Jerat Hasrat Sang Calon Duda

Jerat Hasrat Sang Calon Duda
Bab.143


__ADS_3

Abian kembali ke unit apartemennya setelah bertemu dengan Sabrina untuk menyelesaikan semuanya. Ketika masuk ke dalam sang istri baru saja keluar dari kamar.


"Bi, kamu keluar? Tidak pakai jaket lagi, di luar kan sangat dingin, kamu kemana?"


Sejenak Abian terdiam, ia bingung apakah harus menceritakan semuanya kepada Viona atau tidak. Ingin berbohong agar sang istri tidak marah tetapi apa yang dimulai dengan kebohongan tentu saja tidak akan berakhir dengan baik.


"Yona, tadi aku sudah bicara dengan Sabrina. Aku memintanya untuk tidak mengganggu kita lagi, kamu tidak marah kan aku bertemu dengannya?"


Viona menghela nafas pelan seraya berpangku tangan. "Aku kan sudah bilang ke kamu tidak usah menemui dia, percuma. Jujur, Aku tidak suka kamu pergi menemui dia apalagi tanpa memberitahu aku sebelumnya."


"Yona, dengarkan penjelasanku dulu, aku bertemu dengannya untuk menyelesaikan masalah ini aku lelah jika kamu dan dia terus bertengkar."


Viona menghempaskan tangan Abian yang mencengkram kedua sisi pundaknya. "Apakah ada jaminan, dia tidak akan mengganggu kita lagi?"


Abian kembali terdiam, Viona selalu saja berhasil membuatnya kalah telak ketika berdebat.


"Kamu tidak bisa menjamin kan? Bian, aku sudah memikirkan ini sejak kemarin sepertinya kamu harus berhenti bekerja di kantor Alvino dan mulai mengembangkan bisnis bersamaku. Kita tinggal di luar kota saja ya."


"Tidak, Yona. Aku bukannya menolak permintaan kamu tetapi pekerjaanku saat ini bukan hanya sebagai seorang sekretaris tetapi Papa kamu memberikan kepercayaan penuh untuk aku mendampingi Alvino membangun perusahaan. Jika kamu khawatir Sabrina akan mengganggu pernikahan kita lagi, tenang saja Aku pastikan setelah kita pulang nanti kerja sama ini akan berakhir."


Viona nampak lebih tenang ia mengeluarkan jari kelingkingnya ke hadapan Abian. "Kamu janji?"


Senyum tipis kini terukir di wajah Abian sikap sang istri saat ini benar-benar membuatnya panik sekaligus senang. Ia senang karena sang istri akhirnya bersikap posesif dan cemburu dan ia panik karena ketika Viona marah, Abian pasti akan kalah debat. Perlahan tangan Abian meraih jari kelingking sang istri. "Iya janji, sekarang ayo kita mandi dan lanjut jalan-jalan."


"Ah kamu tetap saja menyebalkan! Untung saja aku sayang, kalau tidak sudah ku jadikan mainan kuda-kudaan kamu," ujar Viona.


"Main kuda-kudaan? Kalau di atas ranjang aku mau saja. Itu ide yang bagus, ayo kita lakukan sebelum mandi, proyek kita harus berhasil sebelum kita pulang."

__ADS_1


Abian mendekat dan langsung menggendong sang istri ala bridal style. Viona nampak kaget, ia selalu saja bicara dengan spontan sampai terkadang terjebak dalam ucapannya sendiri. "Bi, aku tarik kembali kata-kata ku. Ayo kita mandi saja ya."


"Tidak bisa, I need you baby girl." Abian menggendong Viona masuk kembali ke dalam kamar, pagi itu mereka kembali melakukan olahraga pagi sebelum kembali menghabiskan waktu dengan berjalan-jalan menikmati pemandangan kota Jepang yang sangat luar biasa ketika musim dingin.


Kehidupan rumah tangga pasti ada saja kerikil-kerikil tajam yang mewarnai. Semua tergantung bagaimana seseorang untuk menyikapi semua gangguan.


Abian dan Viona adalah seorang sahabat yang sudah saling mengenal satu sama lain. Saat menjadi sepasang suami istri dan ketika cinta itu telah hadir Viona mulai semakin posesif karena takut kehilangan pria terbaik yang dikirimkan semesta kepadanya


~


Setelah selesai mandi dan bersiap-siap Abian dan Viona keluar dari unit apartemen mereka. Saat hendak melangkah pergi mereka dikejutkan dengan Sabrina yang baru saja keluar seraya menyeret kopernya.


"Sabrina, kamu mau pulang?" tanya Viona.


Wajah Sabrina nampak begitu sendu tidak segarang biasanya, pandangannya juga tertunduk dan kedua tangannya mencengkram erat pegangan koper. "Ya, aku mau pulang. aku mengaku jika kedatanganku kemari memang bertujuan untuk mengikuti kalian."


"Hah, sudah aku duga. Wajah mu tidak bisa berbohong," ketus Viona.


"Sejak SMA aku begitu menyukai kamu Abian dan sampai beberapa jam yang lalu aku masih mengharapkan kamu bisa menerima keberadaanku meski menjadi yang kedua aku tidak masalah. Tapi ucapanmu pagi tadi benar-benar menamparku, aku merasa menjadi wanita yang sangat bodoh. Sekarang aku akan pastikan tidak lagi muncul di hadapan kalian. Berbahagialah, jika suatu saat nanti kita tidak sengaja bertemu anggap saja kok orang asing."


Viona nampak kaget, tadinya ia ragu bahwa Sabrina akan berhenti mengejar sang suami tetapi ternyata secara tiba-tiba saja Sabrina mengaku kalau di hadapannya.


"Ya, kamu juga harus belajar dari kesalahan. Sabrina, Kamu adalah seorang wanita yang cantik dan juga sukses, Aku yakin di suatu tempat, seorang lelaki sedang menunggumu untuk membuka hati jangan terpaku pada cinta pertama. Karena cinta pertama belum tentu menjadi cinta terakhir," tutur Viona yang mulai sedikit melunak.


"Hm kamu benar," ucap Sabrina lalu membuka kopernya untuk mengambil jaket yang tadi pagi Abian pinjamkan. "Terimakasih untuk jaketnya, sekarang aku sudah baik-baik saja."


Abian meraih jaket tersebut seraya melirik ke arah sang istri yang menatapnya dengan tajam. Entah kenapa tadi pagi ia begitu berbaik hati memberikan jaketnya kepada Sabrina. Ya, terkadang ia begitu manusiawi dan tak tega melihat orang yang kesusahan meski ia membenci orang tersebut.

__ADS_1


Sabrina pun berbalik pergi sambil menyeret kopernya dengan langkah cepat. Cinta pertama memang begitu membekas di hati, dan begitulah yang dialami Sabrina selama bertahun-tahun, hanyut dalam perasaannya sendiri tanpa sekalipun mendapatkan pembalasan.


Sabrina semakin melangkah jauh Viona pun memutar posisinya menghadap ke arah sang suami. "Oh jadi kamu meminjamkan dia jaket itu tadi pagi?"


Lutut Abian terasa bergetar ia merasa sebentar lagi akan berpindah alam. "Kamu tau jiwa aku memang sangat baik hati. Pagi tadi aku begitu marah, dia hanya memakai pakaian tipis ketika aku menyeretnya keluar. Ayolah Yona, aku tidak punya maksud apapun."


"Gendong aku sampai ke stasiun kereta, baru aku akan memaafkan mu," ucap Viona.


"Apa! Kamu tidak salah bicara, mana mungkin aku bisa menggendong kamu sampai ke stasiun kereta jaraknya kan puluhan kilometer dari sini."


Viona memicingkan matanya serai mendengus kesal. "Ya sudah, aku tidak mau jalan-jalan dan tidak akan memaafkan kamu." Ia hendak berbalik masuk ke dalam unit apartemen tetapi Abian segera mencegahnya.


"Baiklah, ayo naik. Aku bisa kok bisa." Abian membungkukkan badannya agar sang istri bisa naik."


Seraya menahan tawa Viona segera melompat naik ke atas punggung sang suami. "Ayo jalan, jangan sampai kita ketinggalan kereta."


"Baiklah, aku akan berlari. Pegangan yang erat sayang!" Abian segera mengambil ancang-ancang dan dalam perhitungan ketiga Ia berlari menyusuri koridor apartemen.


Viola bersorak bahagia karena merasa telah bebas dari segala masalah yang membuatnya gelisah. Dari belakang ia memeluk sang suami dengan erat seraya memejamkan mata, rasa nyaman menelusup masuk hingga mengetuk relung hatinya.


*terima kasih sudah hadir sebagai teman dan juga pasanganku, batin Viona.


Bersambung 💖


beberapa hari ini author sedikit sibuk dengan urusan di dunia nyata jadi tidak bisa menghabiskan banyak waktu untuk berhalu, novel ini akan memasuki episode-episode terakhir dan semoga teman-teman yang masih setia menunggu bisa membaca sampai bab terakhir nanti, terima kasih untuk pengertiannya Happy Happy reading.


Salam manis Author Alya Aziz 💖

__ADS_1


Jangan lupa mampir ke novel terbaru author yang akan aktif update awal bulan nanti*.



__ADS_2