
Satu minggu berlalu begitu cepat, selama itu pula Aliya menghabiskan waktunya sendiri tanpa sang Albino kesayangan yang sedang berjuang demi kesembuhan sang putri.
Pagi ini Aliya sudah beraktivitas seperti biasa, ia kembali ke perusahaan untuk melanjutkan masa magangnya yang sebentar lagi akan berakhir.
"Liya!" Dari jarak beberapa meter Noah berteriak seraya melambaikan tangan kepada Aliya.
Melihat sang sahabat, Aliya pun mempercepat langkahnya menghampiri Noah. Sejak ia pulang dari rumah sakit, baru kali ini ia kembali bertemu dengan Noah.
"Akhirnya kamu masuk juga, curang nih mentang-mentang su--" Noah tidak bisa melanjutkan ucapannya karena Aliya bergerak cepat menutup mulutnya dengan tangan.
"Mau bilang apa kamu? Jangan bahas hal itu di sini, bagaimana jika ada yang mendengar," ujar Aliya kesal.
Noah melepaskan tangan Aliya dari mulutnya. "Maaf kelepasan. Tapi kamu benar-benar sudah sehat. Bisa kerja kuli lagi?"
"Haha kamu pikir aku kang bangunan apa. Aku udah baik-baik saja kok, buktinya aku sekarang masuk lagi. Kamu mau ke lantai atas kan? Ayo naik lift."
Aliya menarik tangan Noah hingga berhenti di depan lift. Ia menoleh melihat Aliya yang menurutnya agak berbeda dari biasanya. "Kamu yakin baik-baik saja? Aku sedang tidak membicarakan fisik mu, tapi kondisi hati mu bagaimana, kamu kan di tinggal ayang dua minggu."
__ADS_1
Bug.
Satu pukulan mendarat tepat di lengan Noah. Tatapan mata Aliya nampak begitu kesal kepada sahabatnya tersebut. "Sudah aku bilang jangan membahas dia di sini."
Pintu lift itu terbuka, Aliya dan Noah kembali masuk. Lagi-lagi Noah menoleh menatap Aliya yang sedang berdiri di sisi kirinya. "Aku bahkan tidak menyebutkan nama tapi kamu kenapa panik sekali. Jangan anggap keputusan mu ini sebuah kesalahan, jadi bersikaplah biasa saja. Aku yakin sebentar lagi dunia pun akan tahu siapa kamu di hidup seorang Alvino Wilson.
Terkadang Aliya memang sering merasa begitu panik dengan apa yang ia jalani saat ini. Baginya ia seperti hidup di dunia yang seharusnya tidak ia singgahi. Namun kenyataan seolah meminta ia untuk tinggal.
Cinta itu mulai menyiksa batinnya yang saat ini sedang terpisah jarak dan waktu dengan pria yang dulu ia anggap sebagai seorang ular kuning menyebalkan.
Aliya menghela napas pelan lalu menoleh kearah Noah. "Aku tidak menyesali keputusan ku, tapi lebih tepatnya aku merasa asing dengan posisi ku sendiri sekarang. Dunia ku yang dulu begitu sederhana kini di penuhi drama, aku benar-benar takut akhir apa yang akan aku dapatkan untuk semua ini."
Ting!
Pintu lift itu akhirnya terbuka. Noah keluar lebih dulu karena memang ruangannya ada di lantai tiga sementara Aliya di lantai lima. Sebelum pintu lift tertutup ia kembali berbalik melihat Aliya. "Jangan galau, nanti ayang pulang lagi kok, okey. Sampai jumpa di kantin nanti siang."
Aliya yang masih berada di dalam lift terkekeh sendiri melihat tingkah Noah. Baik dulu ataupun sekarang, mungkin tidak ada satupun orang yang mengerti dirinya sebaik Noah. Meski rasa itu sempat hadir di hati Aliya, namun semua hilang seiring waktu.
__ADS_1
~
Sementara itu di salah satu rumah sakit terbaik di Melbourne Australia. Setelah melalui tahap observasi dan pemeriksaan medis lainnya. Sore ini, tepatnya pukul tujuh malam waktu Melbourne Australia, Naya sudah masuk keruangan operasi.
Sudah cukup lama Alvino dan Shela duduk di kursi tunggu dengan rasa khawatir yang membelenggu diri mereka masing-masing. Keduanya hanya terdiam seraya terus berdoa dalam hati agar anak mereka baik-baik saja.
Alvino menoleh kearah Shela yang saat ini sedang duduk di sampingnya. "Jika kamu lelah menunggu, kamu bisa pergi istirahat di ruangan yang sudah kita sewa."
Shela menutup wajahnya dengan kedua tangan seraya menghela napas berat. "Aku tidak bisa tenang sekarang, jangan coba menghibur ku, Mas. Karena terdengar sangat terpaksa."
"Ck, aku memang terpaksa mengatakannya, aku hanya merasa terganggu jika kamu terus mondar-mandir tidak jelas, tegak lalu duduk lagi. Seolah kamu benar-benar mengkhawatirkan Naya, padahal sebelumnya kamu berucap jika kamu menyembah telah melahirkannya."
"Sudahlah, Mas. Aku tidak ingin bertengkar sekarang."
Klek.
Baru saja Alvino ingin membalas ucapan sang istri pintu ruangan operasi akhirnya terbuka.
__ADS_1
Bersambung 💖🥰