
"Apa!"
Alvino langsung berdiri dari posisi duduknya saat mendengar pernyataan Shela. Ia tidak menyangka saat semua sudah di depan mata Shela tiba-tiba saja meminta operasi di batalkan.
"Aku tidak mau Naya di operasi, Mas. Dia sudah baik-baik saja kok sekarang dengan bantuan obat. Lagi pula jika orang-orang dan media bisnis tahu anak kita penyakitan, kan perusahaan kamu juga yang di sorot, apalagi aku ini wanita sosialita pasti teman-teman ku nanti akan bertanya tentang Naya, selama ini aku sudah cukup tutup mulut tentang kondisinya," ujar Shela yang masih duduk di posisinya.
Alvino mengusap wajahnya dengan kasar lalu kembali melihat Shela. "Aku tidak tahu apa yang kamu pikirkan sekarang. Tapi aku merasa jika kamu sekarang benar-benar sudah sangat egois sebagai seorang Ibu bagi Naya! Kenapa kamu bisa mengucapkannya hal seolah kamu malu mempunyai anak sepertinya, hah? Apapun yang terjadi aku tidak akan membatalkan operasi itu. Besok, setuju atau tidak aku akan menyeret kamu ke Melbourne!"
Mata Alvino nampak memerah karena emosi yang kembali meledak-ledak, sekujur tubuhnya pun ikut memanas karena ucapan sang istri. Ia melangkah menghampiri Shela dengan tangan yang mengepal erat, ia mencengkram kuat dagu Shela dengan jari-jari tangan kanannya.
"Aku sudah sering mengatakan kepada mu. Setidaknya walaupun kamu gagal menjadi istri untuk ku, kamu tidak boleh gagal menjadi Ibu yang baik untuk Naya! Kamu tau betapa berharganya dia bagi ku? Aku tidak pernah malu memiliki anak dengan penyakit jantung bawaan lahir sepertinya, karena dia adalah bukti bahwa aku pernah berjuang menjadi suami yang baik untuk istri yang tidak pernah menganggap ku ada. Jaga ucapan mu, atau kau akan tau akibatnya."
Alvino menghempaskan tangannya dari dagu Shela lalu melangkah dengan cepat menaiki tangga menuju lantai dua.
Sementara itu Shela terduduk lemas di lantai ruangan itu. Tidak ada seorang pun di sana, hanya suara denting jam dinding yang menemani. Ia putus asa sekarang, ia sudah melangkah terlalu jauh hingga kehilangan arah.
Sial, aku harus tetap berhati-hati. Atau aku akan pergi tanpa membawa apapun, batin Shela.
__ADS_1
~
Alvino yang baru saja memasuki kamar sang putri, menghentikan langkahnya tepat di ambang pintu. Dari jarak beberapa meter ia memandangi sang putri yang saat ini sedang terlelap.
"Kamu yang sabar ya sayang, sebentar lagi kamu akan hidup seperti anak yang lainnya. Kamu bisa berlari di tengah hujan, kamu bisa bermain sepeda dan kamu bisa mengejar mimpi mu. Daddy akan melakukan yang terbaik demi kesembuhan kamu."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Hari ini adalah hari keberangkatan Alvino dan keluarga ke Melbourne. Private jet mereka sudah menunggu di bandara internasional xx. Saat sampai di depan pintu masuk, Alvino menghentikan langkahnya saat melihat Aliya datang untuk mengantarkan mereka.
"Kak Aliya!" Naya nampak begitu senang, ia berhambur dan langsung memeluk Aliya. Mereka memang sudah sangat lama tidak bertemu. Karena kecelakaan waktu itu, Aliya mengundurkan diri untuk mengajar les Naya.
Naya melepaskan pelukannya dan menatap Aliya dengan wajah yang begitu ceria. "Tentu saja. Naya pasti sembuh."
"Anak pintar." Aliya menepuk-nepuk pundak gadis kecil itu lalu beralih melihat Shela dan Alvino yang saat ini sudah berada di hadapannya.
"Tuan, Nona. Semoga selamat sampai tujuan," ucap Aliya yang tetap berusaha untuk tersenyum meski sebenarnya ia ingin sekali mengucapkan kata perpisahan yang lebih panjang lagi dengan Alvino.
__ADS_1
Alvino hanya terdiam seraya berusaha sekuat hati untuk menahan perasaannya. Ingin rasanya ia memeluk Aliya sekarang juga tetapi keadaan tidak memungkinkan.
"Terimakasih ya, Aliya. Saya pikir kita tidak akan bertemu lagi. Tapi ternyata kamu datang. Oh iya kamu tau dari mana kami akan berangkat hari ini?" tanya Shela.
Sontak Aliya kaget ketika mendengar pertanyaan Shela. "Emmm itu ... Noah, ya Noah mengatakan kepada saya bahwa Naya akan berangkat hari ini. Saya sangat ingin melihat Naya meskipun hanya sebentar jadi saya datang.
Saat tengah mengobrol tiba-tiba petugas bandara datang untuk menjemput Alvino dan keluarga karena sebentar lagi private jet mereka akan berangkat.
"Aliya kalau begitu kami pergi dulu ya. Terimakasih sudah datang." Shela dengan langkah cepat mengandeng tangan Naya mengikuti petugas bandara tersebut.
Alvino pun ikut mengambil langkah, namun saat hendak melewati Aliya, ia berhenti sejenak. "Aku akan sangat merindukan mu, jaga diri kamu baik-baik. Aku akan kembali, aku mencintaimu Aliya."
Deg.
Alvino melanjutkan langkahnya menuju pintu keberangkatan. Kini tinggallah Aliya di sana yang masih bergelut dengan perasaannya sendiri.
Mendengar ucapan Alvino membuat Aliya tersadar jika selama ini bukanlah Alvino yang bergantung kepadanya tetapi ialah yang bergantung kepada Alvino. Ia seolah kehilangan pegangan hidupnya, meski hanya untuk sementara waktu tapi lagi-lagi ia tidak terbiasa.
__ADS_1
Bersambung 💖
Jangan lupa berikan dukungan untuk Author ya reader 🥰