Jerat Hasrat Sang Calon Duda

Jerat Hasrat Sang Calon Duda
Bab.85


__ADS_3

Di tempat berbeda Shela yang sedang mengurung diri di kamar, ia terus menangis karena baru saja diputuskan oleh kekasih yang begitu ia cintai selama ini.


Penyesalan akan sikapnya yang menganggap remeh takdir, akhirnya kini mulai ia rasakan. ia menyesal karena sudah mempermainkan pernikahan yang sebenarnya bisa saja dia jalani dengan baik jika ia mau membuka hati.


Namun ketika harta dan tahta menjadi fokus utamanya, ia lalai dan mengabaikan perasaan sang suami dan juga menganggap remeh perasaan kekasihnya yang ia pikir akan terus bertahan meski Ia membuat kesalahan terus-menerus.


Kini cintanya telah pergi dan pernikahannya juga sebentar lagi akan berakhir di hadapan pengadilan. Saat semua kesedihan tengah menyelimuti hatinya logikanya terus berpikir cara apa yang bisa membuat ia kembali ke kehidupannya seperti dulu.


Klek...


Shela yang terus mengeluhkan kepalanya langsung menoleh ke arah pintu ketika mendengar suara pintu itu terbuka. dan ternyata Putri kecilnya lah yang masuk ke dalam kamar.


Naya nampak khawatir ketika melihat Mommynya sedang duduk meringkuk di atas ranjang. Ia pun segera menghampiri sang Mommy lalu duduk di tepi ranjang. "Mommy kenapa nangis?"


Shela menatap sang putri dengan tatapan yang tidak bisa di artikan. Perlahan tangannya bergerak membelai pucuk kepala Naya. Sepertinya aku masih punya jalan untuk membuat hati Mas Alvino kembali patah, jika aku hancur maka dia tidak boleh bersenang-senang dengan istri sialannya itu, batin Shela.


"Sayang dengarkan Mommy baik-baik. Daddy sudah mencampakkan kita, karena mencintai wanita lain, Daddy tega menceraikan Mommy dan meninggalkan kamu."


Gadis kecil yang baru saja akan memasuki umur enam tahun itu nampak bingung dengan ucapan sang Mommy. "Maksud Mommy Daddy tidak sayang kita lagi?"


"Iya sayang. Kamu jangan marah ya. Sebenarnya kamu bukan anak Daddy, jadi sekarang Daddy mau membuang kamu."


"A-apa, Mommy Naya ini anak Daddy Mommy jangan bicara seperti itu." Naya mulai menangis karena mendengar penuturan sang Mommy.


Shela menangkup wajah sang putri dengan kedua tangannya. "Kamu tidak boleh menangis, meskipun kamu bukan anak Daddy tapi kamu lahir dari rahim Mommy. Kalau kamu tidak mau Daddy pergi, kamu harus membujuk Daddy kamu untuk kembali kepada Mommy dan meninggalkan wanita itu."


Naya yang masih sesegukan mencoba untuk menahan kesedihannya. Anak mana yang tidak sedih ketika mendapati fakta bahwa Daddy yang begitu ia banggakan bukanlah orang tua kandungnya.


"Ta-tapi bagaimana caranya Mommy?"


Shela tersenyum menyeringai licik ketika mendengar pertanyaan Naya. "Kamu harus meminta kepada Daddy untuk meninggalkan wanita itu, wanita yang sudah merusak semua kebahagiaan kita. Kamu tau wanita yang sudah merebut Daddy adalah, Kak Aliya guru Naya."

__ADS_1


Naya menggelengkan kepalanya perlahan sambil kembali menangis. "Tidak mungkin Mommy, Kak Aliya orang baik, tidak jahat."


"Tidak! Dia itu sudah menghasut Daddy kamu untuk meninggalkan kita, dia jahat!"


Seruan keras Shela membuat tubuh Naya yang masih begitu lemah kembali bergetar. "Mommy kenapa teriak, Naya takut."


Shela bergerak cepat memeluk Naya. "Maafkan Mommy sayang. Mommy sedih karena Daddy kamu mau meninggalkan kita. Pokoknya kamu harus membujuk Daddy ya sayang."


"Iya Mommy."


~


Alvino yang baru saja menemui sang Papa kembali ke kamar untuk beristirahat dan melepas rindu bersama sang istri.


Ketika Alvino masuk ia mendengar shower air yang menyala sebagai pertanda bahwa sang istri berada kamar mandi tersebut. Akhirnya ia pun membaringkan tubuhnya di atas ranjang.


"Sepertinya aku belum mengubah nama kontak Aliya di ponsel ku." Alvino mengambil ponselnya yang masih ada di saku celana. Selama ini nomor ponsel Aliya hanya ia simpan dengan nama bocah tengil.


Ya, baginya dulu Aliya hanyalah seorang gadis tengil yang selalu bertingkah aneh ketika berada di dekatnya. Tetapi sekarang bocah tengil itu sudah berubah menjadi separuh jiwa seorang Alvino Wilson.


Klek.


Pintu kamar mandi itu akhirnya terbuka. Alia yang masih mengenakan handuk kimono seraya mengeringkan rambutnya dengan sebuah handuk kecil melangkah menghampiri sang suami. "Mas senyum-senyum sendiri, ada apasih di layar ponselnya?"


Alvino mengarahkan layar ponselnya ke hadapan Aliya yang saat ini sedang duduk di tepi ranjang. "Hehe, lihat ini. Aku sudah mengubah nama kontak mu di ponsel ku menjadi Istri ku."


"Hah, mas setelah kamu pulang dari Melbourne Kenapa kamu menjadi seperti ini, biasanya juga kamu manggilku bocah tengil bocah tengil sini kamu, gitu."


"Dulu kamu memang bocah tengil, tapi sekarang kamu adalah calon Ibu dari bocah-bocah kita di masa depan."


"Astaga, gombalnya gak ada obat." Aliya menggelengkan kepalanya karena merasa sang suami terlalu berlebihan.

__ADS_1


Alvino yang tadinya berbaring sekarang mengubah posisinya menjadi duduk agar bisa melihat sang istri lebih dekat. "Sekarang giliran kamu, ponsel mu mana pasti kamu masih menyimpan kontak dengan nama Alvino Wilson kan? Ayo ubah jadi suami ku dong."


Alia membulatkan matanya ketika sang suami tiba-tiba saja mencari ponselnya. Mampus, aku masih menyimpan kontaknya dengan nama Abino kuning, batin Aliya.


"Nah itu dia."Alvino segera beranjak dan melangkah menuju sebuah nakas yang ada di sudut ruangan, terlihat ponsel Aliya sedang di charge.


Ketika Alvino meraih ponselnya, Aliya pun bergerak cepat menghampiri sang suami dan langsung mengambil alih ponsel itu. "Nanti aku akan merubahnya sendiri, Mas istirahat saja."


Tatapan curiga langsung di berikan oleh Alvino ketika melihat sang istri yang begitu panik. "Kamu menyembunyikan sesuatu dari ku ya?"


Aliya kembali menggelengkan kepalanya. "Ti-tidak."


"Kalau tidak berikan ponsel itu kepada ku." Alvino berusaha untuk mengambil ponsel itu kembali tetapi Aliya terus mempertahankannya. "Pasti ada yang kamu sembunyikan dari ku ya, kamu selingkuh?"


"Astaga aku belum bosan hidup kali Mas, bukan apa-apa kok."


"Kalau begitu sini ponselnya." Alvino terus berusaha untuk mengambil ponsel itu hingga akhirnya ia berhasil mendapatkannya.


Yang pertama kali Alvino periksa adalah bagian chat di aplikasi chatting sang istri ketika tidak menemukan keanehan apapun Ia pun beralih ke kontak dan melihat semua kontak yang ada di ponsel Aliya, sampai akhirnya gerakan jarinya terhenti ketika melihat nama kontak yang tertera nama albino kuning.


Setelah beberapa saat ia memperhatikan nama kontak itu pandangannya pun langsung fokus kepada nomor ponsel yang tertera atas nama tersebut. "I-ini nomor ponsel ku .... Kenapa namanya Albino kuning?"


Deg.


Sial sekali sih aku hari ini, batin Aliya.


"Ehm, i-itu karena ... karena ... Mas tidak memperhatikan tatapan mata ular Albino itu persis seperti Mata Mas, coba deh perhatiin di internet gambar ularnya. Ehm sepertinya aku mules."


Aliya bergerak cepat kembali masuk ke dalam kamar mandi dan meninggalkan Alvino yang masih bergelut dalam pikirannya sendiri.


"Aku mirip Albino? ...." Alvino segera melangkah menuju meja rias yang berada di kamar itu dan memperhatikan wajahnya di pantulan cermin.

__ADS_1


bersambung 💖


lanjut satu bab lagi nggak besti hari ini? 🤭🤭


__ADS_2