Jerat Hasrat Sang Calon Duda

Jerat Hasrat Sang Calon Duda
Bab.59


__ADS_3

Malam semakin larut Alvino pun kembali ke ruang perawatan sang istri. ketika ia masuk ia mendapati Aliya terbangun dari tidurnya.


"Kamu sudah bangun sejak tadi?" tanya Alvino raya menarik kursi duduk di samping ranjang rumah sakit.


"Tidak juga, ke mana semua orang, Tuan? perasaan saya sewaktu menutup mata tadi ada Noah, sekretaris Abian dan Nona Viona di sini."


"Mereka sudah pulang sekarang giliran aku menjagamu." Alvino meraih tangan Aliya lalu di genggam dengan erat. "Hey, bisakah mulai sekarang kamu tidak bicara terlalu formal kepadaku?"


"Hah, maksudnya?" Aliya menatap sang suami dengan tatapan bingung.


"Ehm ... ya kamu bisa memanggilku Mas atau mungkin Suamiku dan saat kamu bicara kepadaku santai saja jangan terlalu formal." Alvino nampak ragu-ragu saat menjelaskan maksudnya kepada Aliya. pada dasarnya tidak pernah menjelaskan hal seperti itu kepada seorang wanita.


"Mas Alvino?"

__ADS_1


Deg.


Alvino merasa ingin berteriak ketika mendengar dua kata itu keluar dari mulut sang istri. Entah kenapa hanya karena Aliya memanggilnya dengan sebutan Mas hatinya langsung bergetar padahal itu hanyalah sesuatu yang sepele.


"Iya begitu. Panggil aku Mas Alvino mulai sekarang. Bagaimana bisa seorang istri memanggil suaminya dengan sebutan Tuan. Kamu ini tidak peka sekali."


Alia tersenyum-senyum sendiri ketika melihat ekspresi wajah Alvino yang menurutnya begitu lucu. "Apa ini benar-benar Anda ... eh maksud ku Mas Alvino?"


"Tentu saja ini aku. Memangnya kenapa? Apa aku terlihat berbeda. Ya, memang banyak yang bilang kalau aku ini terlihat semakin tampan saat malam hari."


"Ternyata kamu belum mengenal aku dengan baik. Aku ini bukanlah pria yang sedingin itu saat aku sedang bersama dengan orang yang aku sayangi. mungkin aku akan bersikap tegas saat di kantor tetapi di hadapan kamu anggaplah aku sebagai seekor kucing manja yang tidak bisa jauh darimu."


Aliya pun kembali memberi tatapan heran. "Sepertinya tadi Dokter bilang bahwa kondisi ingatanku baik-baik saja tetapi kenapa aku seolah melihat sosok yang berbeda dari diri seorang Alvino Wilson. Bagaimana mungkin aku bisa menganggap seorang yang begitu garang seperti singa menjadi seekor kucing anggora."

__ADS_1


Alvino kembali naik ke atas ranjang rumah sakit itu dan berbaring di samping Aliya. Ia melingkarkan tangannya di atas perut sang istri seraya memejamkan mata. "Saat seorang lelaki telah jatuh cinta dia memang akan bersikap manja kepada wanita yang ia cintai. Entah aku pernah jatuh cinta sebelumnya atau tidak tetapi rasanya baru pertama kali ini saat bersamamu aku merasakan arti cinta yang sesungguhnya."


"Seperti yang pernah aku katakan, Mas. Saat seluruh dunia tidak memihak mu, Andalkan aku dan bersandarlah kepada ku. Mungkin Mas tidak akan menemukan kesempurnaan dalam diri seorang wanita seperti ku, tapi rasa nyaman lah yang akan Mas dapatkan."


"Ya kau memang rumah tempat aku pulang, terimakasih karena telah hadir di tengah keputusasaan ku."


Malam yang semakin larut membuat Alvino tidak bisa menahan rasa kantuknya. Aliya memang selalu mampu membuat ia nyaman dalam keadaan apapun.


Aliya memandangi wajah Alvino yang saat ini tengah terlelap dalam hati ia berkata. Sejauh apapun aku mencoba untuk lari dan sekeras apapun aku menolak, aku tidak bisa memungkiri jika aku mencintaimu, Mas. Meski aku merasa masih tidak pantas karena bahagia di atas pernikahan kamu dan dia.


Bersambung 💖🥰


jangan lupa berikan dukungan untuk Author ya reader 🥰💖🥰

__ADS_1



__ADS_2