariin tidak ketemu." Naya meraih tangan Aliya. "Main di taman belakang sama Naya yuk, di sana banyak makanan dan permainan."


Tanpa bisa menolak, Aliya hanya bisa pasrah ketika gadis kecil itu menariknya.


~

__ADS_1


Pukul sepuluh malam, pesta sudah mulai sepi, hanya ada beberapa orang teman Vina yang masih stay di sana. Noah terlihat karena mencari keberadaan Aliya.


Hingga akhirnya ia melihat Aliya sedang berada di taman belakang Mansion bersama Naya. Saat hendak melangkah menghampiri sahabatnya itu, tiba-tiba saja langkahnya di hadang oleh seseorang.


"Kak Vino, apa Kakak bisa menyingkirkan sebentar? Aku mau menemui Aliya yang sedang bermain bersama Naya di taman." Noah hendak melanjutkan langkahnya namun lagi-lagi di hadang oleh Alvino.


"Aku ingin bicara dengan kamu sebentar, ayo ikut aku." Alvino melangkah melewati Noah dan langsung beranjak menaiki tangga menuju lantai dua.


~


Noah baru saja sampai di balkon utama Mansion. Ia menghela napas panjang saat melihat Alvino sedang berdiri di depan besi pembatas. Ia merasa ada yang aneh dari tatapan Alvino kepadanya tadi.


Perlahan Noah melanjutkan langkahnya dan langsung berdiri tepat di samping Alvino. "Tumben sekali Kak Vino ingin bicara kepada ku, apa ada masalah yang begitu serius? Kenapa kita harus bicara empat mata seperti ini, katakanlah jangan membuat ku takut."


Alvino yang sejak tadi menatap nanar kearah langit malam, kini menoleh melihat Noah. "Kau tau pernikahan ku dan Shela tidak berjalan dengan baik sejak lama. Aku bukan bermaksud untuk membuat kamu terkejut tetapi hubungan kami sebentar lagi akan berakhir. Karena dia sudah tidak ingin bersamaku lagi."


Noah membulatkan matanya seraya menatap Alvino dengan serius. "Pantas saja beberapa waktu belakangan ini kalian jarang menghabiskan waktu bersama."


"Tidak ada orang yang ingin pernikahannya hancur. Tapi dia yang sudah memulai semuanya, aku sangat sakit ketika melihat dengan mata kepala ku sendiri, wanita yang aku hormati, sayangi ternyata bercumbu dengan pria lain. Aku pikir aku tidak bisa menemukan kebahagiaan itu kembali, tapi ternyata aku salah. Seorang wanita yang begitu polos bagai bunga di tepi jalan yang tidak pernah dilihat orang datang dan mengubah jalan pikiran ku."


Noah nampak semakin bingung saat mendengar penuturan Alvino. Ia tidak mengerti kenapa Alvino mengatakan semua hal itu kepadanya. "Apa maksud Kakak?"


Alvino menelan salivanya sekuat tenaga sambil mencengkram erat besi pembatas balkon yang ada di hadapannya. "Aku mencintai wanita itu dan aku mau kamu menghapus perasaan mu kepadanya."


"Apa!" Noah nampak terkejut saat ia merasa bahwa semua itu di tunjukkan kepada Aliya.


"Noah, kau sudah ku anggap adik ku sendiri, aku tidak menyalahkan perasaan mu, karena itu adalah hal yang lumrah terjadi ketika kamu bersahabat dengan wanita yang begitu baik dan perhatian. Tapi aku minta mulai sekarang lupakan dan ikhlaskan, because Aliya is mine (Karena Aliya adalah milik ku)"


Deg.

__ADS_1


Bersambung 💖


Jangan lupa berikan dukungan untuk Author ya. Maaf karena telat update, karena sampai hari Minggu author ada urusan pribadi, tapi insyallah senin langsung Crazy up, okey 😘😘😘


__ADS_2