
Hari menjelang sore. Abian baru saja sampai di depan pintu kedatangan bandara. Saat mengetahui jika Viona akan pulang, ia begitu bersemangat hingga langsung meninggalkan Kantor begitu saja demi wanita yang ia kagumi selama ini.
"Bian!" Seorang wanita melambaikan tangan seraya berhambur memeluk Abian.
Dengan senang hati, Abian langsung merentangkan kedua tangannya untuk menyambut Viona Wilson. Ya, wanita cantik yang tidak lain adalah saudara kembar dari Alvino kini telah kembali.
Viona melepaskan pelukannya dari Abian. Wanita itu tersenyum dengan sangat manis hingga membuat Abian yang biasanya bertingkah konyol dan spontan kini mendadak menjadi pria kalem.
"Selamat datang kembali, Yona." Abian mengusap kepala Viona hingga rambut wanita itu sedikit berantakan.
"Ih kamu kebiasaan deh. but the way, cuma kamu saja nih yang menjemput ku, Vino, Vina Mama dan Papa tidak ada?" Viona menoleh ke kanan kiri untuk memastikan jika benar-benar hanya Abian saja yang datang untuk menjemputnya.
"Tante Arumi dan Vina sedang di panti, Om Alvaro sedang tidak enak badan dan kembaran kamu ... you now, hatinya lebih hancur lagi sekarang."
"Are you sure?" Viona nampak terkejut. Karena selama berada di Paris, ia tidak banyak tahu tentang perkembangan rumah tangga sang kembaran.
Bukan hanya Abian saja yang menjadi saksi betapa selama ini pernikahan Alvino dan Shela tidak langgeng. Namun mereka selalu di minta untuk tutup mulut, mungkin kalau tidak Viona sudah meminta Vino untuk menceriakan Shela.
"Nanti di jalan akan aku ceritakan. Ayo pulang." Abian merangkul Viona dengan mesra lalu mereka melangkah meninggalkan tempat itu, meski mereka tidak punya hubungan apapun tetapi Viona sudah terbiasa karena baginya Abian sudah seperti kakaknya sendiri.
__ADS_1
Sayangnya Abian mengharapkan mereka lebih dari batas itu. Karena baginya tidak ada wanita yang pantas ia cintai selain Viona. Namun sialnya ia tidak berani mengungkapkan perasaannya.
~
Klek.
Alvino membuka ruangan dengan nuansa American clasik yang begitu kental. Ia bisa melihat sang Papa sedang duduk di sebuah sofa sambil membaca buku yang cukup tebal.
Dari raut wajah sang Papa. Alvino bisa melihat tersirat sebuah kekecewaan. Entah kenapa perasaannya menjadi tidak enak, setelah beberapa saat terpaku di ambang pintu akhirnya ia melangkah mendekat.
"Pa, aku datang."
Alvaro menutup buku yang ada di tangannya lalu mendongakkan kepalanya melihat sang putra. "Duduklah, sudah lama kita mengobrol berdua."
"Ya kenapa, apa Papa tidak boleh mengobrol dengan anak sendiri?"
Alvino segera beranjak dari tempatnya berdiri dan langsung duduk di hadapan sang Papa. Raut wajah serius kini mendominasi keduanya. Alvino seolah bisa membaca situasi bahwa ini bukan saatnya untuk bercanda.
"Papa kenapa melihat ku seperti itu, apa ada yang salah dengan wajah ku?" Alvino berusaha memecah keheningan yang tercipta saat Papanya tidak juga bicara dan hanya terus menatapnya dengan tatapan yang tidak bisa di artikan.
__ADS_1
"Papa kecewa. Sangat kecewa, karena ternyata kamu tidak baik-baik saja selama ini. Kenapa Vin, kenapa kamu berpura-pura selama enam tahun. Seharusnya kamu bilang jika pernikahan kamu tidak baik-baik saja."
Alvaro membuka kacamata yang ia pakai, entah kenapa ia merasa begitu emosional hingga matanya mulai memanas. Melihat kondisi Alvino saat ini seolah melihat dirinya sendiri di masalalu.
Alvino akhirnya tertunduk. Sepandai-pandainya ia menyimpan bangkai pasti akan tercium juga pada akhirnya. Selama enam tahun ia mendramatisir keadaan dengan kedok keluarga bahagia. Hari ini ia sudah tidak bisa memakai topengnya di hadapan sang Papa.
"Aku adalah putra satu-satunya yang Papa punya. Apapun yang Papa inginkan pasti akan ku turuti, termaksud menikahi Shela. Selama enam tahun aku berusaha keras untuk menjadi pria yang bertanggung jawab, hingga akhirnya Naya hadir sebagai pelengkap keluarga kami, aku pikir setelah kami punya anak, Shela akan bahagia dan menerima ku sebagai suaminya tapi ternyata aku salah, maafkan aku, Pa. Aku sudah gagal."
"Ceraikan dia, ambil hak asuh Naya dan tarik semua saham kita dari perusahaan keluarganya. Papa menikahkan kamu dengannya karena Papa pikir dia adalah wanita yang berpendidikan dan pantas untuk mendampingi kamu membangun perusahaan, tapi ternyata secara tidak langsung Papa malah menjerumuskan kamu dalam jurang kesengsaraan."
Alvaro mencoba mengatur napasnya yang terasa sesak. "Kamu memang satu-satunya Putra yang Papa punya, tapi bukan berarti hidup mu bukan milik mu, kamu berhak bahagia. Ceraikan dia!"
Hentakan tangan Alvaro di atas meja membuat Alvino memejamkan matanya. Saat kata sakral itu terucap lagi-lagi logika dan perasaannya kembali tak sejalan.
"Maaf, Pa. Aku tidak bisa."
Bersambung 💖
Yang penasaran sama kisah Alvaro di masalalu bisa baca novel Selir Hati Mr.Billionaire ya, terimakasih untuk suportnya, jangan lupa kembang kopi n votenya yak 🤣. I love you full readers 😘😘😘
__ADS_1
Author mau merekomendasikan novel lagi nih.