
Empat hari berlalu, hari ini Aliya dan Alvino akan pulang kembali ke tanah air. Sebelum pergi mereka sudah mengatur janji untuk bertemu dengan Shela di rumahnya, tadinya janji itu mereka atur untuk mengembalikan Naya kepada Shela.
Tapi gadis kecil itu benar-benar ingin ikut pulang bersama Alvino dan Aliya. Sepanjang perjalanan pun Alvino terus berpikir bagaimana cara ia bicara kepada mantan istrinya itu mengenai permintaan Naya.
Alvino menoleh ke sisi kirinya di mana Aliya sedang duduk sambil memangku Naya yang sedang tertidur dengan lelap. "Apa perutmu tidak apa-apa memang aku nanya seperti itu?"
"Tidak apa-apa Mas. Sepertinya dia masih kelelahan karena malam tadi kita ajak jalan-jalan." Aliya mengecat singkat pucuk kepala Naya lalu kembali menoleh ke arah sang suami. "Naya terlahir tanpa mengetahui siapa ayah kandungnya. Yang dia tahu kamu adalah ayahnya dan dia masih sangat membutuhkan kasih sayang kamu, kira-kira apakah Kak Shela mau menyerahkan Ayah agar kita merawatnya sampai dia dewasa?"
"Aku tidak tahu pasti apakah Shela akan setuju tapi mendengar semua cerita Naya aku tahu dia sangat merindukan negara di mana ia dilahirkan, keluarga tempat ia tumbuh. Dia tidak hanya merindukan aku tapi juga merindukan Mama, Papa Vina dan Viona, terlebih di Swiss lingkungannya berbeda tentu saja meskipun sudah berbulan-bulan dia tinggal di sini dia belum terbiasa dengan suasana dan juga orang-orang di sekitar."
Alvino kembali menarik nafas panjang ketika membayangkan semua tragedi yang terjadi di masa lalu yang mengorbankan perasaan seorang anak yang tak berdosa. Meskipun Naya bukanlah anak kandungnya tetapi gadis kecil itu tumbuh dengan kasih sayangnya.
Ya tidak bisa dipungkiri dulu Naya memang lebih dekat dengan Alvino daripada Shela jadi wajar jika gadis kecil itu merasa sangat kehilangan. Sehingga saat bertemu kembali gadis kecil itu tidak lagi ingin berpisah dengan seorang pria yang masih dianggap sebagai ayahnya.
Perlahan tangan Aliya bergerak menepuk pelan punggung tangan sang suami. "Nanti kita coba bicara ke Kak Shela, apapun keputusannya nanti aku harap Mas bisa menerima Karena bagaimanapun kak Shela lebih berhak atas diri Naya."
"Iya sayang terima kasih karena kamu sudah mendukung aku dalam segala hal," ujar Alvino seraya menggenggam erat tangan sang istri.
Saat merasa tersentuh dengan perlakuan Alia Alvino tidak henti-hentinya bersyukur karena pada hari itu menyelamatkan seorang gadis tak berdosa dari belenggu seorang lintah darat.
Ia yakin pertemuannya Aliya bukanlah sebuah kebetulan melainkan sebuah takdir yang diatur agar ia keluar dari belenggu pernikahan toxic yang menyakiti dirinya sendiri dan juga Shela.
Nyatanya sekarang Shela sudah menemukan kebahagiaannya begitu juga dengan Alvino. Hanya yang tinggal menjadi beban tersendiri untuk Alvino adalah bagaimana caranya Naya tetap bahagia tanpa merasa diabaikan.
__ADS_1
**
H-1 sebelum keberangkatan Viona dan Abian menuju negeri sakura Jepang.
Sekitar pukul tujuh malam Abian mengajak Viona ke salah satu pusat perbelanjaan yang tidak jauh dari kediaman mereka untuk membeli beberapa barang yang belum mereka persiapkan.
"Sebenarnya kamu mau beli apa sih dari tadi kita keliling," keluh Viona yang sejak tadi melangkah beriringan dengan Abian.
"Aku ingin membeli beberapa kaos dan juga ****** *****," ujar Abian yang menghentikan langkahnya saat sudah sampai di rak khusus tempat berbagai macam pakaian dalam terpajang.
Viona pun ikut menghentikan langkahnya Namun raut wajahnya nampak berbeda. "Perasaan di lemari, pakaian dalam kamu yang belum pernah dipakai ada banyak, sekarang malah beli lagi, di mana-mana cowok itu koleksinya motor, mobil kalau dan hewan reptil, nah ini kamu koleksinya ****** *****."
"Ya kenapa sih, Aku tidak suka dengan bahan celana dalamku yang ada di rumah, ukurannya juga terlalu sempit. Kita kan besok mau ke Jepang siapa tahu saja aku bertemu dengan Maria Oz*wa, haha."
Bug!
Abian mundur sekitar enam langkah dari Viona untuk mencari jarak aman. "Yona, apakah kamu akan marah kepadaku? Kalau iya aku akan langsung lari sekarang."
Viona berbalik memandangi sang suami dari jarak sekitar dua meter. "Kalau ini di rumah aku pasti sudah memotong anu milikmu kecil-kecil terus panggang jadi otak-otak. Sudah ah ayo cepat pilih pakaian dalamnya, Aku sudah lapar nih."
Akhirnya Abian bisa bernapas lega karena untungnya Viona sedang lapar jadi tidak punya tenaga untuk menghajarnya. "Baiklah kalau begitu aku akan membeli keperluanku dengan cepat lalu mengantarkan istriku makan malam."
"Untung saja aku sedang lemas, kalau tidak sudah habis kamu, dasar biawak berbulu."
__ADS_1
Saat Abian tengah asik memilih-milih barang Viona secara tidak sengaja ke arah kanan dan melihat sepasang suami istri yang menggendong dua bayi kembar yang nampak begitu lucu.
"Bi coba lihat deh anak mereka lucu sekali ya," ucap Viona seraya menepuk pundak Abian.
Abian pun memandang ke arah yang sama gimana Viona nampak begitu terpanah. "Oh baik tenang saja aku sudah merencanakan proyeknya saat di Jepang nanti."
"Proyek? Kamu kira membuat anak itu seperti mengadon semen dan batu kerikil apa, kehadiran buah hati itu adalah anugerah dari sang pencipta, saat menjadi orang tua pun tanggung jawabnya sangat besar, memangnya kamu sudah siap?"
"Aku siap lahir batin," ucap Abian dengan lugas Ia tidak menyangka bahwa Viona akan membahas tentang anak padahal Ia sudah menahan diri untuk tidak membahasnya, karena ia tidak ingin membuat Viona merasa tertekan.
"Meskipun mungkin saja aku akan mengidam lebih parah daripada Aliya?" tanya Viona lagi.
"Ten ...." Abian tidak bisa melanjutkan ucapannya ketika memori beberapa bulan yang lalu kembali terputar, saat itu ia menyaksikan sendiri bagaimana rusaknya Citra seorang Alvino yang dikejar anjay demi wujudkan keinginan aneh istrinya."
Viona berusaha menahan tawa ketika melihat ekspresi wajah Abian. "Hayo Kamu mulai ragu ya?"
"Istriku, aku bukannya ragu tapi mengidam Aliya itu benar-benar ekstrem untuk semua laki-laki, jadi aku harap nanti kamu jangan sampai seperti itu ya."
"Bi, kamu tenang saja aku yakin jika suatu saat nanti aku diberi kepercayaan untuk mengandung, aku akan pastikan tidak mengidam sama seperti Aliya tetapi mungkin akan lebih parah," ucap Viona lalu melangkah pergi meninggalkan Abian yang nampak pucat.
Abian masih berdiri di sana memandangi kepergian sang istri dengan tatapan tak percaya. "Membayangkannya saja sudah membuatku merinding, seorang Viona Wilson mengidam, tidak mengidam saja Dia sangat barbar."
Bersambung 💖
__ADS_1
biawak berbulunya Viona Wilson, senggol dong