Jerat Hasrat Sang Calon Duda

Jerat Hasrat Sang Calon Duda
Bab.80


__ADS_3

Pagi kembali menjelang Alvino membuka matanya dan mendapati sang istri masih tertidur di sampingnya. Ditatapnya wajah Aliya yang nampak begitu lelah karena aktivitas panas mereka malam tadi.


hingga setelah beberapa saat Aliya mengerjapkan matanya dan langsung tersenyum melihat Alvino. "Mas, kamu sudah bangun." Aliya bangkit dan langsung duduk di atas ranjang. "Kamu mau ke rumah sakit?"


"Iya sebentar lagi aku akan kesana. Kamu mau ikut?" tanya Alvino seraya terus memperhatikan bagian tubuh Aliya yang di penuhi tanda kemerahan karena ulahnya semalam.


"Tidak, Mas. Aku sudah cukup melihatnya kemarin. Hari ini juga aku akan pulang."


Alvino yang tadi menyadarkan tubuhnya di kepala ranjang langsung menegapkan posisi menatap Aliya dengan serius. "Kok cepat sekali? Kamu baru saja datang dan sudah mau pulang. Kau tega meninggalkan suami mu yang sedang rapuh ini."


"Hufft. Aku datang ke sini hanya untuk memastikan Mas baik-baik saja. Dan saat aku melihat Mas menampar Nona Shela dan berucap setegas kemarin, aku rasa Mas bisa menghadapi semuanya sendiri sekarang. Kehadiran ku hanya akan memperkeruh keadaan. Selesaikan semua urusan Mas dan Nona Shela di sini, aku akan menunggu di rumah."


Aliya tersenyum seraya mengedip-ngedipkan matanya agar Alvino kembali tersenyum. Namun usahanya itu nampak tidak berhasil. "Kamu tidak cemburu jika aku di sini bersama Shela? Kamu tidak takut aku tergoda olehnya."


Aliya yang tadi tersenyum langsung mengerutkan bibirnya. "Kalau Mas mau ya silahkan. Aku mundur alon-alon seusai perjanjian kita sebelumnya."


"Hey aku bercanda! Kamu malah mempersilahkan? Haha aku benar-benar tidak tahu kenapa aku mencintai wanita yang begitu cuek dan tidak peka seperti mu."

__ADS_1


Aliya berusaha menahan tawanya saat Alvino terlihat begitu kesal. Tanpa merasa malu ataupun ragu, Aliya merebahkan kepalanya di pangkuan sang suami. "Aku memang wanita yang tidak peka dan cuek, tapi kenapa aku bisa membuat seorang Alvino Wilson jatuh cinta? Aku juga heran, padahal begitu banyak wanita cantik di luar sana."


Alvino menyunggingkan senyumnya saat melihat Aliya yang sedang berusaha membujuknya. "Kamu sekarang sudah berani menggoda ku ya, mau seperti tadi malam lagi? Seperti junior bangun tuh."


Sontak Aliya langsung bangkit dan kembali ke posisinya semula. "Aku hanya berusaha bersikap manis, tapi sepertinya tidak berhasil. Intinya hari ini aku akan pulang." Ia beranjak turun dari atas ranjang kemudian melangkah menuju kamar mandi.


"Hey! Kalau kamu pulang, aku akan menarik kartu kredit mu." Alvino berusaha untuk mengancam sang istri namun sepertinya itu tidak berhasil, Aliya terus melangkah hingga masuk kedalam kamar mandi. "Ahk, sepertinya ancaman ku salah. Dia kan tidak suka belanja. Harusnya aku ancam saja nilai magangnya ku buat anjloknya."


~


Di belahan bumi berbeda. Noah baru saja sampai di kampus karena hari ini ia ada janji dengan dosen pembimbingnya. Ia nampak begitu lemas pagi ini, karena baru saja sampai mengetahui jika Aliya berangkat ke Melbourne untuk menyusul Alvino.


"Noah!"


Noah langsung berbalik melihat seorang wanita yang tiba-tiba saja datang menghampirinya. "Vina, kamu tidak masuk kelas?"


Vina berusaha mengatur napas karena tadi ia berlari untuk menghampiri Noah. "Dosennya belum datang. Oh iya kamu datang sendiri, Aliya mana?"

__ADS_1


"Oh itu dia sedang pergi ke Mel ...." Noah menghentikan ucapannya saat hampir saja menyebutkan kata Melbourne. "Ehm maksudku di sedang pergi ke Melancong dengan staf departemen perencanaan, ya begitulah pokoknya."


"Heh, melancong? Setahu ku di perusahaan Kak Alvino tidak ada acara seperti itu, apa ada peraturan baru ya."


Ah kenapa susah sekali berbohong seperti ini, batin Noah.


"Ehm, Vina temani aku ke ruangan dosen yuk," ucap Noah lalu menarik tangan Vina agar mengikuti langkahnya.


~


"Kamu benar-benar akan pulang hari ini?" Lagi-lagi Alvino bertanya hal yang sama untuk kesekian kalinya kepada Aliya.


"Iya, Mas. Aku sudah katakan semua alasannya kan. Lagi pula Mas juga akan pulang dua hari lagi, jadi sebentar lagi kita akan bertemu."


Alvino menundukkan pandangannya seraya menghela napas pelan. "Maafkan aku karena sudah membawa kamu dalam situasi seperti ini. Memang tidak akan mudah tapi aku hanya bisa mengandalkan kamu, tidak ada lagi wanita lain selain kamu."


Aktivitas Aliya yang sedang membereskan pakaiannya seketika terhenti, ia menoleh menatap sang suami. "Ini bukan untuk pertama kalinya Mas meminta maaf, jangan lakukan itu lagi. Aku tidak merasa rugi sedikit pun."

__ADS_1


Alvino berdiri dari tempat duduknya dan langsung memeluk Aliya dari belakang. "Terimakasih, tunggu aku pulang. Aku akan menyelesaikan semuanya."



__ADS_2