
"Aku mencintai kamu, Mas. Lebih dari apapun aku bersyukur karena kamu hadir memberikan segala kebahagian." Tiba-tiba saja ucapan itu terlintas di tengah pekatnya malam.
Alvino yang sudah setengah mengantuk menatap sang istri yang berbaring di sampingnya. "Kamu baru saja mimpi buruk? Apa kamu mimpi aku selingkuh, atau mungkin kamu mimpi aku kecelakaan."
Aliya hanya tersenyum kemudian menatap langit-langit ruangan yang di terangi cahaya lampu tidur. "Tidak, tapi entah kenapa aku ingin mengungkapkan hal ini. Dulu aku berpikir pendidikan ku adalah segalanya, tapi setelah mengandung, aku sadar jika kamu dan calon anak kita adalah segala ku sekarang."
Alvino menyadarkan jika istrinya sedang dalam mode galau, dan ia yakin sebentar lagi Aliya akan menangis. Tanpa menunda waktu, ia mendekat dan langsung memeluk Aliya dengan erat. "Kamu boleh meraih mimpi kamu setelah anak kita lahir. Jangan membuat kehidupan kamu sebagai istri ku menjadi suatu beban yang menghadang mimpi kamu yang telah kamu rajut jauh sebelum bertemu dengan ku. Kamu ingin berziarah ke makam orang tua kamu, aku tiba-tiba saja mengingat mereka."
Aliya menganggukkan kepalanya perlahan. "Hem, aku mau. Aku sangat merindukan mereka, Mas."
"Sudah jangan bersedih lagi, nanti mata kamu bengkak lagi." Alvino menyeka air mata yang membasahi wajah Aliya. Ia yang tadi begitu mengantuk tiba-tiba memikirkan hal berbeda karena melihat istrinya yang kembali ingin di manja. "Mumpung Naya tidur sama Mama, kita bermain sebentar, boleh?"
"Loh, bukannya tadi Mas bilang sudah mengantuk," ujar Aliya seraya menyeka air matanya.
"Tadinya iya, tapi setelah mendengar curhatan kamu, aku jadi tersentuh. Aku tahu kamu pasti merindukan suami ini kan? Saat di Swiss kita jarang melakukannya karena ada Naya."
Entah mendapatkan keberanian dari mana, Aliya menggerakkan tangannya membelai lembut pipi sang suami yang di tumbuhi sedikit bulu halus. "Aku selalu merindukan kamu, setiap detiknya. Apa besok Mas kembali sibuk di perusahaan?"
"Hem, aku akan kembali sibuk, mungkin aku akan langsung ke luar kota besok. Jangan rindu, rindu itu berat kalau kata dilan."
Alvino dan Aliya kembali tertawa bersama. Kembali ke realita hidup memang teramat berat, namun Alvino terlahir untuk menjalani semua itu dan tentu saja harus di maklumi oleh pasangannya.
"Kiss me," ucap Aliya tiba-tiba.
"Really?" Alvino nampak terkejut dengan permintaan sang istri, dan tentu saja ia tidak akan menolak. Di raihnya ceruk leher sang istri dan mendaratkan satu ciuman yang begitu panas, dalam dan penuh tuntutan.
Tak lama hujan mulai turun, suara petir menggelegar membuat Aliya tersentak sebentar.
__ADS_1
"Tidak apa-apa sayang, aku akan menghangatkan mu secara perlahan." Alvino kembali mendarat satu ciuman dan mengambil posisi di atas tubuh sang istri.
Tentu saja ia tidak bisa selengket dulu karena sang calon bayi yang semakin tumbuh besar di perut Aliya. Namun Alvino punya cara tersendiri untuk menikmati tubuh istrinya yang semakin aduhai setelah hamil.
Dengan suatu gerakan Alvino menarik pakaian da*am dan menyimak piyama pendek yang dipakai istrinya itu hingga ke atas pusar.
"Aaahkk, Mas." Aliya kembali melantukan nada penuh hasrat saat Alvino memasukkan pusaka di lubang kenikmatannya.
"Aku melakukannya secara perlahan Baby, men*esahlah sekuat yang kamu bisa karena hujan merendam semua suara indah mu."
Alvino kembali mempercepat gerakan pinggulnya agar sang istri juga bisa menikmati permainan.
"Eeemm...Aaaahkkk terus Mas. Aaahhh yeaahh." Tanpa sadar Aliya juga mengerakkan pinggulnya karena rasa nikmat yang membelenggu diri.
Malam itu mereka kembali menikmati malam panas bersama, di tengah derasnya hujan yang semakin bertambah gejolak asmara yang membelenggu keduanya.
...ΩΩΩ...
"Oh my God, dia seksi sekali pagi-pagi seperti ini." Abian tidak melewatkan kesempatan saat melihat kancing piyama Viona di bagian atas.
Viona pun membuka matanya saat merasakan bagian d*danya geli sekali. "Aaahh, Bi. Apa yang kamu lakukan, geli Bi Aaahh."
Abian menghentikan sebentar aktivitas bermainnya di kedua gunung kembar milik Viona. "Aku sedang sarapan pagi dengan susu."
"Ck, haha. Mana ada isinya. Sudah ah geli sekali. Malam tadi kita sudah melakukannya empat kali," ujar Viona yang terus mencoba menahan rasa geli, karena tangan sang suami yang terus mempermainkan ujung pucuk d*danya.
"Aku sangat menyukai benda besar ini. Satu ronde lagi ya, aku ingin sekali," bujuk Abian dengan suara yang begitu berat.
__ADS_1
"Bi, kamu benar'serius minta izin?" Fiona kembali tertawa karena selama menikah iya tidak pernah mendengar Abian meminta izin untuk melakukan hal itu.
"Benar juga, kamu kan milik ku seutuhnya." Abian membalik tubuh Viona agar membelakanginya dan siap untuk menghantam dari belakang.
Ting...Ting...Ting...
"Bi, ada orang." Viona segera bangkit dari posisinya dan membetulkan pakaian yang nampak acak-acakan. "Aku buka pintu sebentar."
Viona segera melangkah keluar dari kamar, sementara Abian masih terbaring lemas di sana karena gejolak hasrat yang sudah membara dalam dirinya harus ditunda oleh tiga kali bunyi bel pintu.
Sampainya di depan pintu utama apartemen Viona tidak langsung membuka pintu. Dia melihat layar CCTV yang terletak persis di sebelah pintu itu. "Ck, kutu kupret ini benar-benar tidak tahu apa arti bulan madu ya, kamu benar-benar ingin masuk kemari, oke aku akan membiarkan kamu."
Viona kembali membuka kancing bajunya dan membuat rambutnya acak-acakan lalu membuka pintu apartemen tersebut. "Good morning Sabrina cantik, kamu mau apa pagi-pagi seperti ini."
Sabrina terdiam sejenak seraya terus memperhatikan penampilan Viona pagi ini. "Kamu sedang apa, kenapa pakaian mu seperti itu."
"ih kamu lucu ya kutu kupret. Aku dan Abian kan sedang berbulan madu. Tentu saja kami sedang main kuda-kudaan, merayap, tengkurap. Ah pokoknya mantap."
Wajah Sabrina mulai memerah karena kesal mendengar semua cerita Viona kepadanya. "Ehm, Abian mana? Aku ada sedikit urusan pekerjaan harus di bicarakan."
Ketika Sabrina ingin menerobos masuk, Viona langsung menghadang jalan, agar wanita itu tidak bisa masuk kedalam . "Abian tidak bekerja sekarang, jadi bicarakan semuanya ketika dia sudah kembali ke perusahaan."
Sabrina mulai nampak kesal ketika mendengar ucapan Viona yang menurutnya semakin berani saja. "Heh, kamu mau cari gara-gara dengan ku ya?"
Viona meraih sebuah vas bunga yang terletak di atas nakas di samping pintu apartemen, dia mengarahkan vas itu tepat di depan wajah Sabrina. "Kamu yang nyari gara-gara sama aku. Sudah kalah saing masih saja keras kepala. Kamu lupa aku siapa, coba saja senggol aku kalau berani, masuk lubang kubur baru tau!"
Bersambung 💕
__ADS_1
assalamualaikum semuanya kakak-kakak cantik dan bunda-bunda yang cantik. karena novel ini sebentar lagi akan tamat jadi Author punya novel baru yang sudah rilis sejak beberapa hari yang lalu. Ayo tambahkan ke favorit dong dan baca juga dijamin kisahnya tidak kalah seru dan nuansa yang diberikan akan sedikit berbeda jika penasaran langsung cek profil Author saja ya.