Jerat Hasrat Sang Calon Duda

Jerat Hasrat Sang Calon Duda
Bab.73


__ADS_3

"Hallo Mas, hallo ... ya di matiin lagi." Tiba-tiba saja Aliya merasa begitu panik dan khawatir karena Alvino yang tiba-tiba menelepon dalam keadaan menangis, ia yang tadinya ingin mandi sekarang melemparkan handuknya ke lantai begitu saja, karena pikirannya menjadi tidak tenang.


Di tengah kebingungannya tiba-tiba saja biar pintu berbunyi Aliya pun segera beranjak keluar dari kamarnya menuju pintu utama apartemen.


Klek.


Saat Aliya membuka pintu apartemennya iya kaget ketika mendapati sang Papa mertua sedang berdiri di sana dengan seorang ajudan pria bertubuh kekar di belakangnya. "Pa-apa ... silahkan masuk." Ia membuka pintu lebar-lebar agar sang mertua bisa lebih leluasa masuk kedalam.


Tanpa mengatakan apapun, Alvaro masuk kedalam tanpa di ikuti oleh sang ajudan. Ia langsung duduk di sofa ruang tamu dengan wajah yang nampak begitu serius.


Dengan perasaan campur aduk, Aiya duduk di hadapan sang mertua. "Maaf, Pa. Kalau boleh tahu ada apa ya?"


"Aliya berangkat lah malam ini juga ke Melbourne, Alvino pasti membutuhkan kamu di sisinya."


"A-apa, Melbourne malam ini juga?"

__ADS_1


"Iya pergilah. Kamu tidak perlu khawatir masalah Visa, pasport dan lain-lain karena Papa sudah mengurus semuanya. Hari ini adalah hari yang paling berat bagi Alvino karena harus menerima kenyataan pahit dalam pernikahannya dengan Shela jadi Papa harap kamu bersedia untuk pergi dan menemaninya jangan pedulikan Shela tetapi pikirkanlah bagaimana Alvino melewati semuanya saat ini."


"Tapi apa yang terjadi sebenarnya, Pa?" Aliya benar-benar bingung dengan situasi yang saat ini sedang terjadi. Tadi baru saja ya menerima telepon yang membuatnya begitu khawatir dengan Alvino dan sekarang ditambah lagi dengan kedatangan sang mertua yang tiba-tiba saja memintanya untuk segera pergi ke Melbourne Australia.


Alvaro mengalah nafas berat karena ternyata Aliya belum mengetahui semua yang terjadi kepada Alvino. "Sepertinya Alvino belum menceritakan semuanya kepada kamu, jika hari ini ia harus menerima kenyataan bahwa Naya bukanlah anak kandungnya. Sebenarnya Papa sudah mengetahui fakta ini beberapa hari sebelum keberangkatan Alvino dan Shela ke Melbourne tapi papa merasa tidak sanggup untuk mengatakannya."


Deg.


Aliya membulatkan matanya dengan mulut terpengangah ketika mengetahui semua penyebab sang suami menelpon dalam kondisi yang terdengar begitu sedih.


"Baiklah Pa, kalau begitu saya akan berangkat ke Melbourne malam ini juga. Saya tidak tahu kedatangan Saya nanti akan membuat situasi lebih baik atau malah semakin memburuk namun sebagai istri dari Mas Alvino sudah seharusnya saya berada di sisinya di situasi terburuknya."


Kembali ke negeri asing di mana Alvino sedang berjuang untuk hal yang seharusnya tidak ia perjuangkan. Dengan segala keteguhan hati yang coba Ia bangun kembali, ia melangkah masuk ke dalam ruangan Naya.


saat masuk ke dalam dia bisa melihat Sheila yang sedang duduk di samping Naya. tadinya Alvino ingin mengusir Shela dari ruangan itu, namun tanpa ia duga Naya telah sadar meskipun masih memakai selang oksigen.

__ADS_1


Hatinya pun kembali merasa tidak siap untuk menerima semua kenyataan dan membeberkannya kepada gadis kecil yang selama ini ya sayangi layaknya anak kandung sendiri.


"Daddy." Suara Naya terdengar begitu lirih memanggil sang Daddy. Ia masih terlalu kecil untuk mengetahui semua masalah yang sedang terjadi.


Perlahan Alvino melangkah mendekat, tanpa memperdulikan Shela yang hanya diam terpaku pada posisinya.


"Akhirnya kamu sadar sayang," ucap Alvino sambil membelai pucuk kepala Naya.


Gadis kecil itu nampak terdiam saat melihat mata sang Daddy yang terlihat bengkak seperti orang yang baru saja menangis. "Daddy, are you okey? Apa Daddy habis menangis?"


Alvino hanya terdiam seraya terus membelai pucuk kepala Sang Putri baginya kenyataan ini benar-benar berat untuk diterima.


Apa yang harus Daddy katakan kepada kamu sekarang, sayang. Daddy harap kamu tidak pernah mengetahui fakta ini. Tapi kenyataannya Daddy tidak pernah mempunyai hak atas dirimu, karena kamu bukan anak kandung Daddy, batin Alvino.


Matanya mulai berkaca-kaca, namun ia tetap berusaha untuk bersikap tenang dan kuat. Ia tidak ingin terlihat lemah di hadapan Naya.

__ADS_1


Bersambung.


Jangan lupa gaess kembang kopinya biar mata author makin melek wkwkwk canda ya gaesss.... terimakasih atas dukungannya selama ini, komen dan like kalian saja sudah sangat berarti untuk author...


__ADS_2