Jerat Hasrat Sang Calon Duda

Jerat Hasrat Sang Calon Duda
Bab.127


__ADS_3

"Gila ya, kamu sekarang makin tampan saja. Tadinya aku nyesal karena kembali ke tanah air dan meninggalkan pekerjaan ku di Kanada, tapi ternyata aku salah. Senang bisa bertemu kamu lagi setelah sekian lama."


Alih-alih menanggapi ucapan wanita di hadapannya, Abian malah nampak risih karena kembali bertemu dengan wanita yang dulu membuatnya tidak betah bersekolah.


Dasar Albino kuning menyebalkan, pantas saja dia meminta ku untuk datang sendiri, batin Abian.


"Ehm, Sabrina. Dari tadi kamu terus membahas masalalu, kita bertemu sekarang untuk membahas kerjasama, apa kamu bisa lebih fokus?"


"Oh sorry, aku sampai lupa. Oke sekarang kita fokus ke pekerjaan." Sabrina mengeluarkan map berwarna merah dari dalam tasnya. "Ini beberapa proposal dari perusahaan kami, mungkin kamu membutuhkan waktu untuk membaca semuanya. Intinya perusahaan kami selalu mengedepankan kualitas bahan bangunan, kami pastikan tidak akan ada kendala yang berarti jika proyek ini di percayakan kepada kami."


"Oh okey, kalau begitu aku akan bawa proposal ini untuk di pelajari." Abian melihat jam di tangannya yang sudah menunjukkan pukul delapan malam, ia yakin Viona pasti sudah pulang. "Em, Sabrina, kalau begitu aku pulang dulu ya."


Saat Abian hendak berdiri, Sabrina langsung meraih dan menarik tangannya sampai membuat ia kembali duduk. "Kamu kok buru-buru sekali. Kita sudah lama tidak bertemu, makan dulu ya."


"Tapi Aku harus segera pulang karena --"


"Ssstt, jangan banyak alasan. Cuma makan malam sebentar saja kok," ucap Sabrina seraya meletakkan jari telunjuknya di depan mulut Abian.


Karena merasa tidak nyaman, Abian pun segera menyingkirkan tangan Sabrina. "Oke, jangan menyentuh ku, aku tidak suka."


"Haha, kamu masih saja selucu dulu." Sabrina meraih buku menu dan mulai melihat kira-kira menu apa yang akan ia pesan. "Bian, kamu mau makan apa?"


"Aku ikut saja, yang penting cepat," jawab Abian yang nampak begitu malas.


"Okey, aku masih ingat semua makanan yang kamu suka kok," ujar Sabrina yang nampak begitu ceria.


~


Setelah beberapa saat menunggu akhirnya makanan mereka sudah siap untuk di santap. Saat ini di atas meja, ada beberapa menu bertema western, seperti spaghetti dan steak.

__ADS_1


Abian nampak lebih banyak diam seraya terus menikmati spaghetti bolognaise yang ada di hadapannya. Sementara Sabrina tak jemu-jemu menatapnya sambil tersenyum-senyum sendiri.


"Bian, sampai sekarang aku masih belum menikah karena kamu."


"Brffft uhuk...uhuk." Abian sampai tersedak mendengar ucapan Sabrina. Ia sendiri bingung kenapa wanita cantik itu benar-benar tergila-gila kepadanya sejak SMA. Padahal Ia sudah sering menolak Sabrina karena satu alasan yaitu karena ia mencintai wanita lain dan wanita itu adalah Viona.


Melihat Abian tersedak, Sabrina pun berinisiatif membantu. iya berdiri dari duduknya lalu pindah ke samping Abian. "Kamu makan pelan-pelan dong, ayo minum dulu."


Abian meraih segelas air di tangan Sabrina lalu di teguk sampai habis. "Sudah aku tidak apa-apa."


"Tidak apa-apa bagaimana? Ini baju kamu juga kotor, sini aku bersihkan dulu," tanpa menunggu persetujuan dari Abian, Sabrina langsung meraih tisu dan membersihkan bagian jas dan juga kemeja yang terkena saus.


"Oh bagus ya ... lagi reuni romantis nih ceritanya!"


"Vi-viona." Karena merasa panik Abian langsung mendorong tubuh Sabrina hingga terjatuh ke lantai. "Ini semua tidak seperti yang kamu bayangkan."


Viona menatap tajam ke arah sang suami kemudian berpindah ke Sabrina yang masih terduduk di lantai. "Hy Sabrina, long time no see."


Viona hanya berdesak kemudian kembali melihat ke arah Abian. "Kamu tunggu aku di mobil sekarang. Aku mau bernostalgia bersama Sabrina sebentar."


Mendengar ucapan sang istri tentu saja Abian mengerti maksud dari semuanya. "Tapi bagaimana ... ya baiklah aku tunggu kamu di mobil." Ia tidak punya pilihan lain, saat melihat tatapan tajam Viona yang seolah siap untuk menerkamnya.


Setelah kepergian Abian kini tinggallah Viona dan Sabrina yang berada di sana. Mereka tak henti-hentinya saling menatap seraya berpangku tangan bahkan tidak ada basa-basi seperti sewajarnya seorang teman sekolah yang sudah lama tidak bertemu.


"Heh, Kamu ngapain datang ke sini? Pakai acara merintah-merintah Abian lagi. Sudah lama tidak bertemu, ternyata kamu masih sama saja," celetuk Sabrina yang mulai mengibarkan bendera perang.


"Haha, kamu juga masih sama. Asal kamu tau saja ya, aku ini istrinya Abian dan dia, adalah suami ku." Viona mengangkat tangannya di mana sebuah cincin pernikahan melingkar di jari manisnya.


Sabrina nampak begitu kaget dan juga tak percaya. "Gila ya, kamu masih saja suka bohong seperti ini. Aku tahu kamu mengatakan ini aku tidak mendekati Abian kan?"

__ADS_1


"Dasar kurap, panu, kudis, jamur. Siapa yang bohong? Dan satu hal lagi yang harus kamu tau, dia itu hanya mencintai aku dan dia hanya milikku! Jadi kalau kamu masih mencoba untuk mendekati Abian, aku akan membuat kamu botak, mencabut eyelash extension kamu satu persatu dan juga merontokkan gigi kamu. Aku harap kamu paham, dasar pocong nungging."


Viona melangkah meninggalkan tempat itu seraya menghentak-hentakkan kakinya karena kesal. Lagi-lagi untuk kesekian kalinya Sabrina kalah telak dari seorang Viona Wilson yang memang bukanlah tandingannya.


...----------------...


Sesampainya di parkiran Viona langsung masuk ke dalam mobil Abian. Ia menoleh menatap sang suami yang langsung menunduk ketika melihat sorot mata tajamnya.


"Yona, kamu benar-benar salah paham."


Tiba-tiba saja Viona menundukkan pandangannya, menyandarkan tubuh di sandaran kursi mobil seraya menatap nanar ke arah depan. "Hufftt. Ya aku tau kamu tidak akan mengkhianati kepercayaan ku. Tapi aku benci situasi seperti ini."


Abian menegapkan kepalanya saat mendengar suara Viona yang terdengar bergetar. "Yona, kamu menangis?"


Dengan gerakan cepat Viona langsung memalingkan wajahnya lalu menyeka air mata yang mulai membasahi pipinya. "Ehm, tidak. Kalau begitu aku akan turun sekarang kita pulang dengan mengendarai mobil kita masing-masing."


Baru saja Viona bergerak sedikit, Abian langsung mencegahnya. Ia pun kembali berbalik dan sang suami ternyata sudah mendekat hingga mereka hampir tak berjarak.


Tatapan mata mereka saling berbicara, mengisi kekosongan dan kehampaan yang selama ini membuat mereka sama-sama bingung dengan keadaan.


"Maaf, karena sudah membawa kamu ke situasi yang kamu benci. Aku hanya mencintai kamu dan tidak akan ada orang ke tiga di antara kita."


Tetesan demi tetesan air mata kembali membasahi sudut mata Viona. Sudah lama mengenal Abian tentu saja, ia tahu tatapan mata yang saat ini tergambar jelas adalah tatapan penuh ketulusan dan juga kesungguhan tanpa sebuah dusta di dalamnya. "Are you sure? (Apa kamu yakin?)"


"Yes, I'm promise (Ya, aku janji)." perlahan tangan Abian meraih tekuk leher Viona dan langsung mendapatkan satu ciuman di bibir yang nampak merah merona.


Ciuman pertama setelah pernikahan terasa begitu manis hingga tanpa sadar mereka memejamkan mata dan menikmati segala sensasi yang begitu luar biasa.


Bersambung 💖🥰

__ADS_1


Yuk berikan dukungan untuk Author ya reader 🥰💖


__ADS_2