Jerat Hasrat Sang Calon Duda

Jerat Hasrat Sang Calon Duda
Bab.35


__ADS_3

Alvino baru saja sampai di perusahaan setelah menghabiskan waktu sarapan bersama Aliya. Baru saja ia masuk ke lobby, Abian sudah lari menghampirinya.


"Kamu kenapa, di kejar setan?" tanya Alvino yang merasa heran.


Abian berusaha mengatur napasnya saat berhenti di hadapan Alvino. "Bukan itu, tapi anu ... itu, Papa kamu sekarang sedang di ruangan kamu. Katanya dia mau bertemu kamu, aku punya firasat buruk tentang ini, jadi lebih baik kamu kabur saja. Aku tidak bisa melihat sahabat ku menggali lubang kuburnya sendiri."


Saat Abian nampak begitu panik. Alvino hanya memasang ekspresi datar. "Untuk apa menghindar? Aku sudah memutuskan untuk mengambil jalan ku sendiri dan aku bisa mempertanggungjawabkan semua yang sudah aku putuskan."


Alvino melangkah menuju lift, Abian pun segera menyusul sahabatnya itu. Bukan tanpa alasan, Abian pernah melihat seorang Alvaro Wilson ketika sedang marah besar dan itu sangat mengerikan.


"Hey, Vin dengarkan aku dulu woy!" Abian berteriak saat sahabatnya itu menutup pintu lift sebelum ia sempat masuk. "Dia ini benar-benar keras kepala, setidaknya aku sudah mengingatkan."


~


Alvino keluar dari dalam lift dan tanpa ragu terus melangkah menuju ruangannya. Meski keputusannya begitu tabu, namun ia tahu jika jalan yang ia ambil bukanlah sebuah kesalahan yang akan merugikan dirinya sendiri.


Saat memasuki ruangan, ia tanpa ragu menghampiri sang Papa yang sedang berdiri di sudut ruangan, melihat-lihat foto-foto keluarga yang sengaja Alvino pajang di sana.

__ADS_1


Alvino menghentikan langkahnya tepat satu meter di belakang sang Papa. "Pa, aku datang."


Alvaro yang sejak tadi sibuk melihat foto masa kecil Vino dan Viona, kini berbalik melihat sang putra. "Wajahmu begitu tegang, sepertinya kamu sudah tahu maksud kedatangan Papa kemari."


"Ya, masih membahas masalah yang sama, kali ini apa yang ingin Papa ketahui dari ku?" Alvino nampak begitu lugas dan tak ingin berbasa-basi. Meski dalam hati ia bertanya-tanya kali ini hal apa lagi yang di ketahui sang Papa.


Alvaro melangkah hingga jaraknya dan sang putra tinggal setengah meter saja. "Apa benar kamu memiliki wanita simpanan?"


Alvino mencengkram erat kedua tangannya. Saat hal terakhir yang ia rahasiakan dari sang Papa terbongkar sudah. "Iya, Pa. Semuanya benar."


Paakkk!


Alvino kembali menegapkan kepalanya menatap sang Papa. Ia tahu Papanya pasti begitu kecewa kepadanya. "Maafkan, Vino. Pa, aku sudah memutuskan jalan yang aku ambil, penghianat Shela benar-benar membuatku menggila, tapi saat bertemu wanita itu dia seolah menguatkan ku untuk melalui semuanya."


"Apa kau seorang pria! Bisa-bisanya kamu tidur dan tinggal bersama seorang wanita tanpa ikatan pernikahan. Jika memang kamu membutuhkannya kenapa kamu tidak mengikatnya."


"Heh, maksud Papa?" tanya Alvino yang tiba-tiba merasa bingung.

__ADS_1


"Kamu adalah putra kebanggaan Papa. Apapun yang kamu putuskan dalam hidup mu, Papa akan setuju. Tetapi tidak dengan hubungan terlarang, nikahi dia hari ini juga! Dan Papa sendiri yang akan menikahkan kalian."


Alvaro membuang muka ke sembarang arah saat merasakan matanya mulai berkaca-kaca. Apa yang di alami putranya saat ini pernah ia alami juga di masalalu dan tentu saja ia mengerti bagaimana rasa hancur yang di alami Alvino saat ini.


Alvino masih berusaha mencerna ucapan sang Papa. Karena apa yang ia dengar begitu bertolak belakang dengan ekspektasinya. "Jadi Papa juga ingin aku menikahinya."


"Iya, jangan menyentuh apa yang tidak resmi untuk mu. Setidaknya kamu harus menikah sirih dengannya dulu dan jika nanti hati kamu sudah yakin jika kamu mencintainya , setelah kamu resmi bercerai dengan Shela kalian bisa mendaftarkan pernikahan kalian secara resmi di mata hukum."


Alvaro melangkah hendak keluar dari ruangan itu namun ia berhenti sejenak dan berbalik melihat sang putra. "Bawa wanita itu ke Villa kita sore ini juga. Masalah keperluan pernikahan, Viona yang akan mengurusnya."


Alvaro melanjutkan langkahnya keluar dari ruangan itu. Dengan koneksi yang ia punya, menikahkan anaknya amatlah mudah.


Alvino masih berdiri di sana. Ia masih tidak percaya jika sang Papa malah mendukungnya. "Apa aku terlihat begitu menyedihkan, sampai Papa iba kepada ku, dan menyetujui hal itu. Aliya pasti terkejut jika mengetahui kami akan menikah hari ini juga, bagaimana cara aku mengatakan kepadanya."


Bersambung 💖


Jangan lupa kembang kopi n besok vote author yak, di tunggu, l love you full 😘😘😘

__ADS_1


Author mau merekomendasikan novel lagi nih.



__ADS_2