
Alvino mencoba untuk mengatur nafas karena untuk menyampaikan semua ini begitu berat baginya.
"Keluarga saya sudah mengetahui hubungan saya dan Aliya sejak lama dan kami memutuskan untuk menikah. Kenapa saya menyembunyikan pernikahan ini? Jika kalian berpikir bahwa saya takut untuk menyampaikan semua ini kepada media itu salah, karena saya ingin menjaga perasaan anak saya Naya yang mengalami suatu kondisi di mana fungsi jantungnya tidak bekerja dengan normal dan harus diberikan tindakan operasi. Namun apakah kalian tahu apa yang saya pertahankan di pernikahan saya bersama Sheila ternyata juga adalah sebuah pukulan besar untuk saya, selama ini ... Putri yang saya anggap sebagai darat daging saya sendiri bukanlah anak saya."
Mendadak para wartawan heboh mendengar pengakuan Alvino Wilson. Para wartawan berebut untuk menyampaikan pertanyaan mereka tentang masalah pernikahan Alvino dan Aliya lalu juga tentang fakta tentang Naya yang selama ini Alvino selalu sembunyikan dari awak media.
"Saya berharap tidak ada lagi komentar-komentar jahat yang menyebut bahwa istri saya Aliya adalah seorang pelakor, karena jika bukan karena dia, saya tidak mungkin bisa berada di hadapan kalian hari ini. Konflik-konflik pernikahan yang saya jalani sangatlah berat dan dia adalah kekuatan bagi saya jika dia menangis dan terpukul, apalagi saya. Proses perceraian saya dan Shela sudah diproses oleh pengacara saya dan sebentar lagi hubungan kami akan benar-benar berakhir tanpa ada yang saya ataupun dia tutupi lagi."
Alvino berdiri dari posisinya, ia menundukkan kepalanya sebagai tanda penghormatan untuk seluruh masyarakat yang menonton acara live konferensi pers hari ini. "Saya Alvino Wilson pamit undur diri."
Creeekkk...Creeekkk.
"Tuan, apa Nona Aliya benar masih mahasiswi salah satu universitas x."
"Tuan, kapan pernikahan Anda akan di resmikan secara hukum."
__ADS_1
"Tuan, apa saham BW grup akan di tarik dari perusahaan keluarga Nona Shela?"
Masih begitu banyak pertanyaan yang ingin para wartawan sampaikan kepada Alvino tetapi Alvino merasa sudah cukup ia membuka suara dan selebihnya iya serahkan kepada Abian.
Alvaro menyusul Sang putra yang sudah lebih dulu masuk ke dalam mobil. "Apa kamu lega?"
Alvino menoleh menatap sang Papa. "Pa, Kenapa semua yang aku jalani begitu berat? Aku hanya ingin bahagia tetapi mengapa begitu sulit. Semua masalah ini sudah sampai pada puncaknya dan semakin aku sampai ke atas aku semakin takut terjatuh lagi."
"Alvino sebagai seorang pria kamu harus tegas, Kamu hanya perlu merasa sakit sedikit untuk menyelesaikan semuanya. Shela sudah secara terang-terangan menantang kamu, apa kita hanya bisa diam? Tidak, besok papa akan langsung mengadakan rapat pemegang saham dan melepaskan semua saham kita dari perusahaan keluarganya, jika dia berani menghancurkan kamu maka dia harus menerima akibat dari semua perbuatannya."
Braakkk...
Shela melempar remote TV hingga hancur menyentuh lantai.
"Lihat Daddy kamu, dia membela wanita itu dari pada kita. Naya, dengar Mommy. Hari ini juga Mommy akan membawa kamu menemui Daddy, dan kamu harus mengatakan apa yang sudah Mommy ajarkan kepada kamu kemarin."
__ADS_1
"Tidak Mommy. tadi Naya sudah mendengar semua yang Daddy sampaikan dan menurutnya ya bukan Daddy yang salah tapi semua itu salah Mommy. Kalau memang kak Aliya adalah wanita yang bisa membuat Daddy bahagia kenapa kita harus memaksa Daddy untuk kembali."
Shela menatap Sang Putri dengan tatapan tak percaya. Karena baginya sekarang Naya adalah satu-satunya harapan yang ia punya, tetapi harapan itu seolah hancur hanya dengan ucapan yang keluar dari mulut Sang Putri.
"Kamu memilih wanita jahat itu dari pada Mommy?"
"Kak Aliya tidak jahat, Mommy! Kak Aliya yang selama ini memberikan semangat untuk Naya, saat Naya kekurangan perhatian Mommy kemana? Mommy sama pacar Mommy kan, cuma Kak Aliya dan Daddy yang selalu perhatian sama Naya! Jangan paksa Naya Mommy, yang jahat itu Mommy."
Dengan tangis yang akhirnya pecah juga, Naya berlari menaiki tangga rumah mewah itu. Gadis kecil yang seharusnya belum mengerti masalah yang begitu berat seperti ini mau tidak mau harus terseret dan menjadi korban dalam konflik pernikahan orang tuanya.
Shela terduduk lemas di sofa, ia menatap nanar ke arah layar televisi yang masih menyala, hatinya masih benar-benar tidak rela jika harus dipukul dan dihantam oleh kenyataan demi kenyataan yang begitu memberatkan.
Bersambung 💖
ini hari Senin guys jangan lupa dukungannya ya dengan cara vote dan juga memberi hadiah nanti author pasti tambahin lagi updatenya 2 bab janji deh...
__ADS_1