Jerat Hasrat Sang Calon Duda

Jerat Hasrat Sang Calon Duda
Bab.23


__ADS_3

"Apa benar, kabar yang kamu dapatkan itu? Tanya Alvaro kepada seorang pria berjas hitam yang tengah berdiri di hadapannya.


"Saya yakin, Tuan. Pagi ini semua berita itu tersebar, tapi sekertaris Abian bergerak cepat untuk menghapus semua berita itu semua situs internet."


Alvaro menghela napasnya pelan, tangannya terkepal erat karena baru saja mengetahui sebuah fakta jika sang putra selama ini tidak bahagia dengan pernikahannya. Tetapi yang membuat pria paruh baya itu bingung, kenapa Alvino menyembunyikan semuanya.


"Baiklah, kamu boleh pergi."


Alvaro meraih ponselnya di atas nakas untuk menghubungi sang putra. Sebagai seorang ayah, ia tidak ingin ikut campur dengan urusan rumah tangga anaknya, tetapi kali ini ia merasa tidak bisa diam saja.


[Ya, kenapa Pa?]


"Datang dan temui Papa di Mansion sekarang!" Alvaro menatikan panggilan telepon itu. Wajahnya nampak sangat kecewa dan kesal, namun sebelum mengambil tindakan ia harus memperjelas semuanya.


"Mas, kamu kenapa? Kok wajah mu memerah seperti itu." Arumi masuk seraya meletakkan secangkir teh herbal di meja suaminya.


Alvino segera menormalkan ekspresi wajahnya saat melihat kedatangan sang istri, wajah yang tadinya terlihat datar kini kembali tersenyum. "Tidak apa-apa, Ma. Oh ia kamu jadi pergi ke panti hari ini?"


"Jadi, Mas. Ini sudah mau berangkat, Mas benar-benar tidak jadi ikut?" tanya Arumi memastikan.


"Iya, kepala ku terasa pusing. Aku ingin beristirahat saja di rumah, sampaikan salam ku kepada semua pengurus panti ya," ucap Alvaro mencari alasan.

__ADS_1


"Iya, Mas. Oh ia hari ini Viona akan pulang dari paris, siapa yang akan pergi menjemput ya, sepertinya aku akan di panti sampai malam," ujar Arumi yang merasa bingung karena saudara kembar Alvino itu selalu minta di jemput saat pulang.


"Aku akan meminta tolong, Abian nanti. Kamu tidak usah khawatirkan itu, pergilah."


"Kalau begitu aku pamit ya, Mas." Arumi mencium pipi sang suami lalu beranjak pergi meninggalkan ruangan itu.


~


"Kenapa kamu telat hari ini? Kamu itu masih anak magang, nanti saya kasih nilai jelek baru tau kamu!" tegas seorang manager keuangan kepada Aliya.


"Maaf, Pak. Lain kali saya tidak akan telat lagi, saya janji tapi tolong jangan berikan saya nilai jelek, ya pak." Aliya menyatukan kedua telapak tangannya dengan tatapan sendu, karena tugas akhirnya ini sangat mempengaruhi nilai.


"Baiklah, sekarang kamu keruangan fotocopy dan salin semua dokumen ini." Pria paruh baya itu memberikan setumpuk berkas kepada Aliya.


"Masih pagi udah lemes, tidak sarapan kamu," sahut Noah yang tiba-tiba saja sudah mensejajarkan langkahnya dengan Aliya.


"Bukan cuma tidak sarapan, tapi aku juga terlambat. Semua ini gara-gara ular ... ah maksud ku aku terlambat bangun, baru juga datang udah kena marah sama pak Joko, sial banget sih aku," jelas Aliya dengan wajah lemasnya.


Noah malah terkekeh seraya menepuk-nepuk pundak sang sahabat. "Makanya kamu jangan kebanyakan begadang, tidur tepat waktu dan jangan banyak pikiran, kita hanya dua bulan saja di sini jadi jaga kondisi sebaik mungkin."


"Iya masih kuat aku. Aku duluan ya, mau ke ruang fotocopy." Aliya melambaikan tangannya kepada Noah lalu berbelok ke arah yang berbeda dengan Noah.

__ADS_1


Saat Aliya hendak masuk keruangan fotocopy, secara kebetulan ia melihat Abian yang juga berada di ruangan itu. Ia pun segera melangkah menghampirinya.


"Sekertaris Bian."


"Eh kamu, Al. Baru saja aku mau menghubungi kamu, kenapa Alvino tidak masuk hari ini?" tanya Abian yang nampak sangat penasaran.


"Tuan Albino eh maksud saya Alvino pagi tadi baru saja bertengkar hebat dengan istrinya, jadi dia tidak bisa masuk hari ini, ponselnya saja hancur di lempar ke tembok," jelas Aliya.


"Sudah ku duga dia pasti galau lagi ... eh tapi dari mana kamu tau kalau dia bertengkar dengan istrinya?"


"Oh itu, saya mengikuti Tuan Alvino pagi tadi karena dia pergi dengan ekspresi wajah tidak biasa. Aku sangat kaget saat mengetahui jika Nona Shela juga mempunyai selingkuhan, mereka bertengkar sangat hebat."


"Sekarang kamu sudah tau ya. Dia pasti hancur sekali. Pada dasarnya dia adalah pria yang setia mekipun dia menikah hanya karena perjodohan, tapi saat mengetahui istrinya selingkuh, dia pun membalas istrinya dengan selingkuh juga. Tapi ternyata membalas dendam saja tidak membuat perasaannya lebih baik, Shela terus saja memberikan kejutan tak terduga yang membuat pertahanan diri Alvino goyah. Aku akan menemuinya malam ini, jangan terlalu di pikirkan dia akan baik-baik saja, aku kembali bekerja dulu, kamu tetap semangat." Abian menepuk pundak Aliya beberapa kali lalu beranjak pergi dari ruangan itu.


Ternyata dia tidak seburuk yang aku bayangkan. Malam ini aku harus mengajar les lagi, apa dia akan pulang ke rumahnya atau tetap di apartemen ya, batin Aliya.


Bersambung, 💖


jangan lupa berikan dukungan ya readers tercinta.🥰


Author mau merekomendasikan novel lagi nih.

__ADS_1



__ADS_2