
"Sial sekali, kenapa juga aku harus bertemu dengan kutu kupret itu di supermarket ini. Sepertinya dia benar-benar serius dengan ucapannya ... ck, untuk apa aku takut dia bukan tandingan ku."
Viona membuka bagasi mobil dan memasukkan semua barang-barang belanjaan di dalam sana. Meskipun moodnya sempat hancur karena bertemu Sabrina, hal itu tidak menyurutkan semangatnya untuk memberikan Abian surprise ulang tahun.
~
"Selamat ulang tahun Sekertaris Bian, kami sebagai karyawan perusahaan mendoakan yang terbaik untuk Anda."
Riuh tepuk tangan terdengar menggema di sekeliling ruang kerja Abian, ia baru saja mendapatkan kejutan dari para staf kantor. Selain di kenal sebagai orang kepercayaan dari CEO perusahaan besar tersebut, Abian juga terkenal ramah dan suka berbagi ilmu.
Tak heran jika begitu banyak orang yang menyayanginya. Sebuah cake coklat dengan satu lilin yang menyala di atasnya kini dihadapkan di depan Abian.
"Ayo tiup lilinnya," ucap seorang staf wanita yang memegang kue.
Abian menganggukkan kepalanya, perlahan ia memejamkan mata dan mulai melangitkan doa kepada semesta. Di umur yang semakin bertambah Aku berharap kebahagiaan selalu menyertai. dan aku juga turut bersyukur karena telah mendapatkan sesuatu yang begitu luar biasa dari wanita yang sangat aku cintai selama ini. Aku harap hubunganku dan Viona akan semakin baik kedepannya dan keluarga kami akan bahagia selalu.
Mata Abian kembali terbuka dan ia segera meniup lilin di atas cake coklat tersebut hingga padam.
"Selamat ulang tahun Abian!"
Saat suasana haru sedang menyelimuti antara Abian dan para stafnya, tiba-tiba seorang wanita datang merentangkan tangan lalu memeluk dan mencium pipi kiri dan kanannya.
"Hey, kau apa-apaan sih!" Abian nampak kesal dan melepaskan pelukan wanita itu secara paksa.
Ya siapapun yang menebak wanita itu adalah Sabrina, maka jawabannya adalah benar. Si panu, kudis ,kurap yang sudah sempat lenyap kini mulai tumbuh kembali.
"Oh maaf, aku benar-benar sangat happy saat mengetahui jika ini hari ulang tahun kamu. You know saat SMA kan aku juga sering memberikan kamu hadiah, dan sekarang aku membawa hadiah lagi untuk kamu. Terima ya."
"Sekertaris Bian, kami keluar dulu ya. Permisi," ucap seorang staf seraya meletakkan kue ulang tahun ke meja kerja Abian.
"Eh, kalian kenapa pergi. Jangan tinggalkan di sini!" seru Abian, ketika melihat satu persatu stafnya keluar. Namun sepertinya teriakannya percuma saja karena stafnya malah melangkah semakin cepat hingga akhirnya hanya ia dan Sabrina yang berada di ruangan itu.
Perlahan Abian kembali menoleh menatap Sabrina yang nampak begitu senang menemuinya. "Kenapa kamu kesini? Apa masih kurang jelas waktu itu, aku dan Viona sudah menikah jadi aku mohon kamu jangan menemui aku lagi."
"Bian, just friend. Aku hanya ingin menjadi teman kamu lagi pula sekarang kita ini rekan bisnis kedua perusahaan tempat kita bekerja saling bekerja sama. Aku datang kemari juga bukan hanya untuk menemui kamu tapi aku ada keperluan di departemen perencanaan. Ayo terima hadiah ini berat loh, tadi aku lewat di supermarket dan aku mau kamu mencoba strawberry kesukaanku, hanya sekedar buah jadi jangan terlalu berlebihan dan menganggap aku mengganggu pernikahan kamu."
Abian nampak terdiam. Ia tahu betapa pentingnya kerjasama antar perusahaan ini dan ia tidak ingin karena masalah pribadi, proyek yang sudah dirancang sekian lama jadi berantakan.
Namun situasi yang harus melibatkan dirinya dan Sabrina benar-benar membuat ia tidak nyaman, apalagi Viona begitu tidak menyukai Sabrina.
Hembusan napas Abian terdengar begitu berat saat ia mengulurkan tangan meraih paper bag yang ada di tangan Sabrina. "Baiklah, akan aku terima. Tapi kamu jangan terlalu senang, aku menerima ini hanya karena menghargai kamu sebagai rekan bisnis, bukan teman. Di dunia ini aku hanya punya dua teman yaitu Alvino dan juga istriku Viona."
Tanpa mengatakan apapun lagi Abian segera meninggalkan ruangan tersebut, karena ia yakin Sabrina tidak akan pergi begitu saja dan akan terus mengoceh tidak jelas di hadapannya.
Sabrina nampak tersenyum tipis sambil berpangku tangan. Ia memandangi kepergian Abian dengan raut wajah yang susah untuk diartikan.
__ADS_1
Masih sekeras dulu, kenapa juga dia hanya bisa mencintai Viona. Padahal wanita itu sangat kasar bicaranya juga sembarangan tidak beretika sama sekali, batin Sabrina.
......................
Jika dinding dapur Bisa bicara maka dia pasti akan berteriak dan meminta Viona untuk menyerah. Sudah tiga jam berlalu dan ia sudah gagal membuat cake sebanyak tiga kali.
Mulai dari adonan yang tidak mengembang sempurna, adonan yang terlalu keras kue menjadi keras seperti batu, hingga adonan yang terlalu encer.
Bukan hanya dapur yang berantakan tapi penampilan Viona pun ikut berantakan. "Huaah, kenapa susah sekali!!!"
Teriakan Viona menggema hingga ke sekeliling ruangan dapur. "Ia mengusap wajahnya yang nampak begitu lelah, namun enggan untuk menyerah. "Bian, kamu harus lihat perjuangan ku, awas saja kalau kamu tergoda dengan pocong nungging itu, aku akan jadikan dua telur milik mu sebagai bahan kue."
Viona kembali melemparkan cake buatannya yang kembali gagal ke tong sampah dan mulai mengadon adonan baru. Sebelum membuat cake selanjutnya, dia mencoba mengatur nafas agar lebih tenang.
Setelah dirasa sudah mulai lebih baik, Viona memutar sebuah video tutorial membuat cake coklat dan mulai mengikuti tahap demi tahap secara perlahan dan tidak sepanik sebelumnya.
~
Ting!
Suara nyaring terdengar dari oven, Viona yang sedang duduk beristirahat di kursi meja makan langsung berlari dan mengeluarkan cake buatannya dari dalam oven dengan sangat hati-hati.
Saat cake buatannya ia letakkan di atas meja, Viona menutup mulutnya dengan kedua tangan karena tak percaya dan terlalu speechless melihat akhirnya kue buatannya mengembang dengan sempurna.
Viona mengambil kursi panjang dan duduk di hadapan kue buatannya. iya tersenyum-senyum sendiri ketika membayangkan bagaimana ekspresi Abian nanti.
Ternyata begini rasanya menjadi seorang istri, batin Viona.
......................
Pukul setengah tujuh malam, Abian melangkah memasuki rumahnya. Ia mengerti kening, melihat sekeliling ruangan gelap gulita.
"Apa listrik padam ... tapi rumah tetangga terang semua."
"Aaaa!!!"
Abian mendogakkan kepalanya saat mendengar suara teriakan dari lantai atas. Dugaan-dugaan negatif mulai memenuhi kepala, tanpa menunda waktu ia menjatuhkan tas kerjanya begitu saja, lalu berlari menaiki tangga menuju lantai dua.
"Yona, kamu dimana!" meskipun tidak ada cahaya menerangi tapi secara samar-samar nampak begitu jelas terlihat kepanikan Abian mencari keberadaan sang istri.
Hingga akhirnya....
Satu persatu lampu di lantai dua mulai menyala. Viona melangkah dengan sebuah cake ulang tahun di tangannya.
"Happy birthday to you... happy birthday to you..." Nyanyian Viona terhenti saat sampai di hadapan sang suami. "Selamat bertambah umur, doa terbaik untuk kamu suami ku."
__ADS_1
Abian hampir tidak bisa berkata-kata karena terlalu senang mendapatkan kejutan yang begitu manis dari orang yang sangat ia cintai. "Yona, kamu ... kamu menyiapkan semua ini?"
"Hem tentu saja. Aku juga membuat cake ulang tahun ini sendiri, ayo make a wish dulu, dan tiup lilinnya."
Abian menyeka air matanya yang tiba-tiba saja keluar, karena suasana haru yang kembali menyelimuti. Lagi dan lagi ia menutup mata, mengalunkan doa dengan sebaik-baiknya.
Setelah semua doa yang tentunya berisi segala kebaikan terucap dalam hati, Abian kembali membuka matanya dan meniup lilin yang ada di atas cake coklat yang penampilannya tidak estetik tapi karena dibuat langsung oleh Viona tentu saja terasa sangat istimewa.
Mereka saling menatap sejenak seraya melempar senyum penuh cinta.
Abian mulai mendekat dan memeluk sang istri dengan erat. "Terimakasih, Yona. aku benar-benar bahagia dan tidak menyangka kamu melakukan semua ini untukku. doaku di usia yang semakin bertambah tidak lepas tentang kebahagiaanmu."
"Sama-sama, Bi. Maaf karena aku terlambat menyadari semuanya. Mulai saat ini aku akan berusaha menjadi istri yang baik untuk kamu. Teruslah cintai aku dan aku juga akan melakukan hal yang sama."
Abian tidak tahu lagi harus berkata apa selain bersyukur dan bersyukur karena Viona memperlakukannya sebagai seorang suami dengan begitu baik. Mungkin untuk sebagian orang penolakan Viona pada awal pernikahan adalah sesuatu yang begitu tabu dan tidak sepatutnya dilakukan oleh seorang istri.
Namun bagi Abian itu hanyalah sebuah proses yang membutuhkan kesabaran. Dan pada akhirnya ia menuai apa yang sudah ia tanam dengan segala ketulusan yang ia miliki.
~
Setelah merayakan ulang tahun romantis bersama sang istri. Abian mandi dan memakai baju kaos hitam dan celana pendek. lengkungan senyum mulai tergambar di bibirnya ketika melihat sang istri tidur di atas ranjang.
Langsung saja ya melangkah dan ikut berbaring di samping istrinya. "Selamat tidur istri ku."
"Bi, kamu sudah selesai mandi?" tanya Viona dengan mata setengah terpejam.
"Iya sudah, aku juga sudah sangat wangi," jawab Abian dengan sangat antusias.
"Kalau begitu apa kamu bisa menolong aku sedikit, ada beberapa piring yang tidak sempat aku cuci, Aku takutnya nanti pagi kirim kotor itu akan menjadi bau," pinta Viona yang nampak sangat mengantuk.
Abian yang hari ini sangat bahagia karena mendapat surprise dari istri tercinta, langsung beranjak turun dari atas ranjang. "Tentu saja, aku akan membereskan semuanya kamu tidur yang nyenyak ya."
Tanpa menunda waktu Abian pun keluar dari kamarnya dan menuruni tangga menuju dapur yang ada di lantai satu.
Ctek.
Saat menyalakan lampu dapur, mata Bian membulat sempurna melihat tumpukan piring dan peralatan masak lain memenuhi wastafel.
Bukan hanya itu saja, lantai dapur dipenuhi tepung yang begitu lengket, kulit telur dan plastik-plastik bekas bahan kue juga berserakan di sana.
Abian menghembuskan napas panjang seraya mengelus dada, melihat dapur yang tadi pagi ia tinggalkan dalam keadaan utuh dan begitu rapi, namun saat ini sudah seperti kapal yang diguncang angin ****** beliung.
"Apa tadi aku salah dengar saat dia bilang hanya ada beberapa piring kotor," gumam Abian dengan ekspresi wajah lemas.
Bersambung 💖🥰
__ADS_1