Jerat Hasrat Sang Calon Duda

Jerat Hasrat Sang Calon Duda
Bab.95


__ADS_3

Satu bulan berlalu...


Alvino harus merelakan Naya ikut dengan Shela ke Singapura. Hari ini ia belajar untuk melanjutkan hidupnya, ia pergi ke kantor untuk kembali beraktivitas seperti biasanya.


Meski Aliya masih belum terbiasa hidup sebagai seorang istri dari Alvino Wilson. Tetapi hari ini untuk pertama kalinya ia memberanikan diri untuk datang ke kantor bersama sang suami.


Alvino yang hendak turun dari mobil kembali menoleh ke arah Aliya yang masih diam terpaku pada posisinya. "Ayo turun, kok bengong."


"Mas duluan saja, aku belakangan saja."


Alvino mengerti karena sejak tadi pagi ialah yang terus memaksa Aliya untuk ikut dengannya ke kantor karena hari ini adalah hari pelepasan anak magang setelah beberapa bulan terakhir bekerja keras di perusahaan besar itu.


"Apakah kamu masih malu? Ini sudah satu bulan lebih, pokoknya kamu harus masuk dengan ku karena hari ini adalah hari terakhir perpisahan kamu dengan tim perencanaan kan?"


"Iya juga sih ... tapi janji jangan sok romantis di hadapan orang."


"Ck, memangnya salah romantis sama istri sendiri? Kalau begitu bagaimana kalau kita mesra-mesraan dulu di sini sebelum masuk. Emmm itu tu." Alvino mengarahkan pandangannya ke bagian leher dada Aliya.


Aliya membulatkan matanya seraya menyilangkan kedua tangan di dadanya. "Tidak ya, memang tidak ada yang lihat tapi kalau mobil ini bergoyang, pasti orang pikirannya macam-macam."


Alvino tidak bisa menahan tawanya saat mendengar ucapan Aliya. "Hahaha, siapa juga yang mau membuat mobil ini bergoyang. Pikiran kamu sudah mulai di racuni Vina dan Viona ya?"


"Nah terus apa?"


Alvino mengeluarkan sebuah kotak segi panjang dari dasboard mobil. "Ini maksudnya." Ia membuka kotak tersebut di hadapan Aliya.


Aliya pun langsung terperangah ketika melihat sebuah kalung cantik dengan liontin inisial namanya tergantung di sana. "Kalungnya cantik sekali."


"Nah ini, maksud ku mesra-mesraan karena aku ingin memberikan kamu kalung ini dan mengalungkannya di leher mu. Sini mendekatlah."


Aliya pun langsung menyondongkan tubuhnya seraya menyibak rambut hingga leher jenjangnya terlihat begitu indah.


Alvino menelan salivanya sekuat tenaga saat pikirannya kembali melenceng ketika melihat leher Aliya yang membuatnya tergoda. "Ehm baiklah jangan bergerak ya." Ia memajukan tubuhnya lalu memasang kalung itu di leher Aliya.


Namun semerbak harum tubuh Aliya kembali membuat Alvino goyah, hingga tanpa sadar setelah selesai memasang kalung itu ia mendaratkan bibirnya di leher jenjang sang istri.


"Aaakk Mas." Sontak Aliya yang kaget tanpa sengaja menyikut wajah Alvino.


"Aw sakit." Alvino mengeluh pelan ketika merasakan nyeri pada bagian bawah matanya karena di sikut Aliya.

__ADS_1


Aliya pun nampak panik ketika Alvino menurut sebelah wajahnya dengan tangan. "Mas maaf, muka kamu sakit sekali ya?


"Coba kamu lihat wajah ku," Dengan ekspresi kesakitan Alvino kembali memajukan tubuhnya.


"Coba aku lihat, kenapa wajahnya." Aliya segera menyingkirkan tangan Alvino dan memperhatikan wajah suaminya itu.


"Bagaimana masih ganteng tidak?"


Paakkk


Satu pukulan kembali mendarat di lengan Alvino. "Mas bisa tidak sih, jangan membuat aku khawatir."


"Hehe, aku suka di khawatirkan sama kamu. Aku selalu tidak bisa menahan diri."


"ih Albino kuning menyebalkan."


Aliya segera beranjak turun dari mobil, meninggalkan sang suami karena kesal. Ia terus melangkah menjauh dari mobil tanpa memperdulikan Alvino.


Alvino pun segera turun dan mengejar sang istri. "Ayang! Tunggu."


Aliya menghentikan langkahnya dan langsung berbalik, melihat Alvino dari kejauhan. Ya ampun kenapa dia memanggil ku selebay itu, di sini kan banyak orang, batin Aliya.


Alvino menggelengkan kepalanya perlahan, ia bahkan tidak perduli lagi dengan para karyawan yang sedang berlalu lalang di dekatnya. "Kemarilah, jemput suami mu."


Astaga, dia benar-benar suka membuat ulah di depan banyak orang ya, batin Aliya.


Aliya terus menoleh kanan kiri, sungguh kakinya seolah enggan untuk beranjak menghampiri Alvino, karena semua mata melihat kearahnya saat ini.


"Kalau tidak mau ya sudah, saya ... saya duluan." Aliya kembali ke posisi semula lalu melanjutkan langkahnya.


"Ayang! Kemarilah Ayang."


Mendengar teriakan Alvino yang seolah sengaja mengerjainya, membuat Aliya mau tidak mau kembali berbalik. Ia melangkah seraya menundukkan kepalanya lalu meraih tangan Alvino.


Aliya menarik tangan sang suami agar segera pergi dari tempat itu. Alvino pun terlihat tertekekeh karena merasa lucu dengan tingkah Aliya.


~


Sesampainya di ruangan, Alvino tak henti-hentinya terus terkekeh hingga membuat Abian menatapnya dengan heran. "Kesambet kamu, ketawa-ketawa sendiri."

__ADS_1


Alvino melangkah, duduk di sebuah kursi di depan meja Abian. "Haha, aku habis mengerjai Aliya tadi. Dia benar-benar lucu sekali."


"Ck, kamu benar-benar ya. Dia itu masih sangat muda untuk menjadi seorang Nyonya. Jangan buat dia tegang terus lah."


"Satu bulan belakangan. Aku berpikir, sebentar lagi dia akan wisuda dan aku belum tau hadiah apa yang akan aku berikan untuknya." Alvino menghela napas pelan seraya menyadarkan tubuhnya.


"Kamu sudah pernah membelikan dia tas branded?" tanya Abian.


"Sudah, tapi aku malah di marahi olehnya karena menurutnya itu berlebihan. Aku benar-benar tidak mengerti apa yang dia sukai selain aku."


"Bhaha, kamu benar-benar percaya diri. Ingat, sebelum dia menyukai kamu, dia sudah mencintai Noah selama bertahun-tahun. Kalau di bandingkan kamu ya, Noah lebih muda dan keren."


Mata Alvino langsung membulat ketika mendengar ucapan sang sahabat. Bukannya memberi solusi tetapi kelebihan malah membuatnya semakin frustasi.


Brakk!


Tangan Alvino menghentak meja karena merasa tidak terima. "Hey, aku ini masih muda."


"Iya-iya maaf. Mulut ku memang suka jujur ... eh maksud ku suka sembarangan kalau ngomong. Marahi mulut ku ni."


"Aku jahit baru tau. Bawa semua berkas laporan dari pabrik sejak aku tidak masuk ke ruangan ku." Alvino pun segera beranjak lalu masuk keruangan kerjanya.


~


Noah dan Aliya saat ini sedang melangkah beriringan menuju Aula, tempat di mana mereka akan menghadiri acara perpisahan yang dibuat oleh para karyawan kantor untuk melepas masa magang mereka.


Aliya masih nampak tidak nyaman dengan tatapan semua orang yang berlalu-lalang di sekelilingnya. Logikanya pun kembali bekerja dan menganggap semua orang menatapnya seperti itu pastilah memikirkan hal negatif tentangnya.


Noah menyunggingkan senyumnya ketika menyadari sikap Aliya yang tidak biasa. "Kamu masih belum terbiasa ya?"


"Hem sangat, rasanya baru kemarin aku bingung dengan nasib sendiri tetapi sekarang saat takdirku sudah ditetapkan aku malah seperti ini. Noah, menurut kamu apa aku pantas bahagia di atas pandangan semua orang tentang hubungan ku dan Mas Alvino?"


"Kenapa masih peduli sih, yang menjalani itu kamu Al. Yang tau baik buruknya itu diri kamu sendiri. Sudahlah, sekarang bukan hanya aku yang ada di belakang kamu, tapi Kak Alvino juga, mantep kan. Wih masih tidak percaya aku punya temen istri Sultan."


Aliya menyikut pinggang Noah dengan kesal. "Haiss istri Sultan apanya, jangan bicara seperti itu lah, kesannya terlalu berlebih-lebihan."


**


Bersambung 💖

__ADS_1


__ADS_2