
Pukul delapan malam, di atas puncak menara Monas Aliya dan Alvino berdiri berdampingan di depan tiang pembatas setinggi pinggang mereka.
Langit yang nampak begitu cerah dengan bintang-bintang dan bulan purnama yang bersinar terang. cuaca yang begitu dingin membuat Alvino menyelimuti bagian tubuh sang istri dengan jaket yang ia pakai.
Aliya hanya terdiam saya terus memandangi lampu-lampu dari gedung pencakar langit yang menurutnya begitu nampak indah. Entah mengapa tatapannya terlihat begitu sendu.
"Besok adalah hari wisuda, seharusnya aku juga melaksanakan wisuda sesuai jadwal bersama dengan Noah dan Vina."
Alvino menggeser posisinya agar lebih dekat dengan sang istri. Ia sekolah bisa membaca isi hati Aliya yang tiba-tiba saja membahas soal wisuda. "Kenapa, apa begitu berat?"
Aliya tersenyum tanpa menoleh ke arah sang suami, ia terus menatap ke arah depan tetapi matanya nampak berkaca-kaca. "Tidak juga, hanya aneh saja, aku tidak bisa ada di antara mereka besok."
Perlahan tangan Alvino bergerak yang memegang tangan sang istri yang menjuntai ke bawah. "Maaf, karena aku harus menunda mimpi kamu. Aku menawarkan kamu cara instan untuk lulus tapi kamu juga tidak mau."
"Ck, lalu apa gunanya aku belajar dengan giat jika pada akhirnya lulus dengan bantuan kamu. Ya sudahlah, aku besok akan datang memberikan ucapan selamat untuk Noah dan Vina. Apa boleh?"
Senyum Alvino kembali melengkung dengan jelas. Ia menyibak rambut sang istri yang beterbangan hingga menutup wajah cantiknya. "Boleh, walau bagaimanapun Noah bukan hanya adik sepupuku tapi dia juga adalah sahabatmu, datanglah besok. Maaf karena aku tidak bisa menemani."
Aliya yang terlihat begitu senang langsung memeluk sang suami, ia bersyukur mempunyai suami yang bukan hanya tampan tetapi juga pengertian hingga Arya tidak tahu hal seperti apa yang bisa mendeskripsikan kesempurnaan suaminya. "Terimakasih, Mas. Tidak apa-apa, aku tahu sebenarnya kamu sangat sibuk."
"Iya sama-sama, apa kamu mau pulang sekarang. Di sini dingin, aku takut kamu masuk angin." Alvino melepaskan pelukan sang istri dan menatapnya dengan penuh cinta.
Bukannya mengangguk tetapi Aliya malah menggelengkan kepalanya. Entah apalagi yang ibu hamil itu inginkan, tinggal sama suami kembali mengerutkan keningnya. "Aku tidak mau pulang Mas, berhubung hari ini kamu bisa libur full jadi bagaimana kalau kita menginap di hotel."
Tangan kecil nan kecil Aliya menyentuh bagian dada sang suami dari atas hingga menyentuh bagian perut. "Mas selalu memberikan aku hadiah bahkan tanpa aku memintanya, terkadang aku berpikir hadiah apa yang pantas aku berikan untuk pria yang punya segalanya."
Kaki Aliya menjinjit dan mengecup singkat bagian leher Alvino, mata Alvino nampak terpejam karena merasa terpancing dengan perlakuan Aliya kepadanya. Untung saja Alvino sudah membooking tempat itu agar pengunjung lain tidak bisa naik.
Aliya kembali memundurkan tubuhnya, menatap sang suami dengan tatapan penuh hasrat. "Sayang, apa kamu mau istrimu malam ini?"
Tanpa mengatakan apapun, Alvino menganggukkan kepalanya perlahan, karena sesuatu di dalam sana sudah mengeras.
__ADS_1
...----------------...
Tidak butuh waktu lama untuk Alvino sampai ke sebuah hotel milik perusahaan WB grup. Di basement hotel memang sudah ada lift khusus menuju lantai paling atas, di mana kamar khusus milik Alvino berada.
Aliya hanya bisa terdiam seraya mengikuti langkah sang suami menyusuri koridor demi koridor hingga akhirnya mereka berhenti di salah satu pintu kamar hotel.
Tanpa basa-basi Alvino langsung membuka pintu tersebut dan mengajak Aliya masuk. laki-laki yang berhasil membuat istrinya terpanah dengan kamar VIP yang balkon yang mengarah langsung ke arah gedung-gedung pencakar langit yang ada di pusat kota.
"Aku beri kamu satu jam, untuk menikmati pemandangan. Setelah itu aku akan melakukan apapun yang aku inginkan pada mu," ucap Alvino seraya melepaskan kemeja yang ia pakai hingga otot-otot bak roti sobek terpampang nyata.
Aliya mendekat lalu membelai bagian perut sang suami yang di tumbuhi sedikit bulu. "Semenjak hamil aku selalu ingin melakukannya dengan mu, Mas. Dulu aku begitu takut dan bingung. Tapi sekarang kamu adalah milikku seutuhnya dan aku akan memberikan pelayanan terbaik ku sebagai istri mu."
Alvino menarik pinggang sang istri hingga tubuh mereka saling menempel. "Kamu semakin hari semakin pintar memuaskan ku. Aku benar-benar tidak bisa menahan diri ku sayang."
Aliya melepaskan tangan sang suami dari pinggangnya lalu ia melangkah mundur hingga naik ke atas ranjang. Imajinasi seorang Aliya yang dulu begitu polos kini sudah mulai terasah semenjak ia menyandang status istri.
Kedua pahanya ia biarkan terbuka, hingga secara perlahan kain renda tipis yang menutupi bagain kewanitaannya terhempas ke lantai. "Come on baby."
Sekujur tubuh Alvino memanas, ia berusaha menelan salivanya sekuat tenaga. Hingga dalam hitungan detik ia langsung melompat naik ke atas ranjang dan menenggelamkan wajahnya di antara kedua paha Aliya.
"Aaaahhh."
Aliya mengigit jari tengahnya saat merasakan sentuhan bibir sang suami pada bagian kenikmatannya. Pinggulnya pun bergerak naik turun karena sensasi yang begitu luar biasa hingga membuat dirinya candu.
"Terus sayang...eemmm, ouuchhh."
Dengan hasrat yang sudah menyelimuti Alvino semakin mempercepat permainannya hingga terdengar suara decapan yang terdengar begitu indah.
"Aaaahhh...aaahhhh, Mas aku nikmat sekali. Terus sayang Uuuuhhh." Aliya menggelinjang hebat karena sensasi yang luar biasa, ia menekan kepala sang suami agar lebih dalam lagi menyalurkan kenikmatan itu padanya.
Setelah beberapa saat, dengan segala kekuatan Aliya mengubah posisinya menjadi di atas tubuh sang suami. tangan lentiknya membuka tali pinggang hingga celana yang di kenakan Alvino. "Sekarang kamu juga harus menikmatinya Mas."
__ADS_1
Aliya menancapkan pusaka sang suami bagian bawah tubuhnya yang sudah sangat basah. "Aaahhh, Eemmm. besar sekali Mas. Kau luar biasa."
"Kamu yang luar biasa sayang. Aku benar-benar beruntung." Alvino mere*mas bagian dua gunung kembar sang istri yang begitu bulat, padat dan besar.
Sementara Aliya terus menggerakkan pinggulnya naik turun dengan kedua tangan mencengkram erat rambut Alvino. "Eemmm Mas, aku Aah, eeemm."
"Teruskan sayang, aku hampir keluar, terus Akhhh."
Alvino mencengkram sang istri seraya membantu istrinya itu akan melakukan gerakan yang lebih cepat. Suara hentakan terdengar begitu jelas dengan mata yang terbuka lalu terpejam dalam waktu sekian detik.
"Aaakkhh, sayang aku tidak tahan lagi, kau membuat ku ingin segera ... Aaahhh!" Alvino memejamkan matanya ketika mencapai pelepasan yang luar biasa"
Aliya merebahkan tubuhnya di samping Alvino, ia bekerja cukup keras malam ini. Entah bawaan bayi atau apa, tapi ia merasa semakin agresif belakangan ini.
Alvino menyeka peluh yang memenuhi dahi sang istri kemudian mengecupnya dengan singkat. "Kamu luar biasa sayang, tapi kalau aku boleh tau, kamu belajar dari mana hem?" tanya Alvino dengan napas yang masih tersengal-sengal.
Sekilas Aliya nampak terkekeh, saat mendengar pertanyaan Alvino. "kamu kan sering bilang kalau aku bosan aku boleh memakai laptop kamu yang ada di kamar untuk menonton film. Tapi kamu tahu apa yang aku temukan? Yang ada di laptop itu kebanyakan film BF, hahaha."
"Apa!" Alvino posisinya yang tadi berbaring kini duduk di atas ranjang, iya kembali menatap ke arah Aliya yang tertawa tanpa henti. "Aku tidak pernah mengoleksi film sepe ...."
Tiba-tiba saja Alvino teringat sesuatu, jika yang ia bawa pulang itu adalah laptop milik Abian. Ia langsung menepuk jidatnya sendiri "Ah biawak sialan itu, kenapa aku bisa lupa."
"Oh ternyata punya Kak Bian, tapi aku hanya menonton sedikit saja kok Mas."
Alvino kembali naik keatas tubuh sang istri. "Hanya sedikit,tapi kamu bisa sehandal ini.
Aku benar-benar candu, apa kamu siap untuk ronde ke dua?"
Bersambung 💖
Jangan lupa berikan dukungan untuk Author ya, biar makin semangat update, btw besok hari wisuda Noah dan dia akan pulang ke Malaysia, jangan sampai lewatkan ya gaess🥲
__ADS_1