Jerat Hasrat Sang Calon Duda

Jerat Hasrat Sang Calon Duda
Bab.121


__ADS_3

Siang hari, setelah selesai beristirahat Alvino dan Aliya pergi untuk mencari rumah baru untuk mereka tempati bersama anak mereka kelak.


Rumah mewah yang berada di salah satu kawasan elit, dengan nuansa modern yang begitu terlihat jelas, rumput menghijau sejauh mata memandang dengan bunga-bunga yang tertata apik di halaman, membuat Aliya terpana sejenak.


"Ayo kita lihat interior dalamnya, setelah itu kamu bisa memutuskan mau rumah yang ini, atau kita cari yang lain lagi," ucap Alvino kepada sang istri.


"Iya, Mas. Ayo." Aliya dan Alvino melangkah masuk ke bagian dalam rumah tersebut.


Saat ini di tangan Alvino sudah ada dua kunci rumah yang akan ia beli, pemilik properti pun sudah percaya kepada Alvino, hingga tanpa ragu langsung memberikan kunci kepada Alvino.


Sesampainya di dalam lagi-lagi Aliya terpana, karena interior ruangan yang melebihi ekspektasi. "Ini luar biasa, rumah ini adalah rumah impian ku, dulu."


Eksterior rumah modern yang memiliki bentuk simetris, atap datar dan jendela besar. Sedangkan desain interiornya menampilkan warna-warna netral dan palet monokrom dengan satu aksen.


Kemudian, denah hunian tersebut menerapkan konsep terbuka atau open concept dengan floating furniture yang memberikan kesan lapang.


Alvino meraih tangan Aliya, mengajaknya untuk naik ke lantai dua. "Aku bukan orang yang bisa membaca pikiran orang lain. Tapi sejauh aku bersama mu, aku bisa mengenali karakter mu dari semua cerita yang kamu bagikan padaku. Aku terus berusaha menjadi yang terbaik untuk kamu dan calon anak kita," ucap Alvino sejauh ia terus melangkah menaiki tangga.


Aliya yang berjalan tepat di samping sang suami, hanya bisa terdiam. Hari-hari yang ia jalani semua terasa bermakna, senyum yang sempat pergi kini telah kembali.


Entah bagaimana takdir membawanya hingga ke titik ini, sampai ada satu waktu Aliya berpikir bahwa mungkin ia hanya tertidur dan akan segera terbangun.


Dulu Aliya, sempat hanyut di dalam dunia binasa, seram, kelam, redup dan perlahan ia menjerit atas semua beban dari orang-orang yang tak paham dengan situasinya.


Hari-hari berlalu, Aliya harap ada yang bermakna dan ia ingin senyum nyata tanpa kepalsuan dari hatinya segera kembali


secepat seperti ia di lahirkan lagi.


Tiada yang meminta melewati situasi seperti itu.Tetapi Aliya percaya, semesta itu baik hingga merangkai cerita hidupnya sehebat ini.

__ADS_1


Tetap menunggu dengan hati yang lapang,


bertahan dalam macamnya alur hidup


sampai akhirnya ia berlabuh di orang yang tepat.


Alvino sudah berhasil merangkai ingatan Aliya yang dulu sempat kusut kini kembali terajut dengan indah.


Setelah menaiki tangga yang berkelok-kelok, mereka sampai di lantai atas, tanpa menunda waktu, Alvino membawa sang istri masuk ke kamar utama rumah itu.


"Bagaimana menurut mu, kamar ini sesuai dengan kita kan? Kita bisa melakukannya di walk in closed, sofa itu, kamar mandinya juga sangat luas dan wastafelnya sangat kokoh."


Aliya menoleh melihat sang suami seraya berpangku tangan. "Sebenarnya apa yang kamu pikirkan Mas, imajinasi apa yang memenuhi pikiran kamu Mas?"


Dengan satu gerakan Alvino mendorong tubuh sang istri hingga terbentur di tembok kaca kamar tersebut. Pandangan mereka saling beradu dalam imajinasi liar yang sama-sama membelenggu.


Pandangan Aliya terlihat fokus menatap sang suami, tetapi jari jemarinya yang begitu nakal, mulai membelai bagian perut sixpack Alvino. "Kamu menginginkan kepuasan."


Hembusan napas Alvino terdengar bergetar saat merasakan sekujur tubuhnya kembali meremang. "Huftt, l need you baby but ... aah sial." Ia segera menjauhkan diri karena saat ini mereka berada dalam situasi yang tidak tepat.


"Ck, Albino mulai nakal minta keluar kandang ya?" tanya Aliya seraya cekikikan sendiri.


"Huh, ya begitulah,. Jika kamu suka rumah ini aku akan langsung mengurus surat-suratnya," ucap Alvino seraya menyeka keringat yang bercucuran dari dahinya.


"Iya Mas, aku suka sekali. Tapi kalau boleh tau harganya berapa, halamannya saja sudah sangat luas, pagar tinggi, kolam renang di rooftop. Ini pasti tidak murah, iya kan?"


"Emm ya tidak juga, tidak membuat tabungan ku terkuras. Tenang saja, yang penting sekarang kamu suka."


Alvino merasa ia tidak perlu memberitahu Aliya bahwa rumah tersebut bernilai puluhan miliar. Ia yakin jika Aliya tahu hal tersebut pasti hanya akan membuat masalah baru yang tidak bisa ia tangani karena memang istrinya itu belum bisa sepenuhnya terbiasa dengan kehidupan mewah layaknya nyonya besar dari keluarga konglomerat.

__ADS_1


Aliya memicingkan mata menatap sang suami yang nampak mencurigakan.


Tentu saja di tatap seperti itu, Alvino menjadi tidak nyaman. "Hey berhentilah menatap ku seperti itu. Ayo kita makan siang, aku lapar."


"Apa tidak bisa makanya di rumah saja, Mas?" tanya Aliya seraya menahan langkanya.


"Kenapa? Kita sudah lama tidak makan bersama di luar." Alvino kembali meraih tangan Aliya dan hendak menariknya keluar dari kamar, tetapi sang istri masih saja enggan untuk beranjak. "Kenapa lagi, mau main di sini? Ayo."


"Bukan itu Mas, jam dua nanti ada pertandingan sepakbola live di TV, aku mau nonton."


Alvino mendekat, menyetuh dahi sang istri dengan punggung tangannya. "Tidak panas, kamu kenapa sih. Dari pagi bola terus, sepanjang jalan juga bahasnya tentang Messi, sampai makna tatto di ketek Messi juga kamu bahas."


"Ih kok ngegas. Ya memang keren kan orang bisa main bola. Yang tidak bisa main bola diam saja deh," ucap Aliya lalu melangkah keluar mendahului sang suami.


"Aku juga bisa, bahkan sudah cetak gol sampai kamu hamil!" teriak Alvino. Saat tidak mendapatkan tanggapan dari sang istri, ia segera menyusul keluar dari kamar tersebut.


...----------------...


Di depan meja belajarnya, Vina duduk seraya menatap nanar ke arah pigura foto yang tertata rapi di sana. Ya, foto ia dan Noah mendominasi pigura-pigura tersebut.


"Aku akan belajar melupakan kamu mulai sekarang. Terbiasa tanpa kabarmu dan juga aku akan menahan diri agar tidak menyusul kamu. Ya sekeras itu nurani ku ingin berjuang, tapi apa aku bisa? Entahlah, biar waktu yang membuktikan semuanya jika memang kita berjodoh, kelak kamu akan kembali kepada ku dan aku berharap saat itu aku belum menemukan seseorang yang membuat ku nyaman terbiasa tanpa kehadiran mu."


Satu persatu Vina memasukkan foto-foto tersebut ke dalam sebuah kotak yang sudah ia persiapkan sebelumnya. Jika dulu ia selalu menjaga foto itu dengan baik agar bisa ia lihat setiap hari, maka kali ini ia tidak lagi menginginkan hal tersebut karena hanya akan menyakiti hati yang merindu dengan seseorang yang bahkan tidak mengharapkannya.


Menuai sebuah harapan kosong adalah kepedihan yang tidak bisa dijelaskan dan juga tidak bisa dimengerti oleh siapapun. Namun ketika apa yang kita tanam tidak sesuai dengan apa yang telah kita tuai maka sebaiknya cabut tanaman itu hingga ke akar-akarnya lalu ganti dengan tanaman yang baru, tak lupa selipkan sebuah harapan untuk kehidupan yang lebih baik tanpa mengulang luka yang sama.


Bersambung 💖🥰


Jangan lupa tap-tap love, vote n kopi bunga juga kalau ada. Happy reading, see you tomorrow 😘

__ADS_1


__ADS_2