Jerat Hasrat Sang Calon Duda

Jerat Hasrat Sang Calon Duda
Bab.30


__ADS_3

"Menikahlah denganku?"


Aliya yang sempat terpaku karena mendengar ucapan Alvino kembali menyadarkan dirinya. Perlahan tangannya bergerak, menyentuh dahi Alvino. "Tidak panas, apa pagi tadi Anda salah makan? Sepertinya Anda kurang fokus, Tuan."


Aliya segera melangkah cepat meninggalkan Alvino untuk menyusul Naya yang terus berlari hingga ke tepi danau buatan yang ada di taman itu. Sementara Alvino masih berdiri di sana seraya memandangi kepergian Aliya dengan tatapan kesal.


Astaga, dia benar-benar merusak suasana sekali. Padahal aku sudah mengumpulkan keberanian dan juga berpikir panjang untuk mengatakannya, batin Alvino.


Tak ingin terus larut dalam pikirannya sendiri. Alvino segera menyusul anaknya dan juga Aliya. layaknya keluarga bahagia, Aliya dan Alvino bermain bersama Naya, seolah tidak ada beban yang menghantui pikiran.


~


Cukup lama mereka menemani Naya bermain dan berkeliling. Sekarang ketiganya tengah duduk di sebuah kursi taman sambil menikmati minuman dan juga cemilan yang di beli Alvino di toko kecil yang ada di taman itu.


"Kak Aliya, hari ini sangat menyenangkan. Minggu depan, jalan-jalan lagi ya," sahut Naya di tengah keheningan.


"Emmm ... Kak Aliya tidak bisa janji, tapi kalau ada waktu boleh deh," jawab Aliya lalu kembali meneguk minuman kalengnya.


"Kalau kamu mau jalan-jalan sama Naya bilang saja, aku akan memberikan hari libur magang khusus untuk mu," sahut Alvino.


"Tuh denger kak, Daddy aja boleh, hehe," ucap Naya dengan sangat antusias.


"Iya sayang," ucap Aliya seraya mengusap pucuk kepala Naya.

__ADS_1


Saat tengah asik mengobrol ponsel Aliya tiba-tiba saja berdering. Ia membulatkan matanya ketika melihat tertera nama Noah di layar ponselnya. "Permisi saya angkat telepon dulu ya, permisi."


Tatapan penuh selidik kini tergambar jelas di wajah Alvino. Ia tadi sempat melihat jika yang menelpon Aliya adalah Noah, entah kenapa ia merasa begitu kesal.


Padahal bisa angkat telepon di sini, kenapa malah menjauh seperti itu, apa Noah itu pacarnya, batin Alvino.


Ketika Aliya merasa sudah cukup jauh, ia pun segera menerima panggilan telepon tersebut. Sebenarnya hari ini Aliya berjanji juga kepada sahabatnya itu membuat proposal skripsi bersama-sama, tetapi karena malam tadi kasihan dengan Naya akhirnya ia melupakan semua janjinya.


"Ya, hallo," ucap Aliya saat mengangkat telepon. Ia pun sengaja membuat suaranya serak-serak becek.


[Kenapa suara mu seperti itu, kau sakit?]


"Iya aku flu. Janji kita hari ini di undur saja ya uhuk...uhuk."


"Uhuk-uhuk, baiklah teman ku sampai jumpa besok." Aliya yang terus berbicara dengan lemas segera mematikan telepon itu. "Ah sejak kapan aku jadi jago berbohong seperti ini, huh tapi mau bagaimana lagi kebahagiaan Naya juga penting."


Aliya berbalik dan hendak melangkah namun ia terhalangi oleh tubuh seseorang. "Astaga, kenapa Anda berdiri di belakang saya seperti itu, membuat kaget saja. Naya mana?"


Ya, pria itu adalah Alvino yang saat ini dalam mode cemburu hingga tatapan matanya begitu tajam kepada Aliya. "Naya sudah menunggu di mobil. Kamu bicara apa dengan Noah kenapa harus menjauh saat menelepon?"


Aliya berdecak kesal saat merasa jika sikap Alvino begitu berlebihan kepadanya. "Mau saya bicara apapun dengannya, itu bukan urusan Anda. Itu urusan pribadi saya, tidak ingat isi perjanjian itu? Di sana dengan jelas tertulis tidak boleh mencampuri urusan masing-masing."


"Sekarang apapun yang kamu lakukan akan menjadi urusan ku." Alvino merebut ponsel Aliya dan langsung melemparnya ke danau.

__ADS_1


Aliya membulatkan matanya dengan mulut terperangah. "Kenapa di buang?"


"Aku sedang kesal kau tidak mengerti!" Alvino mengusap wajahnya dengan kasar saat mulutnya masih begitu kaku untuk mengungkapkan isi hatinya.


"Memangnya apa yang harus saya mengerti sih! Coba katakan dengan jelas, beberapa hari ini Anda sangat aneh, tidur mau di nina bobokan, selalu bertanya tidak jelas. Sebenarnya apa yang Anda inginkan?"


"Aku ingin kau menikah dengan ku! Apa masih kurang jelas perkataan ku tadi. Aku tidak sedang sakit dan aku sangat sadar saat mengatakannya, tapi kamu hanya menganggapnya lelucon?" Akhirnya kata-kata itu keluar lagi dari mulut Alvino.


Aliya berusaha mencerna ucapan Alvino yang menurutnya sebuah kemustahilan. Hubungan yang mereka rajut pada awalnya di batasi dengan begitu banyak perjanjian yang harus ia patuhi, tetapi saat ini ia tiba-tiba mendengar kata pernikahan terucap dari mulut Alvino.


"Ba-bagaimana jika saya tidak mau?' Aliya nampak begitu gugup hingga tak sanggup untuk melihat mata Alvino.


"Ya ... pokoknya kamu harus mau, cincinnya nyusul aku tidak ada persiapan. Ayo pulang." Alvino langsung melangkah begitu saja meninggalkan Aliya yang masih terpaku di posisinya.


Aliya memandangi kepergian Alvino dengan ribuan pertanyaan yang memenuhi pikirannya. "Apa tadi itu dia sedang melamar ku? ... hah, apa begitu caranya meminta seseorang untuk menikah. Dasar ular kuning jelek, untuk apa juga aku menikah dengannya." Aliya menoleh kearah danau. "Hiks ponsel ku."


bersambung 💖🥰


Jangan lupa kembang kopi nya readers 😘


Author mau merekomendasikan novel lagi nih.


__ADS_1


__ADS_2