Jerat Hasrat Sang Calon Duda

Jerat Hasrat Sang Calon Duda
Bab.86


__ADS_3

Abian baru saja turun dari motor, saat ini ia sudah berada di depan Mansion keluarga Wilson. dengan satu buket bunga dan juga coklat ia melangkah masuk ke dalam Mansion tersebut.


Ya sudah menjadi rutinitasnya ketika ia dan Viona bertengkar mau itu dia yang salah ataupun Viona yang salah tetap abianlah yang pada akhirnya meminta maaf terlebih dulu.


Hubungan mereka memang hanya sekedar sahabat dan juga sudah seperti saudara tetapi bagi Abian, Viona tetaplah wanita yang spesial baginya meski perasaan itu belum pernah terungkapkan sama sekali.


Abian pun segera menghentikan langkahnya ketika melihat Alvaro baru saja menuruni tangga. "Om, Vionanya ada?"


Pandangan Alvaro langsung fokus ke bukit bunga dan juga coklat yang ada di tangan Abian. "Bertengkar lagi?"


"Iya nih Om padahal kan dia yang salah. tapi ya sudahlah daripada dianya ngambek terus saya juga yang repot."


Alvaro menghela nafas pelan seraya berpangku tangan. "Sebenarnya hubungan kalian ini apa? Om suka heran ketika melihat kalian sangat dekat tapi jika Om tanya pasti mau kamu ataupun Viona pasti memberikan jawaban yang sama."


"Ehm, masalah itu saya juga bingung mau bilang apa." Abian nampak kebingungan harus menjawab apa hingga tanpa sadar ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


Alvaro kembali tergagah kemudian menempuh pundak Abian beberapa kali. "Abian-abian, kalian ini lucu sekali sudah sedekat ini tapi masih saja membohongi perasaan masing-masing."


Alvaro menggelengkan kepalanya perlahan lalu melangkah pergi meninggalkan Abian yang masih nampak kebingungan karena mendengar ucapannya.


"Maksud Om Al apa sih ... ah sudahlah." Abian melanjutkan langkahnya menaiki tangga menuju lantai dua Mansion mewah tersebut. iya langsung menghentikan langkahnya ketika sampai di depan kamar Viona.


Tok.. tok...tok

__ADS_1


"Yona, kamu di dalam? ini aku Bian, aku bawa sesuatu untuk kamu nih."


"Masuk saja, tidak terkunci!"


Mendengar suara seruan Viona dari dalam kamar Abian pun tanpa ragu langsung membuka pintu kamar itu. karena memang ia sudah biasa keluar masuk kamar itu.


Abian bisa melihat Viona yang saat ini sedang duduk di atas ranjang seraya bersandar di kepala ranjang. "Masih betah kamu masang muka jelek gitu?"


"Kamu datang cuma buat ngejek aja nih, buang aja tuh bunga sama coklat," ketus Viona.


"Jangan dong, ini aku beli khusus untuk kamu. Sebagai permintaan maaf atas ke bawelan aku siang tadi." Abian meletakkan coklat dan juga bunga tersebut di atas pangkuan Viona.


Viona menegakkan posisinya seraya menatap Abian dengan serius. "Setiap aku ngambek, kamu pasti kamu bawa bunga sama coklat. Sampai-sampai semua orang yang ada di rumah ini menyangka kita itu pacaran."


"Iyaaa, ini itu bukan tentang semua kesalahan kamu yang sudah menggunung tapi aku nggak nyaman karena terus digosipin pacaran sama kamu, tadi di bawah kamu ketemu siapa?"


"Sama Papa kamu."


"Nah tu kan, Papa lagi. Aku sudah sering bilang ke mereka kalau itu hoax kita itu tidak ada hubungan apapun, tapi kalau kamu datang dengan bunga dan coklat seperti ini, ya pasti mereka mikirnya yang tidak-tidak." Viona kembali menyandarkan tubuhnya tiba-tiba terasa lemah. Ia benar-benar malu jika terus diejek oleh kedua orang tuanya dan juga adiknya Vina.


Abian menyunggingkan senyumnya lalu kembali menatap Viona. "Jadi kamu tidak nyaman karena yang mereka bayangkan tentang kita itu hoax?"


Viona langsung menjentikkan jarinya. "Yups betul."

__ADS_1


"Berarti kamu tidak nyaman dengan hoax itu, jadi kalau semuanya ini beneran, kamu bakal nyaman gitu, kamu bakal fine-fine saja?"


Aliya menyondongkan tubuhnya menatap Abian lebih dekat. "Maksudnya?"


"Gimana kalau aku bantu semua ini menjadi kenyataan." Abian juga menyondongkan tubuhnya hingga jarak mereka hanya beberapa centimeter saja. "Yuk jadian."


Seketika Viona langsung membulatkan matanya. Entah sudah berapa kali Abian bercanda tentang hal ini, dan kali ini Viona merasa tidak akan bisa tertipu lagi.


Viona tidak tahu jika sebenarnya dibalik semua candaan itu ada kesungguhan di dalamnya. "Idihhh tuh pacaran sama lampu tidur sana, biar anget. Kamu pikir aku akan tertipu lagi kali ini? Haha, tidak mungkin bestie."


Viona mengambil bunga dan coklat itu lalu di letakkan di atas meja lampu tidur. "Ya sudah jangan bercanda lagi, balik sana. Aku sudah maafin kamu."


"Jadi beneran tidak mau nih?" Abian kembali memastikan jawaban Viona karena sebenarnya hal itu benar-benar serius dia sampaikan tetapi selalu dianggap oleh Viona sebagai candaan.


"Iya lah, sudah sana. Besok kamu kerja kan."


"Ya sudah, sampai jumpa besok."


Abian pun segera bangkit dari posisinya lalu berbalik pergi dari ruangan itu. meski tidak tampak secara jelas tetapi jauh dari relung hatinya ia begitu kecewa karena lagi-lagi mendapatkan tanggapan yang sama.


Gimana aku mau serius Om, kalau anak Om Alvaro saja menganggap perasaanku ini sebuah candaan, batin Abian.


Setelah Abian keluar dari kamar tersebut Viona pun langsung merebahkan tubuhnya yang tiba-tiba saja terasa begitu lemas. "Aduh, kenapa lagi nih, jantung ku pasti tidak normal nih. Dasar Abian jail," gumam Viona seraya mencoba mengatur napasnya.

__ADS_1


Bersambung 💖


__ADS_2