Jerat Hasrat Sang Calon Duda

Jerat Hasrat Sang Calon Duda
Bab.40


__ADS_3

"Hey kenapa kau berteriak? Mengejutkan saja." Alvino yang nampak kaget kembali melanjutkan aktivitas memakai celana pendek sebatas lutut yang ia temukan di dalam lemari.


Aliya masih menutup wajahnya dengan handuk yang tadi di lempar ke wajahnya. "Apa Anda tidak bisa sopan sedikit, melempar handuk sembarangan tanpa memakai apapun lagi."


"Ck, kamu seperti tidak pernah melihatnya saja. Apa bedanya saat malam tadi, bukalah penutup mata mu, aku sudah selesai berpakaian."


Aliya membuka handuk yang menutupi wajahnya. "Tentu saja beda, kalau malam itu tidak terlalu je ... ah entahlah, saya mau masak saja. Tunggu saja di sini nanti saya panggil."


"Bagaimana jika aku ingin menemanimu masak?"


"Hah, tidak boleh. Saya tidak bisa fokus nanti, yang ada masakan sayw jadi gosong."


"Apa aku begitu tampan hingga kamu tidak bisa fokus." Alvino berpose ala model di hadapan Aliya.


Hal itu membuat Aliya semakin tak percaya jika ternyata masih banyak hal yang tidak ia ketahui tentang Alvino. "Idiiih narsis sekali." Aliya menggelengkan kepalanya lalu melangkah keluar dari kamar itu.


Alvino tekekeh sendiri seraya memandangi kepergian Aliya. Entah kenapa ia merasa begitu senang dan lega karena pada akhirnya ia tidak lagi memikirkan status hubungannya dengan Aliya.


"Apa dulu aku sebahagia ini saat pertamakali menikah dengan Shela? ... Sepertinya tidak," gumam Alvino lalu merebahkan tubuhnya di atas ranjang.


~


pukul setengah sembilan pagi Alvino dan Aliya menghabiskan waktu sarapan bersama di sebuah meja kursi yang tersedia di halaman Villa tempat itu begitu sunyi dan sejuk seolah hanya merekalah yang berada di sana.


"Kenapa disini sepi sekali, apa tidak ada yang tinnggal atau berlibur di sini?" tanya Aliya lalu meraih gelas susunya.

__ADS_1


"Tidak ada, seluruh wilayah perbukitan ini adalah milik keluarga Wilson."


"Pruuuffttt, apa!" Aliya terkejut hingga menyebur seluruh susu yang baru saja masuk kedalam mulutnya kehadapan Alvino.


"Ya! Kau kenapa menyemburkan ku, ah makanan ku juga kena," ujar Alvino kesal.


"Ma-maaf, saya hanya tidak menyangka jika keluarga Anda sekaya itu." Aliya segera mengambil tisu dan membersihkan wajah Alvino. "Sepertinya Anda harus mencuci muka, kalau tidak nanti lengket. Saya memang orang yang refleks."


"Untung istri,kalau bukan sudah abis kamu," gumam Alvino.


"Hah, tadi Anda bilang apa?" tanya Aliya yang tidak mendengar dengan jelas apa yang di katakan Alvino.


"Tidak ada, duduk lah aku bisa membersihkan wajah ku sendiri."


Aliya pun kembali duduk dan menyodorkan roti bakarnya kepada Alvino. "Makan saja punya saya, Tuan. Saya bisa buat lagi."


"Tuan kenapa Anda makan yang itu?" Aliya nampak kaget karena ia dengan jelas melihat jika roti itu terkena semburan susu dari mulutnya.


"Kenapa? Semburan susu itu keluar dari mulut mu, aku tidak masalah. Kita sudah saling bertukar--"


Alvino tidak bisa melanjutkan ucapannya karena mulutnya langsung di bekap dengan tangan oleh Aliya. "Hentikan, jangan di lanjutkan. Aku tidak mau mendengarnya."


"Hahaha." Alvino tidak bisa menahan tawanya ketika mendengar perkataan Aliya. "Kamu lucu sekali, seolah kamu adalah seorang wanita polos yang tidak tahu apa-apa, padahal kamu sangat nakal di atas ranjang."


"Hentikan! Ah saya malu." Aliya menutup wajahnya dengan kedua tangan karena Alvino terus saja menggodanya.

__ADS_1


"Haha, ya baiklah. Kalau kamu sudah selesai sarapan, ayo ikut aku." Alvino berusaha mengatur napas karena terlalu banyak tertawa.


Aliya menyingkirkan tangannya dari wajah lalu kembali menatap Alvino. "Kita mau kemana?"


"Ikut saja, ayo." Alvino meraih tangan Akiya lalu menariknya melangkah menuju halaman belakang Villa.


A few moments later....


Aliya diam tertegun seraya melihat dua sepeda yang terparkir di hadapannya.


"Hey kenapa kamu bengong, ayo kita naik sepeda keliling tempat ini, di ujung sana ada danau buatan yang sangat indah, pasti kamu suka." Alvino nampak sangat antusias seolah benar-benar menikmati liburan bulan madunya bersama Aliya.


Aliya menegapkan kepalanya menatap Alvino yang saat ini sedang menunggu jawaban darinya. "Saya tidak bisa mengendarai sepeda," lirih Aliya.


Alvino mengerutkan keningnya, "Heh, kamu bilang apa, aku tidak dengar?"


"Saya tidak bisa mengendarai sepeda!" seru Aliya dengan kesal. Sejak kecil ia sudah hidup susah, bahkan untuk membeli sepeda bekas saja ia tidak bisa karena semua uang ibunya di habiskan oleh sang Ayah tiri yang suka berjudi.


"Hah! Kau ini manusia atau biri-biri, masa mengendarai sepeda saja tidak bisa, astaga." Alvino menggelengkan kepalanya saraya menatap Aliya dengan tatapan meledek.


"Huh, apa tidak bisa Anda membonceng saya saja?" pinta Aliya, karena ia memang sangat ingin mengelilingi tempat itu, selain bukit-bukit yang begitu indah di sana juga ada danau buatan yang sangat indah.


"Aku? Wah pasti aku akan sangat lelah karena membonceng wanita seberat kamu. Tapi karena aku kasihan dan iba saat mendengar kamu tidak bisa mengendarai sepeda, aku akan mengajari mu, ayo cobalah."


"Hah, belajar?" Aliya menatap Aliya Alvino dengan tatapan tak percaya.

__ADS_1


To be continued....


Jangan lupa berikan dukungan untuk Author dengan cara memberikan kembang, kopi n Vote. Gimana udah mulai uwuw nggak 😂😂


__ADS_2