
...Kaki ku terasa tidak lagi memijak bumi saat di minta untuk tetap berdiri di tengah harapan yang telah pupus. Namun hari ini aku kembali mencoba untuk mencintai satu kali lagi. Seorang wanita yang hanya ku jadikan tempat pelampiasan kini menjadi sebuah harapan. Bagiku kau adalah nyali terakhir ku, Aliya....
...-Alvino Wilson-...
Aliya terbangun dari tidurnya, ia menoleh kearah samping dan mendapati Alvino masih terlelap. Ia segera bangkit dari posisinya, menyibak tirai jendela yang belum di sinari matahari pagi.
Tanpa menunda waktu Aliya melangkah keluar dari dapur seraya mengikat rambutnya. Sesampainya di dapur, layaknya seorang istri pada umumnya, ia segera memasak untuk sang suami.
Karena terdesak waktu, Aliya hanya memasak nasi goreng, saat tengah sibuk memotong bawang tiba-tiba ucapan Alvino malam tadi kembali terlintas di benaknya.
Aliya menghentikan aktivitasnya lalu menyadarkan tubuhnya di kitchen set tersebut. "Huh, kenapa juga aku memikirkan ucapannya malam tadi. Aku tidak boleh goyah, itu hanya obsesi dia saja karena merasa kesepian. Aku tidak boleh luluh."
Tak ingin terus tenggelam dalam pikirannya sendiri Aliya segera melanjutkan aktivitas memasaknya. Agar ia bisa bersiap-siap untuk pergi ke kantor.
~
__ADS_1
Setelah selesai memasak, ia masuk kedalam kamar dan ternyata Alvino sudah bangun. Situasi nampak begitu canggung di antara keduanya.
"Tuan sudah mau berangkat bekerja?" tanya Aliya dengan ragu-ragu.
Alvino hanya tersenyum seraya melangkah menghampiri sang istri. "Pasangkan dasi untuk ku."
"Ehm, baiklah." Tanpa penolakan yang berarti, Aliya meraih dasi itu dan langsung di lingkarkan di leher Alvino.
Dari jarak yang begitu sangat dekat Alvino melingkarkan kedua tangannya di pinggang sang istri seraya terus tersenyum tanpa henti. "Hari ini dan dua hari kedepan aku ada perjalanan bisnis ke Melbourne, sekalian aku akan mencarikan rumah sakit untuk Naya. Jaga diri kamu baik-baik."
Saat mendengar penuturan Alvino, Aliya segera mendogakkan kepalanya melihat sang suami yang memang lebih tinggi darinya. "Tentu saja saya akan baik-baik saja, Anda tidak perlu khawatir. Lakukan perkejaan Anda sebaik mungkin dan juga berusahalah yang terbaik untuk Naya."
Aliya mendorong tubuh Alvino setelah selesai memasang dasi. "Tentu saja Naya sangat penting. Dia mempunyai cita-cita yang begitu besar, jadi lakukan yang terbaik untuknya. Ayo sarapan dulu."
Aliya tanpa sadar menarik tangan Alvino keluar dari kamar tersebut. Di ruang makan mereka duduk saling berhadapan Aliya pun dengan sigap menyedokan nasi goreng ke atas piring sang suami.
__ADS_1
"Kamu kenapa belum siap-siap? Kalau kamu terlambat dan di marahin oleh kepala departemen keuangan, aku tidak akan membela mu." Alvino segera menyendukkan nasi goreng itu, Ia pun kembali merasa speechless dengan hasil masakan istrinya itu. Tidak ingin membandingkan tetapi selama ia menikah dengan Shela ia tidak pernah merasakan masakan istrinya itu.
"Saya di tugaskan untuk meninjau lokasi proyek dan meminta laporan pengeluaran selama proyek di kerjakan."
"Sama siapa, Noah?" mode cemburu Alvino kembali aktif saat mendengar Aliya akan pergi meninjau lokasi. Karena setahunya Noah juga selalu pergi meninjau proyek bersama tim perencanaan.
Hembusan napas Aliya kembali terdengar saat lagi-lagi ia merasa di interogasi. "Bukan, saya pergi sendiri. Lagi pula gara-gara Anda sekarang Noah tidak mau bicara dengan saya. Rasanya begitu tidak nyaman karena saya dan dia tidak pernah bertengkar selama ini."
"Ck, ternyata bocah itu bisa marah. Tenang saja itu tidak akan berlangsung lama, dia pasti akan kembali baik sebentar lagi."
"Ya saya tau, hanya merasa tidak nyaman saja karena kami satu kantor dan sering berpapasan."
Alvino menghentikan aktivitas makannya lalu menatap Aliya dengan serius. "Aku tidak akan melarang kamu berteman dengannya, tapi ingat batasan mu. Masalah ucapan ku malam tadi, aku tidak bercanda. Bagi ku kau adalah nyali terakhir ku, di ujung keputusasaan ku mempertahankan Shela. Aku benar-benar ingin menjalani rumah tangga yang sesungguhnya dengan mu."
"Jika Anda masih punya nyali dan itu adalah stok terakhir yang anda punya, maka buktikan saja. Jujur, saya sudah berdamai dengan keadaan dan mengikhlaskan segalanya. Rasa sakit apa lagi yang belum pernah saya jalani? Semua sudah saya rasakan. Dan untuk memutuskan sebuah ikatan yang tidak ada masa kadaluarsanya, itu tidak akan mudah."
__ADS_1
Alvino tidak menyangka jika menaklukkan hati Aliya tidak semudah yang ia bayangkan. "Baiklah, aku akan buktikan."
Bersambung 💖