Jerat Hasrat Sang Calon Duda

Jerat Hasrat Sang Calon Duda
Bab.114


__ADS_3

Sepulangnya dari hotel Abian mengantar Viona pulang ke rumah. lagu begini kembali melanda dirinya karena dia takut kedua orang tua Viona akan bertanya ke mana ia membawa Viona semalaman.


Viona punya sejak tadi duduk di samping Abian bisa melihat dengan jelas kegelisahan sahabatnya itu. "Kamu kenapa, gugup sekali?"


"Bagaimana aku tidak gugup. Bagaimana jika nanti kedua orang tuamu bertanya kita pergi ke mana saja. Ini semua gara-gara kamu sih, malam tadi kamu meracau dan mau tidak mau aku harus membawa kamu menginap di hotel."


"Katanya kamu cinta, tapi baru seperti ini saja kamu sudah takut. Kedua orang tuaku itu sangat percaya kepadamu mereka pasti akan marah. Lagi bola malam tadi kan kita tidak melakukan apapun kecuali ... sebenarnya kamu memanfaatkan kesempatan saat aku tidak sadarkan diri."


"Sepertinya kamu malah berharap aku benar-benar melakukan sesuatu kepadamu malam tadi. Yona, kau tahu sebenarnya aku ini hanya laki-laki biasa yang bisa saja tergoda tapi aku berusaha menahan diri karena aku yakin akan ada masa di mana aku bisa memiliki semuanya, jika kita memang ditakdirkan berjodoh. Ya itu hanya angan-anganku saja karena sampai detik ini kamu saja belum mengakui perasaanmu kepadaku."


Lagi-lagi Viona hanya terdiam ia memalingkan wajahnya ke arah kaca jendela mobil. Ia menatap nanar ke arah jalan raya Karena rasa bingung yang kembali menyelimuti hati.


Hubungan persahabatan yang mereka jalani sudah berlangsung begitu lama dan untuk membalik sebuah keadaan menjadi sebuah penyatuan itu tidaklah mudah.


Viona kembali menoleh ke arah Abian yang saat ini kembali fokus menyetir. "Beberapa tahun lalu aku pernah menyaksikan dua orang sahabat yang saling jatuh cinta. Mereka memutuskan untuk menjalin hubungan pacaran atas dasar suka sama suka, namun kamu tahu akhirnya mereka putus dan persahabatan mereka pun hancur. Bi, aku tidak mau kehilangan sahabat seperti kamu."


Pada akhirnya Abian mengerti satu hal, jika sebenarnya Viona bukan tidak menyukainya tetapi persahabatan mereka yang sudah terjalin sejak kecil menjadi alasan untuk Viona berfikir panjang sebelum memutuskan untuk menerima perasaannya.


"Kamu tidak akan pernah kehilangan sahabatmu, lagi pula aku tidak akan mengajak kamu membangun satu komitmen yang ada masa kadaluarsanya." perlahan kiri Abian bergerak menggenggam tangan Viona. "Kamu akan menjadi segala ku, tanpa batas waktu. Sudahlah jangan dibahas lagi, pikirkan matang-matang dan datanglah kepadaku."


Viona tidak henti-hentinya melihat tangan Abian yang terus menggenggam tangannya. ada desiran aneh yang mengalir deras di dalam tubuhnya tapi ia berusaha untuk tetap meyakinkan diri hingga nanti ia benar-benar tidak lagi ragu untuk memulai sebuah tahap yang baru.


...----------------...


Sementara itu sepasang suami istri yang sedang melewati hari weekend bersama, terlihat begitu riang gembira menikmati makan siang mereka di sebuah restoran ternama di pusat kota.

__ADS_1


"Hem enak sekali, ternyata info di internet bisa dipercaya juga. Seafood di sini benar-benar fresh dan pelayanannya juga bagus. Lain kali aku mau makan di tempat lain lagi."


Alvino tersenyum lalu meraih sebuah tisu untuk membersihkan sudut bibir sang istri yang belepotan karena makanan. "Kalau begini kan enak, kamu tinggal bilang mau makan di mana kita langsung pergi bersama. Jadi aku tidak perlu berurusan dengan si blacky."


Aliya mengerutkan keningnya ketika mendengar ucapan sang suami, selama ini tidak pernah mendengar suami membahas tentang si blacky. "Hah, blacky itu siapa Mas?"


"Oh iya aku belum cerita ya, jadi saat kamu mengidam ingin makan ikan terbang ada seorang bapak-bapak yang mempunyai anjing namanya blacky. Entah sial atau apa, saat itu aku dikejar oleh anjing hingga Aku berlari keluar dari kamu. Aku pikir setelah aku lolos, mungkin aku tidak akan pernah bertemu dengan bapak itu dan anjingnya, tapi ternyata aku bertemu mereka lagi dan saat itu aku malah mendapati fakta bahwa sebuah proyek yang tidak aku ketahui sedang direncanakan oleh papa. Dan Papa malah meminta aku untuk mencari jalan keluarnya sendiri, ini sudah seperti aku harus melawan papaku sendiri, karena itu kemauannya jadi aku harus bisa."


Aliya menyentuh tangan sang suami dan berusaha untuk menguatkannya. "jadi karena ini waktu itu kamu sedih sekali sampai memeluk aku dengan erat. Sudah tidak apa-apa aku yakin Mas pasti bisa melewati semua ini."


"Terima kasih sayang Ayo lanjut lagi makannya. Setelah ini kamu mau kemana?"


Seketika Aliya menghentikan aktivitas makannya dan kembali menatap sang suami. "Aku ingin mengajak kamu ke suatu tempat, yang mungkin agak jauh dari sini tapi kalau bukan sekarang kapan lagi."


"Nanti kamu akan tahu sendiri." hanya jawaban itu yang keluar dari mulut Aliya, iya kembali fokus ke piringnya untuk menghabiskan makanan yang tersisa di sana.


~


"Ayo masuk." Fiona mencoba untuk menarik tangan Abian agar mengikuti langkahnya masuk ke dalam Mansion mewah itu. Sebenarnya Abian begitu takut untuk berhadapan dengan kedua orang tua Viona namun lagi-lagi Ia hanya bisa pasrah.


"Yona, aku sakit perut mau ke toilet."


"Ah alasan, duduk di sini dulu, Papa aku pasti sudah pulang dari Malaysia kamu tidak ingin menyapanya apa."


"Iya sih tapi--"

__ADS_1


"Papa, Mama! Aku pulang." Viona langsung berhambur memeluk kedua orang tuanya yang baru saja turun dari lantai dua.


Raut wajah Abian pun nampak memuja ketika melihat kedatangan kedua orang tua wanita yang ia cintai. Dulu ya begitu santai karena memang sudah kenal dekat tetapi kali ini ia merasa situasinya berbeda.


"Yona, kamu kemana saja semalaman tidak pulang?" tanya Arumi kepada putrinya.


"Hah, tidak pulang. Kamu kemana?" sambung Alvaro.


"Tanya saja sama Abian, dia yang membawa ku semalaman," jawab Viona dengan santainya.


Sontak saja Abian yang sejak tadi duduk tertunduk kini mengangkat kepalanya memandangi Viona dan kedua orangtuanya dari kejauhan.


Dasar Viona menyebalkan, kenapa dia malah menjawab seperti itu, batin Abian.


Abian langsung berdiri dari posisi duduknya lalu menghampiri Viona dan kedua orang tuanya. "Ehm, maaf Om Tante. saya bisa menjelaskan semuanya sebenarnya tadi malam saat saya makan ke restoran bersama Viona, dia--"


Alvaro mengangkat tangannya sebagai tanda agar Abian berhenti untuk bicara. "Sudah tidak usah dijelaskan, Om percaya sama kamu. kalian ini sudah sama-sama dewasa pasti tahu mana yang baik dan mana yang buruk, jadi kapan kamu akan melamar Viona?"


"Papa," ucap Viona dengan ekspresi kaget.


"Mas jangan nanya seperti itu dong kasihan Abian lihat dia kelihatan kaget," sahut Arumi.


"Loh Papa kan cuma nanya apa salahnya?" Alvaro kembali menatap Abian dengan serius. "Bian, Om mau tanya sama kamu apakah kamu mencintai Viona dan menginginkan dia untuk menjadi istri kamu?"


Bersambung 💖

__ADS_1


__ADS_2